MAYDAY DALAM SELUBUNG SEJARAH

Liky Ardianto
May 10, 2017 · 15 min read
The Anarchist of Chicago oleh Walter Clane

Izinkan saya membuka tulisan ini dengan sebuah anekdot tidak lucu, bahwa adzab sejarah paling keji bagi seorang anarkis adalah diingat sebagai aktivis buruh setelah kematiannya.

Chicago, 4 Mei 1886

Ribuan buruh chicago (beserta ratusan ribu buruh di seluruh penjuru amerika serikat), kebanyakan adalah pekerja industrial imigran keturunan jerman dan bohemia — sebuah daerah di republik cekoslovakia — berkumpul di lapangan haymarket, aksi tersebut adalah aksi lanjutan dari demonstrasi-demonstrasi sebelumnya, menuntut 8-jam kerja dan protes pada insiden penembakan di pabrik McCormick’s Reaper yang menyebabkan kematian dan korban luka oleh polisi.

Aksi yang semula berjalan damai itu, dalam sekejap berubah chaos setelah sebuah bom rakitan dilemparkan (oleh seorang atau sekelompok yang hingga kini identitasnya tidak pernah benar-benar diketahui) ke arah barisan polisi yang “menjaga” demonstrasi — sebuah event yang kelak terlupakan dan menghilang dalam bayang-bayang pembenaran sejarah gerakan buruh — , hanya butuh waktu sekejap untuk kerumunan polisi dan demonstran melebur dalam kepanikan mengerikan, lalu, tanpa dikomando, desing tembakan demi tembakan bersahutan dari corong revolver polisi dan demonstran yang membawa senjata.

7 orang polisi dan 4 orang demonstran meninggal, setidaknya seratusan lainnya dari kedua belah pihak terluka dalam baku tembak dan kekacauan yang dikemudian hari kita kenal sebagai haymarket affair, kejadian ini lalu dianggap sebagai loncatan monumental gerakan buruh bukan saja di amerika serikat namun juga seluruh dunia, yang kemudian kita rayakan setiap tahunnya lewat parade-parade dan ritual penghormatan bertajuk Hari Buruh Internasional.

Hal-Hal Setelahnya

Setidaknya ratusan pekerja ditangkap dan diperiksa, organisasi buruh dan kelompok-kelompok Anarkis yang diduga bertanggung jawab atas konspirasi dan perencanaan aksi teror dibekuk dan diawasi, polisi melakukan penangkapan-penangkapan pada orang-orang yg dicurigai anarkis — seringnya non-prosedural dan tanpa pandang bulu — , tak terbatas pada anarko, aktivis-aktivis buruh pun menjadi target diskriminasi, pertemuan-pertemuan serikat diserang dan dibubarpaksa, pun begitu dengan reaksi media, koran-koran seantero amerika membuat kegaduhan dan memancing kepanikan publik dengan menulis tentang “bahaya anarkisme yang mengancam tatanan masyarakat Amerika”, Chicago Tribune menyebut insiden tersebut sebagai “A Hellish Deed”, menyetir kemarahan warga untuk menuntut balas atas “tindakan-tindakan anarkis yang pengecut”.

Pemberitaan media yang memberi highlight berlebih pada latar belakang imigran para anarkis memancing sentimen-sentimen xenofobia dan rasisme, memulai apa yang kemudian oleh sejarah disebut The First Red Scare di tanah Amerika, grup-grup radikal didiskriminasi, komunitas imigran terutama pekerja-pekerja jerman dan bohemian di chicago dicurigai dan menjadi target kebencian rasial dan sentimen anti-imigran, sentimen anti-pekerja dan anti-serikat juga memuncak karena dianggap menyebar ide-ide sosialis yang tidak-demokratis dan merusak stabilitas sosial. Namun, yang boleh dikatakan menggelikan, kutukan dan sumpah serapah tidak hanya keluar dari mulut-mulut para pemangku kuasa dan masyarakat penikmat kenyamanan, tapi juga dari sesama kelas pekerja dan serikat-serikatnya. Serikat-serikat moderat dengan cekatan berkelit dan menolak diasosiasi dengan gerakan-gerakan anarkis dan taktik kekerasan, menyebut pemboman tersebut dan taktik-taktik kekerasan sebagai self-defeating, menodai dan sungguh merugikan gerakan perjuangan kelas pekerja.

8 orang Anarkis : Albert Parson, August Spies, Michael Schwab, Samuel Fielden, George Engel, Adolph Fischer, Oscar Neebe dan, Louis Lingg, dijadikan tersangka, ditahan untuk diadili dalam pengadilan yang jauh dari kata adil dan tidak bias, tiada dari ke delapannya benar-benar terbukti sebagai pelempar bom atau konspirator, ke-delapan orang anarki dihukum semata karena ideologinya tanpa benar-benar terbukti bersalah atas kejahatan apapun. Kejadian setelahnya, secara singkat, kira-kira selaras dengan sejarah populer yang bisa kita baca saat ini. 3 dari 8 orang terdakwa dibebaskan karena kekurangan bukti, satu orang mengakhiri hidupnya sendiri didalam sel tahanan, sementara 4 lainnya, dibantai di tiang gantungan, sejarah mengangkat derajat ke-empatnya pada posisi yang teramat agung, para martir haymarket, anarkis — setidaknya, begitu mereka disebut sampai apropriasi perjuangan kelas pekerja menghilangkannya dari sejarah — dari chicago.

Spontanitas atau Konspirasi ?

3 Mei 1886, demonstrasi diluar pabrik perusahaan manufaktur McCormick’s Harvester Company menuntut 8 jam kerja sekaligus aksi solidaritas berubah kelam ketika insiden penembakan oleh polisi menewaskan satu orang demonstran (catatan lain menyebut dua, sementara beberapa koran menyebut setidaknya enam orang pekerja McCormick’s tewas ditembak polisi yang menjaga barikade pabrik), August Spies, anarkis dan editor surat kabar serta salah satu terpidana mati yang saat itu juga mengikuti dan menyaksikan langsung insiden tersebut, setelah kejadian menulis pamflet berjudul “revenge circular”, menyerukan kelas pekerja untuk mempersenjatai diri mereka, menuntut balas dan menyerang balik. Sehari sebelum haymarket, asosiasi serikat kerja chicago bersama dengan faksi radikal dan anarkis mengadakan rapat-rapat merencanakan aksi protes pada tanggal 4 mei di lapangan haymarket, Adolf Fischer, seorang anarkis lain, mencetak pamflet mencantumkan arahan untuk demonstran datang dengan membawa senjata api, menulis “Workingmen Arm Yourselves and Appear in Full Force!”. walau kemudian pamflet tersebut direvisi dan tulisan provokatif itu dihapus. pamflet-pamflet ini yang secara ironis menjadi bukti pemberat di pengadilan untuk menghukum terdakwa atas tuduhan konspirasi teror dan dengan sengaja merencanakan perlawanan terhadap negara, mengantar ke-delapan anarko ke depan tiang gantungan.

flyer balas dendam, dicetak setelah insiden McCormick’s reaper
Flyer asli demonstrasi Haymarket, menyerukan agar demonstran bersiap dengan senjata, sebelum direvisi

Empat mei, demonstrasi dan protes di lapangan Haymarket berlangsung semula dengan damai, Spies, Parson, dan Fielden bergantian memberikan orasi, pidato Fielden yang menutup aksi tersebut sebelum insiden pemboman, menjadi sorotan dan kontroversi sendiri, surat kabar seperti The NewYork Times, bedasarkan pengakuan saksi mata dan beberapa kesaksian polisi, mengklaim orasi fielden menyerukan kekerasan, memancing sepasukan polisi untuk mendatangi podium dan menyuruhnya turun serta membubarkan massa, apapun, tepat setelah fielden turun dari podium dan massa mulai membubarkan dirinya, sebuah bom dilemparkan ke arah polisi, memulai tragedi sebagaimana kita kenal.

Spekulasi mengemuka menyoal identitas pelempar bom yang tetap tak diketahui hingga hari ini, sejarawan seperti Messer-Kruse dan Howard Zinn, menuding Rudolph Schnaubelt, saudara ipar seorang terpidana Michel Schwab yang berada di lokasi saat kejadian, namun kemudian melarikan diri keluar negeri. Beberapa aktivis keturunan Jerman lain turut menjadi tersangka potensial, sementara Parson menuding provokator, mole dan agen Pinkerton sebagai pelaku pelemparan bom, yang — secara ironis — dibantah justru oleh istrinya sendiri Lucy Parson, mengatakan bahwa mengatribusi pemboman Haymarket kepada agen Pinkerton adalah sebuah penghinaan besar bagi perjuangan aktivis dan anarkis, klaim ini juga inkonsisten dengan pengakuan beberapa aktivis yang mengklaim bahwa pelaku pemboman adalah salah satu dari mereka.

Louis Lingg, salah satu terdakwa, pembuat bom, dan salah satu kandidat kuat pelaku, menyanggah dengan alibi bahwa ia sedang berada di rumahnya, membuat bom untuk digunakan saat protes Haymarket saat waktu kejadian (juga mengklaim bahwa bom buatannya jauh lebih bagus dari bom yang meledak di haymarket).

Perkara yang Tidak Pernah Dibahas

Tak tersangkal, bahwa haymarket affair dan eksekusi keempat anarkis chicago, menjadi katarsis dalam sejarah perjuangan kelas. Kemiskinan Gilded Age amerika serikat menjadi rahim bagi politik anarkisme radikal dan haymarket adalah suar yang membuka banyak visi revolusioner baik anarkis maupun komunis generasi setelahnya. Internasional kedua menetapkan 1 mei sebagai Hari Buruh Internasional, sekaligus sebagai sebuah penghormatan bagi para martir Chicago secara khusus, juga perjuangan kelas pekerja seantero Amerika di era the great upheaval, dengan 8 jam per-hari kerja sebagai artefak pengingat kelas pekerja dimanapun. namun, sejarah yang dikumandangkan dalam hikayat-hikayat perjuangan kelas pekerja bukanlah tanpa persoalan.

Selama seratus tahun setelahnya, Penulisan sejarah menyoal Haymarket cenderung bias dan sepihak, mereka yang mendaku sejarawan, secara umum bersepakat bahwa keempat martir haymarket, tewas sebagai yang terdzalimi, korban tak berdosa pengadilan yang bias dan terhukum yang mati atas hal-hal yang tidak pernah dilakukannya, kisah tersebut kemudian di-kanonisasi sebagai kebenaran tidak terbantah yang dipahat diatas batu, untuk kemudian diimani dengan penuh keteguhan dan ketaatan luar biasa. Sedikit, studi historis yang cukup berani menggugat kepercayaan dan mitos-mitos kelas pekerja, mempertanyakan romantisasi seronok yang berlebihan akan masa lalu, serta status “tanpa dosa” para santo-santo haymarket.

Adalah Timothy Messer-Kruse, salah-satunya, yang mencoba menceritakan kembali kisah-kisah Haymarket dalam kacamata revisionisme, Messer-Kruse adalah seorang sejarawan Amerika serikat yang secara khusus mengkaji tentang sejarah buruh dan kelas pekerja, namun berbeda dari preferensi yang disukai baik cendekiawan kiri maupun Massa dengan M besar, Kruse bukanlah seorang “sejarawan kiri” atau “sejarawan Marxist” seperti halnya Walter Benjamin, ia adalah seorang Liberal. Dua buku publikasinya, The Trial of the Haymarket Anarchists: Terrorism and Justice in the Gilded Age, dan The Haymarket Conspiracy: Transatlantic Anarchist Networks, secara komprehensif mengkaji sejarah Haymarket Affair dari sumber-sumber primer yang ditelitinya. Sekarang, saya hanya akan membahas sedikit saja dan tidak akan terlalu detail membahas konten keduanya untuk menyelamatkan kita semua dari kebosanan yang tidak perlu (termasuk saya dalam menulis tulisan ini).

Buku yang disebut terakhir, secara esensial membahas genealogi ideologis dan sejarah intelektual dari asal-muasal, persebaran dan implikasi dari konsep — secara partikual — propaganda of the deed, direct action dan tendesi ilegalis — yang populer secara strategis dan filosofis — anarkisme politik tahun 1880an yang — mengutip Messer Kruse — bermula di eropa dan mati di Haymarket. Secara khusus, mengkaji tautan gerakan anarkisme radikal di amerika serikat dengan konsep dan ide-ide politik radikal di eropa (lebih spesifik, Inggris dan Perancis) sebagai landasan ideologis dan filosofis utama yang mendasari konspirasi Haymarket, lebih lanjut mengamini narasi-narasi Red Scare Amerika serikat tentang “Ideologi radikal yang diimpor dari benua asing yang membahayakan tatanan masyarakat Amerika”, ini menyimpulkan bahwa para konspirator haymarket memiliki motif lebih dari cukup untuk melakukan aksi pemboman haymarket sebagai bentuk praksis dari Propaganda of the deed yang merupakan salah satu doktrin utama politik anarkisme radikal, dan bahwa Red Scare yang dilakukan negara pada saat ini adalah valid dan dapat dibenarkan.

Buku pertama, lebih spesifik mengkaji proses peradilan para terdakwa haymarket, Messer-Kruse setidaknya mencoba menawarkan dua point penting dalam buku ini : pertama, ia mempertanyakan romantisasi para martir dan tereksekusi yang melahirkan bias sejarah dalam mengkaji fakta-fakta tentang haymarket, Messer-Kruse menolak kanonisasi sejarah mainstream yang memotret anarko chicago sebagai korban tak bersalah, kita bisa tidak setuju pada argumentasinya bahwa peradilan yang didapat ke-delapan terdakwa telah berjalan dengan adil terlepas dari bias luar biasa dalam jalannya peradilan, bias politis para jaksa, juri, serta penyidik, namun ia menunjukkan bahwa putusan pengadilan bukanlah tanpa bukti sama sekali, Kruse berkesimpulan bahwa adalah sangat mungkin para terkdakwa memang melakukan konspirasi untuk melakukan aksi teror, maka jikapun bukti-bukti yang menunjukkan salah satunya sebagai pelempar bom tidak ditemukan, aman untuk mengasumsikan para terdakwa sebagai kolaborator (dari bukti-bukti yang ditemukan seperti pengakuan Lingg yang membuat bom untuk digunakan dalam aksi protes, flyer-flyer asli sebelum 4 mei serta sikap non-kooperatif para terdakwa dan pengacaranya yang tidak berusaha membantah tuduhan penuntut dengan serius alih-alih membenarkan aksi pemboman tersebut dengan argumentasi politis) ini berarti bahwa putusan pengadilan adalah valid dan telah benar secara prosedural terlepas dari bias-bias yang ada. Poin Kedua, Messer-Kruse mengkritik keras sejarawan-sejarawan dan studi Haymarket sebelumnya secara umum yang hanya terfokus pada unfair trial dan narasi ketidak-bersalahan para anarko chicago namun secara ajaib dan keengganan yang amat sangat memperhitungkan kemungkinan aksi teror dan kekerasan — sebagaimana laiknya konsepsi propaganda of the deed — sebagai strategi praksis utama yang juga diimani para Anarkis Chicago.

Dapat dengan mudah ditebak, penerimaan atas kedua bukunya, terutama dari para pemikir kiri dan aktivis buruh tidak begitu menghibur lagi menggenakkan, tulisannya mendapat banyak respon negatif bermotif ideologis dari kalangan sejarawan kiri, tidak sedikit yang mencerminkan kemalasan pikiran dan resistensi idealistis yang tak masuk akal pada skeptisisme, tulisannya diserang atas sebab “kebohongan”dan fitnah keji pada gerakan aktivisme buruh maupun anarkisme dengan menyajikan imaji Anarko Chicago — pejuang dan pahlawan kelas pekerja yang mati demi kesejahteraan kaumnya — tak ubahnya seperti gerombolan kriminal dan radikal berdarah dingin yang tak segan menggunakan kekerasan dan aksi teror demi pencapaian tujuan-tujuan ideologisnya, bertentangan dengan dongeng-dongeng romantik yang diceritakan pada mereka.

Tentu kita boleh menolak argumen Messer-Kruse bahwa segala bentuk pemberontakan yang mengancam dan berbahaya bagi kelanggengan negara mestilah ilegal dan diperlakukan dengan prejudis. Messer-Kruse, bagaimanapun, sebagai seorang sejarawan dan pemikir liberal dan warga amerika yang baik yang teguh memegang hukum amandemen pertama sudah barang tentu resisten terhadap advokasi revolusioner dan ide-ide pemberontakan (dengan kekerasan — terlebih lagi), dapat dengan aman diasumsikan kajiannya boleh jadi didasari dengan intensi dan preposisi yang demikian. namun kita tetap tidak bisa mengindahkan fakta bahwa bagaimanapun juga, tulisan revisionisme sejarahnya memberikan kebaruan akademik yang kompetitif akan realita sejarah yang kadung dibungkus bingkai kebohongan intelektual.

Sejarah Ditulis Oleh Para Demagog

Tahun 1893, sebuah patung monumen dibangun tepat diatas kuburan para martir, diinisiasi oleh The Pioneer of Aid and Support Association, organ yang didirikan dengan tujuan membantu anarkis di amerika yang dipenjara dan dipersekusi, sebagai dedikasi atas memori para martir chicago, dengan kata-kata terakhir August Spies terukir di fondasi batu granitnya, Seabad setelahnya, 1970, pemeliharaan dan pengurusan monumen tersebut, beserta kuburan para martir yang sejak 1990-an ditetapkan sebagai National Landmark History of Illinois dipegang oleh ILHS, lembaga edukasi dan sejarah buruh non-profit Illinois, monumen yang kemudian menjadi suar pengingat kemartiran para anarkis yang digantung karena ideologinya, dan inspirasi bukan hanya bagi radikal dan anarkis setelahnya, namun juga gerakan buruh secara umum, namun, kita bisa melihat bagaimana rekognisi ini menjadi problematis bukan hanya untuk apa yang dikatakannya, tapi juga apa yang tidak.

Simak bagaimana plakat pemerintahan Illinois menulis depiksi tentang para martir chicago “ This monument represents the labor movement’s struggle for workers’ rights and possesses the history of the United States.”. Seolah tidak cukup dengan membunuh mereka di tiang gantungan, namun juga menjatuhkan penghinaan yang amat besar dengan menutup-nutupi faktisitas ideologis yang dipercaya para martir dalam selimut semantik dan kata-kata yang diaproriasi. Dedikasi macam apa yang hendak diberikan pemerintahan yang dengan tangannya sendiri membunuh kedelapan anarkis tersebut, lalu memberikan plakat serupa lelucon bersandingan dengan monumen diatas tanah kuburan dimana mayat para anarkis itu terbaring, tepat dimana Lucy Parson menangisi peti mati suaminya sembari terisak “mereka (negara) telah membunuhmu!” ? bahkan tidak ada satu kata anarkis-pun, dipatri untuk menyebut para martir.

Selama berdekade-dekade, alih-alih menyajikan fakta sejarah yang jujur sebagimana seharusnya sejarah ditulis, narasi yang dikisahkan tentang kedelapan anarkis yang digantung di chicago , dipenuhi oleh bias disinformasi, kooptasi, dan apropriasi yang mesum dan menjemukan yang sialnya, ditulis oleh para sejarawan, intelektual, dan akademisi yang mendaku dirinya adalah seorang “kiri”, para aktivis buruh dan komunis yang mengklaim dirinya pemangku tongkat estafet dan warisan semangat para anarkis chicago. Lihatlah bagimana, dalam orasi-orasi maha banal tahunan saat Mayday, para martir ini dipuja dan dielu-elukan dengan karakterisasi yang begitu merendahkan, bagaimana sejarah perjuangan kelas pekerja dengan tiada malu-malunya menyebut Parson, Spies, Engel, dan Fischer — selain juga ke-empat lainnya yang diampuni dan bunuh diri — sebagai “aktivisi buruh” yang mati demi “kesejahteraan pekerja”, “kerja 8 jam” dan “perlindungan hukum kaum buruh”. Tidak sekalipun, anarkisme dan kepercayaan para martir akan penghancuran totalitas masyarakat kapital disebut-sebut sebagai motor yang menggerakkan pertarungan revolusionernya.

Orang kiri, para akademisi dan sejarawan demagog, para aktivis buruh yang dalam dirinya tersimpan keimanan luar biasa akan pentingnya gerakan kelas pekerja yang melihat haymarket sebagai kejadian monumental dalam sejarah perjuangan kelas, merasa wajib menyajikan ulang sejarah sebagaimana dikehendakinya, yang bersesuaian dengan kepentingan-kepentingannya, termasuk menjejalkan para revolusioner haymarket kedalam bagian dari mereka, membentuknya serupa dengan imaji-imaji mereka.

Kelas pekerja, sebagaimana hadir dalam imaji-imaji para aktivis buruh dan kiri cupet ini, mestilah mereka yang dipenuhi kemalangan tak tertara hidupnya, seperti orang-orang suci dengan hati bersih yang teraniaya, kaum papa tanpa daya, agar bisa mereka angkat dari liang nista penindasan kelas penguasa kedalam kemuliaan. Maka ia harus benar-benar bersih dari dosa, delusi mesianik dan kepatronan tidak mengizinkan depiksi kelas pekerja sebagai seorang kriminal bengis, yang tak segan menggunakan kekerasan dan resistan pada kompromi, kecuali atas seizin mereka. Maka tak perlulah diherankan bagaimana serikat buruh Chicago juga yang kemudian membeo narasi-narasi first red scare dengan menyebut pemboman haymarket sebagai sebentuk self-defeating yang merugikan perjuangan buruh, atau bagimana kaum kiri lokal kita menggerutu ketika segerombol demonstran buruh mayday membakar karangan bunga bagi gubernur musuh kaum miskin, sebab yang demikian tidak mencerminkan potret perjuangan buruh yang berbudi. Begitu pulalah para martir haymarket, lewat perhitungan dingin revisionisme sejarah, dipahat dan ditulis ulang sedemikian rupa agar dapat diterima — atas nama persatuan kelas pekerja — oleh serikat pekerja yang paling moderat sekalipun, segala kemungkinan-kemungkinan yang mentautkan para anarkis ini dengan ideologi radikal dan penggunaan kekerasan mesti ditutup-tutupi seperti borok di wajah, termasuk faktisitas bahwa para anarkis ini, boleh jadi bahkan tidak benar-benar tertarik dengan kesejahteraan kelas pekerja dibawah rangka bangun kapitalisme, maupun berjuang bagi upaya-upaya reformistis sedikitpun. mereka harus sebenar-benarnya tanpa dosa, dan apa yang menimpa mereka di akhir hidupnya adalah tak lain kezaliman maha kejam dari rezim kuasa, inilah sebab pembacaan para sejarawan kiri, rela mengkhianati bahkan kode etik profesionalnya sendiri dengan bias ideologis ketika menyoal para martir haymarket, menyajikan sejarah yang bersesuaian dengan narasi perjuangan kelas pekerja alih-alih mengkisahkan masa lalu sebagaimana laiknya seorang sejarawan.

Maka jadilah — dengan kecupetan luar biasa khas orang-orang fasik — kedelapan anarkis ini aktivis kelas pekerja yang serupa dengan mereka : advokat kesejahteraan yang berjuang bagi kepentingan buruh, bagi 8 jam perhari dan hak-hak demokratis pekerja.

Para Martir Itu Adalah Anarkis

Pada titik ini, revisionisme sejarawan liberal seperti Timothy Messer-Kruse — terlepas apapun intensi kontrarevolusioner dibelakangnya — menangkap potret para para anarkis dengan lebih adil, setidak-tidaknya, tanpa ditutupi tabir moralitas kelas pekerja, saya mungkin harus lebih sepakat dengan Messer-Kruse yang menyebut para martir “pengikut Bakunin oportunis yang membajak perjuangan buruh demi tujuan-tujuan revolusionernya, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan pada isu-isu buruh”. para Anarkis Chicago, adalah revolusioner yang berjuang untuk keruntuhan totalitas masyarakat kapital, publikasi-publikasi The Alarm, ataupun Arbeiter-Zeitung — media yang dioperasikan oleh martir haymarket dimana Spies salah satu editornya — mengindikasikan penolakan-penolakan mereka — baik frontal maupun subtil — pada upaya-upaya reformis dan unionist, dan posisi politisnya pada gerakan 8 jam kerja dan kenaikan upah, sebagai sesuatu yang harus dilihat dengan skeptisisme dan tidak bisa dipercaya.

Albert Parson, pada tahun-tahun awal gerakan 8 jam kerja, ketika ia masih aktif IWPA, adalah seorang penentang gerakan tersebut, menyebutnya sebagai manuver reformis dan tidak berguna, simak beberapa kutipan-kutipan publikasinya yang ditulis tahun 1885.

August Spies, walau lebih simpatik dan tidak secara frontal menolak gerakan 8 jam, tetap menganggap bahwa gerakan tersebut tidak berguna, tidak akan merubah kondisi buruh sedikitpun sebagai “a slave to their capitalist master” seperti sebelumnya pun ketika tuntutan tersebut dipenuhi. Fielden mengambil posisi yang kurang lebih sama, walaupun tidak menolak sepenuhnya manuver-manuver reformis seperti halnya Parson, ia juga menolak percaya pada gerakan 8 jam kerja.

Hingga akhir 1885, kelompok IWP seperti Parson dan Spies masih merupakan oposisi yang berseberangan dengan gerakan 8 jam kerja, memandang gerakan tersebut tak ubahnya kekanak-kanakan, kompromis, dan mengalihkan isu kelas pekerja dari perjuangan yang seharusnya : melawan kapitalisme dan membangun masyarakat baru yang berbasis kooperasi. Parson, dalam publikasi The Alarm desember tahun 1885, dengan jelas menuliskan sikap politis the internasional terhadap gerakan 8 jam kerja :

Memang, pada akhirnya, melihat gerakan 8 jam kerja yang justru semakin besar dan populer memasuki awal-awal tahun 1866, para anarkis ini kemudian melunak dan membiarkan alternatif lain menyetir arah pergerakan radikalnya, tidak mau terisolir dari gerakan sosial kelas pekerja, internasional seperti Parson dan Spies mulai masuk ke dalam kampanye-kampanye 8 jam kerja, dengan tetap mengambil sikap oposisi skeptis, namun mengakui bahwa perkembangannya yang membesar membuatnya menjadi penting bagi revolusi sosial, kesempatan bagi munculnya revolusi sosial dan radikalisasi kelas pekerja dalam melawan kapitalisme. menganggap bahwa arus protes seantero negeri sebagai “the harbinger of great upheaval”, kuda trojan dalam memercikkan revolusi bersenjata, ini bisa dibuktikan — berkat kemampuan agitasi dan organisasi Parson dan Spies yang baik — bagaimana upaya para anarkis chicago menyemen nilai-nilai radikal dan advokasi pada perjuangan bersenjata dan aksi-langsung dalam gerakan 8 jam kerja di chicago. Sebuah manuver politik oportunis yang kita bisa saja kritik, karena pada akhirnya tetap percaya bahwa ada potensi radikal pada kelas pekerja dan serikat.

Bukan sama sekali 8 jam kerja atau kenaikan upah, yang diperjuangkan oleh para martir haymarket yang mati ditiang gantungan itu, karena berapa jam pun seorang manusia bekerja, ia tetap akan menjadi budak dalam totalitas moda produksi, bahwa kapitalis tak mempunyai hak bahkan satu menitpun atas keringat dan kerja kelas produsen, bukan juga, hak-hak demokratis buruh, namun penghancuran total masyarakat kapital, bukan juga perlindungan hukum dan legislasi pro-buruh, tidak dalam mimpipun para martir ini enggantungkan hidupnya pada pengharapan akan hukum dan kuasa. Para anarkis chicago menjadi martir karena ideasinya akan tatanan masyarakat baru, bukan untuk serikat-serikat pekerja, dengan cara apapun dan taktik apapun, mereka akan memeluk terorisme dan aksi kekerasan sebagai propaganda of the deed yang esensial dalam meraih tujuan-tujuan politiknya, fakta sejarah yang terlampau jijik diakui oleh aktivis gerakan buruh yang mengklaim penerus perjuangan para martir dari chicago dan memilih memendamnya dalam kuburan semantik. Memasung para revolusioner radikal ini dalam bingkai ingatan sebagai “aktivis” pejuang hak-hak buruh, memaknai Mayday secara vulgar tak lebih dari sebatas reenaksi gerakan-gerakan reformis yang dengan tegas dialwan para martir haymarket yang namanya dikumandangkan tiap 1 mei dimanapun oleh revolusioner dipenjuru bumi, tak ubahnya sebuah kebutaan sejarah akut dan kejahatan historis yang tak termaafkan.

G.L Doebler — mengutip kata-kata terakhir para anarkis haymarket, sesaat sebelum hukum kelas penguasa mencabut nyawanya — menulis dengan indah dalam artikelnya The Contest for Memory: Haymarket Through A Revisionist Looking Glass :

Sebutlah mereka dengan sebutan-sebutan paling buruk yang bisa kamu pikirkan, alih-alih kalimat pemujaan bersayap, plakat penghargaan dan monumen-monumen serta selebrasi tahunan pengingat perjuangan mereka, namun mengubur ideasi para anarkis haymarket dan — lebih parah — kebenaran sejarah. Parson, Spies, Fischer, Engel,Schawb, Neebe, Lingg, Fielden, adalah gerombolan penjahat, kriminal, perusuh, ilegalis, teroris, pembunuh, radikal, mereka adalah anarkis, mereka tidak berjuang dan mati untuk 8 jam kerja.