Lilylilacc
16 min readSep 24, 2022

183— Date night with mas gguk, part 2.

cw // panic attack.

p.s It's almost 4000 words! I really thought about it, hope you guys enjoy it! Please leave me a message if you like this part, happy Saturday night!

Jeongguk menatap Taehyung didepan sana, tertawa kecil, ia terlihat sangat antusias. “Mas gguk ayo!” Teriaknya dengan senyum kotak dan melambai-lambaikan tangannya pada Jeongguk.

“Pelan-pelan.” Kata Jeongguk lembut, menatapnya sayang. “Nanti hilang terus diculik, mau?”

“Memangnya bisa ya?” Taehyung mengangkat sebelah alisnya, menatap Jeongguk tidak yakin.

“Bisalah, Tae jangan jauh-jauh makanya.” Taehyung tidak membalas namun menarik tangan Jeongguk cepat.

“Ayo mas gguk.”

“Mas gguk kenapa lambat sekali sih?”

“Pegang tangan Tae yang erat, mas gguk.”

“Mas gguk, itu mereka sedang apa?”

“Ramai sekali.”

“Mas gguk, Tae ingin itu.” Telunjuknya menunjuk karangan bunga yang melingkar seperti mahkota. Tampak sangat cantik dengan berbagai warna dan daun-daun mengelilinginya.

“Iya, ayo.” Jeongguk mengangguk, menurutinya.

“Bagaimana mas gguk?” Jeongguk menatapnya, Taehyung mengangkat flower crown itu tepat didepan wajahnya. Ia tersenyum lebar pada Jeongguk. “Cocok tidak? Tae lucu?” Katanya sambil tertawa.

Jeongguk menahan napasnya dan mengangguk. “Cantik, sangat cocok.” Balasnya dengan senyuman. “Tae mau memakainya?” Taehyung mengangguk, kemudian menggeleng. “Tidak deh, nanti jatuh dan rusak.”

Jeongguk menaikkan alisnya, namun mengiyakan. “Ingin mas gguk bantu membawakannya?”

Taehyung menggeleng. “Tidak usah mas gguk, terima kasih ya.”

Taehyung bermain-main, bersenandung dengan lompatan kecil saat ia melangkah dan Jeongguk bersamanya, berdiri disamping memperhatikannya. Ia tampak bahagia dan cantik, tertawa lebar melihat anak kecil berlarian disekitarnya.

“Tae lelah.” Sungutnya, ekspresinya tampak sebal dengan bibir yang dipoutkan dan Jeongguk tertawa melihatnya, mereka duduk setelah mendapatkan kursi yang kosong, sulit sekali menemukannya.

“Tae senang?” Taehyung mengangguk dan tertawa kecil.

“Sangat senang, terima kasih mas gguk.” katanya, jemarinya mengelus telapak tangan Jeongguk lembut.

Matanya berpendar kepenjuru lain, mengamati sekitar. Ia berbinar-binar dengan mulut terbuka, berdecak penuh kekaguman.

“Tae ingin itu mas gguk!”

“Ayo mas gguk, Tae ingin itu.” Taehyung berdiri dan langsung berlari pada tenant didepannya. Jeongguk menghela napas, menggelengkan kepalanya dan berdiri menyusul Taehyung.

Taehyung menoleh saat Jeongguk sudah berdiri disampingnya, ia menarik lengan baju Jeongguk sambil menunjuk permainan menembak balon yang melingkar itu. “Tae ingin bonekanya.”

“Terus?” Balas Jeongguk main-main, menggodanya.

“Bolehkah Tae mendapatkan bonekanya mas gguk?” Pintanya penuh harap, menatap Jeongguk. “Tae ingin bonekanya.” Ulangnya lagi.

“Iya boleh.” Taehyung terkekeh senang, mengucapkan terima kasih dan bersorak menyemangati Jeongguk.

“Mas gguk, tinggal tiga balon lagi.”

“Dua lagi, ayo semangat mas gguk.

“Kita mendapatkannya!” Pekiknya dan melompat memeluk Jeongguk secara tidak sadar, reaksi alami tubuhnya dan Jeongguk refleks melepaskan pistol yang berada digenggamannya dan mengangkap Taehyung.

“Astaga Taehyung.” Decaknya namun Taehyung tertawa, melepaskan diri dari Jeongguk.

“Tae ingin boneka yang berwarna abu-abu.” Katanya menunjuk boneka yang berada disudut paling kanan.

“Terima kasih ya.” Ucapnya saat menerima boneka dan memamerkannya pada Jeongguk. “Lihat ini, lucu kan?”

“Tae suka tidak?” Taehyung mengangguk, membawa boneka itu kepelukannya. “Tae memberinya nama Kookie.”

“Kenapa begitu?”

“Karena mas ggukie yang mendapatkannya, ini terdengar seperti nama Jeonggukie~ Kookie~ ” Sahutnya terkikik menatap Jeongguk. Jeongguk tersenyum menatapnya dengan sayang, tangannya terangkat untuk mengelus puncak kepala Taehyung seraya mengangguk.

“Tae mau apalagi, hm?” Gumamnya.

“Ingin permen kapas. Mas gguk, boleh ya?”

“Tentu, ayo bear.” Jeongguk menarik pergelangan tangan Taehyung lembut. “Bisakah kita membeli yang banyak?”

Jeongguk mengerinyitkan dahinya, “Banyak-banyak buat apa?”

“Ya karena Tae sukalah, apalagi memangnya?”

“Satu aja ya?” Tawar Jeongguk lembut. “Nanti yang lain kehabisan bagaimana?”

“Tapi Tae menginginkannya.” Ucapnya cemberut dengan bibir yang dipoutkan. “Dua deh, bagaimana?”

Jeongguk tertawa kecil. “Habis emangnya?”

"Ya kalau tidak habis bisa dibawa pulang kan?" Balasnya sambil tertawa. "Mas gguk bantu Tae menghabiskannya lah, memangnya tidak ingin?"

Jeongguk menggelengkan kepalanya, "Ngga suka yang manis-manis, Tae aja ya? Kalau mau beli dua, gapapa, ayo."

"Boleh mas gguk?" Tanya Taehyung, matanya berbinar menatap Jeongguk.

Jeongguk mengangguk, "Iya boleh."

"Benarkah?"

"Yes baby, let’s go." Taehyung merona, berbalik dengan pipi menggembung karena panas diwajahnya.

"Terima kasih ya mas gguk." Bisiknya menahan senyuman.

*

Note(s) - please listen 10,000 hours JK cover when read this. :)

“Tae suka naik bianglala.” Bibirnya berdecak penuh kekaguman, entah untuk yang keberapa kali ia menggumam penuh semangat. Jeongguk menuruti saat Taehyung berujar ingin naik bianglala, menikmati pemandangan dari atas dengan permen kapas yang berada digenggamannya.

“Ini seru, Tae merindukan ini.”

“Tae pernah naik bianglala?”

Taehyung menoleh sambil memakan permen kapasnya, ia mengangguk. “Tentu saja pernah, tapi sudah lama sekali. Tae lupa itu kapan.” Balasnya mengangkat bahu.

Jeongguk hanya menatapnya, tidak melepaskan pandangan pada Taehyung yang tengah melihat kesamping seraya mengemut permen kapasnya. Ia tampak sangat bahagia, tampak cantik karena senyuman yang tidak pernah lepas dari bibirnya.

“Mas gguk benar tidak mau ini?”

Jeongguk menggeleng. “Tae saja.” Tolaknya dengan senyum kecil.

“Ayo coba sedikit saja, ini Tae sudah mengulurkan tangan loh.” Ucapnya memaksa dengan tangan mengantung, mengulurkan permen kapasnya pada Jeongguk. “Buka mulutnya, Tae suapi.”

Jeongguk tertawa dalam hati dan membuka mulutnya. Taehyung terkekeh dan melihat Jeongguk senang. “Jadi?”

Jeongguk menaikkan alisnya, “Jadi apanya?”

Taehyung berdecak, “Jadi bagaimana rasanya?”

“Oh, ya, manis?” Jeongguk membalas tidak mengerti.

“Yah, seharusnya mas gguk bilang kalau ini enak dan mas gguk ingin lagi.” Seru Taehyung tidak terima. “Mau lagi tidak?” Tawarnya main-main dengan menggoda.

“Untuk Tae saja.” Taehyung menyerah saat Jeongguk menggelengkan kepalanya lagi.

“Tae mengantuk.” Ujarnya menguap pelan dan menatap Jeongguk. “Tae tidak ingin tidur dulu, mas gguk ayo ceritakan sesuatu.”

“Tae ingin dengar cerita apa? Sebuah dongeng?”

Taehyung menatapnya sebal. “Tae ini bukan anak kecil lah mas gguk, ceritakan tentang mas gguk. Tae ingin mendengarnya.”

Jeongguk tergelak dan pindah duduk kesebelah Taehyung, tangannya melingkari bahunya dan membawa Taehyung mendekat agar dia bisa bersandar padanya. “Tidur aja gapapa, kalau sudah berhenti mas gguk bangunin.”

Taehyung menggeleng namun dia menikmati sentuhan lembut Jeongguk dikepalanya. “Tae tidak ingin pulang.”

“Kan belum pulang, masih disini kan?” Balas Jeongguk menatapnya.

“Tae masih ingin bersama mas gguk..” Lirihnya. “Karena Tae tidak tahu apakah nanti bisa seperti ini lagi.”

“Don’t say that.” Ucap Jeongguk agak dalam. “Jangan mengatakan hal-hal yang seperti itu, kita bisa mengulanginya lagi.” Tekannya.

Taehyung mendongak dalam pelukan Jeongguk, menatapnya sayu. “Mas gguk berjanji?”

Jeongguk mengangguk. “ I promise, don’t be sad. Okay?”

Taehyung membawa tangannya memeluk pinggang Jeongguk, menjatuhkan kepalanya dan mengubur wajahnya pada dada Jeongguk.

“Tae senang, senang sekali.”

“Tae tidak mengira kalau Tae akan berada disini, bersama mas gguk, bermain dan bertemu teman-teman mas gguk juga.”

“Tae juga tidak menyangka bisa melakukan hal-hal yang Tae inginkan selama ini dan mas gguk memberikannya pada Tae.”

“Tae senang mengenal mas gguk, Tae senang dengan situasi sekarang. Mas gguk hangat, pelukan mas gguk hangat, Tae menyukainya.”

“Jantung mas gguk berdetak kencang sekali.” Taehyung terkekeh diikuti Jeongguk juga. “Tae juga, jantung Tae rasanya ribut sekali.” Ungkapnya juga memberi tahu.

Hening, hembusan napas Taehyung terasa pada lengan Jeongguk, itu membuatnya hangat. Ia mengeratkan pelukannya, mengira Taehyung terlelap.

“Tae tidak menyangka kalau mas gguk ada disini.. bersama Tae. Ini rasanya tidak nyata tapi ini juga terasa sangat nyata.”

“Terima kasih banyak mas gguk, terima kasih sudah mewujudkan apa yang Tae inginkan. Berkeliling kota, bertemu teman-teman mas gguk, membeli lukisan, bermain ke taman hiburan, memberikan Tae sebuah boneka, makan permen kapas yang besar dan sekarang kita menaiki bianglala. Tae bahagia mas gguk.”

“Terima kasih untuk semua kata-kata baiknya, terima kasih karena menepati janji, menjemput Tae juga kerumah, menggandeng tangan Tae, berjalan disamping Tae dan juga..” Taehyung mendongak menatap Jeongguk yang hanya diam, mendengarkan ia menggumam sedari tadi.

“Terima kasih untuk pelukannya. Pelukan mas gguk salah satu pelukan terbaik yang pernah Tae terima. Mas gguk hangat dan empuk.” Tawanya pelan dan air mata menggenang dimatanya. “Terima kasih banyak mas gguk.” Bisiknya dan ia menangis, terisak pelan dan Jeongguk tersentak seketika. Mengurai pelukannya, ingin menangkup pipi Taehyung menghapus air matanya, melihat wajahnya namun Taehyung menggeleng, mengeratkan pelukannya.

“Hei..” Kata Jeongguk lembut.

“Tae..”

“Shh.. hei baby bear..”

“”Shhh.. Tae jangan menangis, ya?” Jeongguk bernapas dengan berat, rasa nyeri seketika merebak disekitar dadanya, melihat Taehyung yang kecil dan tampak sangat rapuh sekarang, terisak pelan dihadapannya. Hati Jeongguk terasa diremas-remas, tidak suka dengan pemandangan ini.

“Taehyungie, tidak ingin melihat mas gguk?”

Taehyung menggeleng.

“Jangan menangis, mas gguk tidak ingin melihat Tae menangis, it’s hurts me.”

Maka dari itu, Jeongguk mengeratkan pelukannya, menepuk puncak kepala Taehyung dengan sayang, membisikkannya beberapa kata-kata dan cerita-cerita kecil yang acak dikepalanya. Ia tersenyum saat Taehyung terkekeh dipelukannya, ia terus bercerita dan bersenandung pelan. Memejamkan matanya, merasakan Taehyung didekapannya.

“Tae.. Tae sayang mas gguk. Don’t leave me..”

“I’ll never leave you, you have me, you with me here. Begitu juga besok dan besoknya lagi.”

Taehyung ingin mempercayai itu, ingin meyakinkan dirinya kalau Jeongguk tidak akan meninggalkannya, Jeongguk bersamanya. Taehyung lelah dengan semua itu, ia tidak ingin berharap, ia takut untuk berharap lagi karena Taehyung benci merasa sendirian lagi, ia tidak ingin bergantung pada Jeongguk. Pikirannya menolaknya, ia takut kecewa.

Taehyung hanya tidak ingin kecewa untuk yang kesekian kalinya.

Tapi hatinya menginginkan ini, ia ingin selalu bersama Jeongguk, menunggu Jeongguk dan hari-hari selanjutnya berada disamping Jeongguk, mendengarkan ceritanya setiap hari, bertukar tawa dan hal yang paling membuatnya nyaman dan hangat. Ia ingin selalu tenggelam dalam pelukan Jeongguk, ingin merasakan perasaan tenang selama mungkin, ia ingin mencoba berharap kembali karena hatinya menginginkannya.

Tapi Taehyung tidak siap jika jatuh kembali dan tidak ada yang menolongnya untuk bangkit lagi. Tidak ingin terperosok jauh kebawah dan tidak ada yang mengulurkan tangannya untuk membantu Taehyung.

Tapi sekali lagi, apakah Taehyung boleh menjatuhkan harapannya pada Jeongguk?

Kali ini saja, Taehyung ingin bahagia dan merasakan kehidupannya yang baru akan dimulai, ia merasakan semuanya akan berubah, sesuatu yang menantang menunggunya didepan.

Dan ada Jeongguk disana, ia mengulurkan tangannya disana, berjalan disampingnya, memastikan Taehyung bersamanya.

Bisakah Taehyung berharap?

You have me, Tae punya mas gguk. Mas gguk akan memastikan Tae aman dan bahagia, ayo lakukan bersama-sama. Jangan takut, you have me, you have me, you have me.

Tae punya mas gguk, okay?”

Dan rasanya sekarang Taehyung tahu, ia menemukan jawabannya. Ia bisa berenang kepermukaan kembali, mengarungi lautan bersama Jeongguk tanpa takut akan tenggelam kembali.

Jeongguk bersamanya.

Ia memiliki Jeongguk disampingnya.

Maka dari itu, Taehyung memutuskan untuk berjuang untuk dirinya dan juga Jeongguk agar bisa bersama-sama dengannya untuk waktu yang lama.

Taehyung ingin mencobanya.

“Mas gguk, katanya ingin menyanyikan Tae sebuah lagu?” Taehyung bergumam dengan suara ngantuknya, menoleh pada Jeongguk yang tengah menyetir disampingnya dengan mata sayu. “10,000 Hours mas gguk.”

Jeongguk meliriknya dan membawa tangan kirinya pada kepala Taehyung dan turun untuk menepuk pipinya sekilas. “Sebentar.”

Kemudian suasana dimobil itu perlahan-lahan menjadi hangat dan Jeongguk bersenandung diikuti kekehan kecilnya saat Taehyung mengangguk, mengikuti liriknya.

“Ugh, Tae mengantuk sekali.” Gumamnya menguap lebar dan menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir rasa kantuknya. “Ah Tae tidak boleh tidur, Tae akan terjaga untuk menemani mas gguk.” Lanjutnya.

“Tidur aja gapapa, nanti kalau sudah sampe mas gguk bangunin, oke?”

“Tae tidak ingin meninggalkan mas gguk sendirian, waktu kita sangat singkat, Tae tidak ingin berakhir. Tidak ingin pulang, tapi Tae mengantuk.” Ucapnya bersungut-sungut, menjatuhkan punggungnya kebelakang untuk bersandar.

“Tidur aja, Tae capek abis bersenang-senang hari ini kan?”

“Ceritakan lagi tentang mas gguk, Tae ingin mendengarnya.” Bisiknya dengan mata sayup-sayup. Jeongguk tertawa melihat Taehyung yang tengah berjuang melawan kantuknya.

Tidak lama setelahnya, Taehyung terlelap. Jeongguk tersenyum kecil melihatnya, tangannya menjangkau bantal kecil yang ada dijok belakang dan meletakkannya pada sisi Taehyung dengan pelan. Dia menggeliat pelan, mencari kenyamanan dan Jeongguk menahan napas saat gerakan itu, untungnya tidak membuat Taehyung terbangun. Ia mengamati Taehyung sebentar, bulu matanya yang panjang menjuntai dibalik matanya, pipinya yang gembil apalagi jika tertawa, itu sangat menggemaskan.

When you close your eyes
Tell me, what are you dreamin’?
Everything, I wanna know it all..

Note(s) You must playing 'Still With You' when read this.

“Mas gguk?” Taehyung menguap lebar, beringsut untuk duduk dengan menegakkan punggungnya. “Ini sudah pagi ya?” Katanya sambil mengucek pelan matanya. Menatap Jeongguk disisinya.

“Masih malam, sudah sampai dirumah Tae.” Balas Jeongguk kemudian membuka sabuk pengamannya.

“Kok tidak membangunkan Tae?” Protesnya dengan bibir mengerucut. “Pasti Tae lama ya tidurnya? Ah kesal sekali.” Jeongguk tertawa kecil dan bergumam tidak apa-apa.

“Mas gguk, Tae tidak mau pulang.” Katanya lesu. “Tidak ingin masuk kedalam, Tae bersama mas gguk saja, bagaimana?”

“Iya, besok ya? Sekarang Tae masuk dulu, bebersih dan beres-beres untuk tidur, okay bear?” Kata Jeongguk lembut. Taehyung membuka sabuk pengamannya dan beringsut mendekat pada Jeongguk walaupun terhalang persneling mobil. “Besoknya itu kapan mas gguk?” Ia menjatuhkan pipinya pada lengan Jeongguk, bergumam lirih.

Jeongguk menghela napas dengan berat, ia beringsut mendekat dan melingkari lengannya pada Taehyung, membawanya kembali pada dekapannya. “Tae terlalu banyak meminta ya?” Gumam Taehyung dengan kekehan yang membuat Jeongguk nyeri mendengarnya.

“Tidak, tentu saja tidak. Kalaupun iya, mas gguk senang kalau Tae punya banyak permintaan. Kita bisa melakukannya bersama.”

“Tae tidak ingin pulang.” Ulang Taehyung menggelengkan kepalanya, surainya menampar wajah Jeongguk sedikit, namun ia membiarkannya. “Tae benci sendirian lagi.”

“Tae ingin seperti mas gguk, punya banyak teman, bisa pergi kemanapun, mewujudkan apapun yang mas gguk inginkan tanpa harus susah-susah menunggu.” Katanya meracau, Jeongguk hanya diam mendengarkannya, tidak menyahut, membiarkan Taehyung menumpahkan keluh kesahnya.

Kemudian ia duduk tegap, menarik kepalanya dan menatap Jeongguk dengan mata yang berkaca-kaca. “Mas gguk, maukah berjanji sesuatu pada Tae?”

Jeongguk mengangguk dan Taehyung tersenyum melihatnya. “Antarkan Tae kedalam ya?”

“Tae ingin mas gguk berjanji untuk mengantarkan Tae kedalam?”

Taehyung menggeleng, “Nanti dulu, ayo turun dan antarkan Tae kedalam. Tae rasa kak Yoon sudah menunggu Tae pulang.” Jeongguk mengangguk dan mereka melangkah masuk kedalam. Taehyung mengamit jemarinya, Jeongguk merasakan tangannya berkeringat dan mendingin. Jantungnya berdetak kencang, “Tae okay? Ada yang sakit?” Ujar Jeongguk cemas.

Taehyung menggeleng, tidak membalas. Jeongguk mengeratkan genggamannya dan berjalan mengikuti Taehyung. Ia bertemu Yoongi lagi yang tengah duduk dikursi dengan televisi menyala, menampilkan acara tengah malam yang Jeongguk tidak terlalu tahu itu apa, suaranya pelan, nyaris tidak terdengar sama sekali.

“Kak Yoon, ini mas gguk.” Kata Taehyung memecah keheningan diruangan itu. Ia menatap Jeongguk dengan senyum manis seakan tahu ketegangan yang dirasakan Jeongguk.

Yoongi mengangguk, menatap mereka dengan tatapan datar. “Tae harus tidur.” Ucapnya sambil melirik pada Jeongguk.

“Oke, tapi sebelum itu Tae ingin memberitahu kak Yoon sesuatu.”

Jeongguk menahan napasnya dan Yoongi mengerinyitkan dahinya. “Ini bukan permintaan.” Lanjut Taehyung.

“Tae ingin bilang apa?”

Taehyung menoleh pada Jeongguk dan berbisik pelan. “Mas gguk, Tae ingin menagih janji mas gguk, ya?” Jeongguk tidak mengerti namun ia tetap mengangguk. “Apa saja yang Tae inginkan.” Balasnya berbisik, mengeratkan genggamannya dan ibu jarinya mengelus punggung tangan Taehyung lembut.

“Kak Yoon, Tae ingin melanjutkan sekolah lagi, ditempat yang sama dengan mas gguk.”

Yoongi membeku dan Jeongguk terkejut mendengarnya. Mereka menatap Taehyung dengan mata membulat.

“Tae.. Tae apa?” Tanya Yoongi patah-patah, tidak percaya dengan pendengarannya.

“Tae ingin jadi mahasiswa, melanjutkan sekolah dan bertemu orang-orang lagi.” Katanya mantap, Jeongguk hanya terdiam, ini terlalu mendadak dan tiba-tiba.

“Tae, kak Yoon rasa itu belum-”

“Tae sudah besar kak Yoon, bukan anak kecil seperti dulu lagi, bukan anak kecil yang apa-apa dijanjikan apapun dan jika dihadiahkan sebuah mainan akan menghiburnya dan melupakan apa yang telah terjadi. Tae ini sudah besar kak Yoon.”

Yoongi mengangguk dan menghembuskan napasnya kasar. “Kak Yoon tau, oke? Tapi Tae tidak bisa, belum bisa."

"Tae bisa kak Yoon, kata siapa Tae tidak bisa? Tae sudah besar, Tae tidak takut untuk bertemu orang-orang lagi. Tae tidak takut pergi dengan mobil lagi, Tae tidak selemah itu!"

Yoongi menghela napas mendengar suara Taehyung yang tiba-tiba naik beberapa oktaf, meneriakinya. "Bukan masalah itu, banyak hal lainnya. Tae belum bisa menjaga diri dengan baik, Tae masih sering mimpi buruk, Tae masih sering pingsan dan Kak Yoon tidak ingin Tae mengalami hal-hal buruk saat kak Yoon tidak ada bersama Tae.” Matanya merah menatap Taehyung yang bergetar.

Jeongguk melingkari lengannya pada Taehyung, takut kalau ia terhuyung dan kehilangan keseimbangannya. Menatap Taehyung cemas.

“Tae sudah pernah bilang kalau Tae sekarang sudah baik-baik saja kak Yoon. Tae kuat, tidak lemah seperti dulu lagi. Kapan kak Yoon akan memahaminya? Tae tidak ingin dikurung lagi kak Yoon.” Matanya berkaca-kaca.

“Tidak ada yang mengurung Tae, Tae bisa sepuasnya melakukan apapun disini. Tae aman dirumah ini.” Yoongi berujar dengan napas berat, ia tidak ingin berdebat sekarang dengan Taehyung. Apalagi Jeongguk juga ada disini.

“Tapi Tae tidak ingin dirumah terus-terusan kak Yoon! Tae ingin pergi keluar, Tae bosan disini. Kapan kak Yoon akan mengerti!” Teriaknya dan ia menangis, terisak.

"Tae tidak mengerti—"

"Tae mengerti! Apa yang Tae tidak mengerti? Tae kecelakaan? Tae mengalami penurunan daya ingat? Tae sering pusing? Tae apalagi? Tae mengerti, tapi Tae ini kuat kak Yoon. Kapan kak Yoon akan berhenti melihat tae seperti anak kecil? Kak Yoon bilang kehidupan Tae masih panjang, Tae sekarang ingin melanjutkannya! Tae ingin punya banyak teman, Tae ingin melihat dunia luar sama seperti kak Yoon! Tae ingin pergi bersama mas gguk dan yang lainnya. Tae ingin belajar tentang banyak hal, bukan hanya duduk disini, menunggu orang-orang datang!"

"Kak Yoon tidak—"

“Tae benci sendirian, Tae tidak ingin ditinggalkan lagi. Tae benci melakukan sesuatu seperti kemarin secara berulang-ulang lagi. Tae bosan melakukannya. Tae muak kak Yoon!” Ia berteriak frustasi dan meluruh ke lantai. “Kak Yoon jahat, kak Yoon sangat egois.” Teriaknya dengan isakan.

"Tae muak melakukan hal itu terus menerus! Tae muak, kak Yoon yang tidak mengerti! Tae sudah lelah dengan semuanya."

Jeongguk merasakan hatinya nyeri melihat Taehyung dan ia memeluknya. Merengkuh Taehyung erat dan memejamkan matanya. “Shh.. udah ya? Tae harus tidur sekarang.”

Taehyung memberontak dan menatap Jeongguk tajam. “Tae tidak ingin tidur! Kenapa kalian memperlakukan Tae seolah-olah Tae ini anak kecil? Tae ini sudah besar, Tae tidak lemah.”

“Iya, mas gguk tahu kok. Tapi ini sudah malam, semuanya tidak bisa buru-buru Tae, kak Yoon benar-”

“Mas gguk sudah berjanji! Kenapa sekarang malah mendukung kak Yoon? Apa yang benar? Mas gguk juga menganggap Tae lemah kan? Mas gguk berteman dengan Tae hanya kasihan ya?” Jeongguk menggeleng dan meraih Taehyung yang tampak kacau dengan mata memerah, air matanya menetes lagi dan Taehyung menyekanya dengan kasar.

“Jangan dekat-dekat.” Tolaknya tapi jeongguk bersikukuh dan memeluknya. Taehyung memberontak, memukulnya. “Tae benci kak Yoon, Tae juga benci mas gguk.” sahutnya melemah dan terisak, tangannya memeluk lengan Jeongguk. Ia membuka mulutnya dengan napas tercekik.

“Tae? Hei?” Kata Jeongguk panik dan menepuk-nepuk pipinya. Yoongi melompat pada mereka dan berujar panik memanggil nama Taehyung.

“Taehyung, ini kak Yoon.” Suaranya bergetar, ia menangis melihat Taehyung yang tercekat, ia seperti kesulitan bernapas dan buku-buku jarinya memutih mencengkram lemah lengan Jeongguk.

“Tae? Tae dengar kak Yoon? Ini kak Yoon sayang.” Yoongi menangkup pipinya dan terus mengajak Taehyung berbicara. “Tae, bernapas pelan-pelan ya?”

“Tae dengar kak Yoon?”

“Ikuti kak Yoon ya? Bernapas pelan-pelan, Tae bisa, ayo Tae.” Jeongguk merasakan pipinya ikut basah dan jantungnya terasa ingin jatuh diperutnya saat melihat Taehyung tengah berjuang dan Yoongi yang terus berusaha agar Taehyung kembali.

“Benar begitu, pelan-pelan. Ini kak Yoon. Tae bisa sayang, Kak Yoon disini.” Jeongguk menahan napas ketika melihatnya. Ia lega dan bersyukur untuk beberapa saat, melihat Taehyung kembali, bernapas perlahan-lahan, tidak tercekik seperti tadi lagi. Dada Taehyung naik turun, matanya mulai memancarkan cahayanya kembali dan ia tampak rapuh, Jeongguk ikut kesakitan melihat Taehyung saat ini.

“Tae.. Tae ini kak Yoon.” Yoongi mendekapnya dan menangis. “Maafkan kak Yoon, Tae maaf.”

Jeongguk tersentak saat tangan Taehyung mengenggamnya dengan lemah, ia balas mengeratkan genggamannya, menangkupnya dengan kedua telapak tangannya, agar Taehyung tetap hangat.

“Tae minta maaf kak Yoon.” Lirihnya putus-putus setelah beberapa lama hening. “Maafkan Tae.” Isaknya lemah, lelehan air matanya mengalir dan Jeongguk merasa seperti ikut merasakan kesakitannya.

Yoongi menggeleng. “Tae tidak salah, maafkan kak Yoon ya?”

“Kak Yoon?” Bisiknya.

“Iya? Tae butuh sesuatu?”

“Tae tetap pada keputusan Tae kak Yoon.” Ia mengurai pelukan dengan lemah dan menatap Yoongi.

“Tapi Tae-”

“Tae punya gue Yoon, gue janji bakalan jagain Taehyung. Tolong beri kesempatan Yoon, pikirin baik-baik, gue ngga mau ngeliat Tae kayak tadi lagi.” Jeongguk bersuara. “Gue takut Taehyung ngga balik.” Lanjutnya muram.

“Gue ngga tau.. Gue belum siap.” Aku Yoongi menghela napas kasar. “Semuanya rumit, susah dan gue harus pikirin mateng-mateng, gue juga takut bukan lo doang.”

“Tae keatas ya? Ayo tidur.” Lanjut Yoongi kemudian.

“Tae — “

“Tidur Taehyung. Untuk sekarang jawabannya tidak.”

“Kak Yoon! Jahat — “

“Itu bukan jawaban yang hanya keluar dari waktu semalam saja Taehyung. Kak Yoon perlu memikirkannya, sekarang tidur!” Katanya mutlak sedikit meninggikan suaranya.

“Tae tidak mau sebelum kak Yoon mengizinkannya.”

“Tidak sekarang.”

“Lalu kapan?”

Yoongi berdecak. “Semua ini butuh waktu oke? Banyak persiapannya Tae, tidak bisa langsung jadi.”

“Tae kan tidak minta besok? Tae hanya bilang ingin melanjutkan sekolah lagi, kak Yoon saja yang terlalu berlebihan.” Sungutnya.

“Bukan berlebihan, kak Yoon tidak ingin kehilangan Tae lagi. Tae tidak tahu seberapa takutnya — “

“Tae mengerti, tapi sekarang Tae berjanji akan menjaga diri kak Yoon.”

Yoongi merasakan pipinya basah kembali. “Kak Yoon takut Tae seperti tadi lagi dan disaat itu kak Yoon tidak ada bersama Tae.”

“Tae berjanji itu tidak akan terjadi lagi, itu menyakitkan.”

“Sekarang Tae tidur ya? Besok kita bicarakan lagi. Jangan mendebat kak Yoon, Tae harus tidur.” Taehyung berdecak dan mengangguk. Ia lelah dan menginginkan kasur juga.

Taehyung menoleh pada Jeongguk dan berbisik. “Mas gguk menginap saja ya? Sudah malam.”

Jeongguk sontak menggelengkan kepalanya. “Tidak usah, -”

“Gapapa, lo nginep aja. Kamar tamu kosong kok, udah malem.” Sahut Yoongi dan Jeongguk menghela napas dan mengangguk, tidak ingin mendebatnya.

Taehyung berseru senang dan memeluknya. “Maafkan Tae ya mas gguk?”

No need sorry, It’s okay.” Balas Jeongguk tenang. “Ayo tidur, ingin mas gguk antar keatas?”

“Ayo.”

-

“Mas gguk?”

“Ya? Tae membutuhkan sesuatu?” Jeongguk bersandar pada ranjang dengan Taehyung berada dipelukannya, ia memeluk lengan Jeongguk. Taehyung memintanya disini sampai ia tertidur dan Jeongguk bisa meninggalkannya.

“Untuk yang tadi…”

“Ya?”

"Hum.. yang tadi..”

“Iya, kenapa sayang?” Suara lembut Jeongguk mengalun dan Taehyung merasakan pipinya memanas saat mendengar suara berat tapi lembut dari Jeongguk.

“Tae tidak benci mas gguk, maafkan Tae ya?” Ia mendongak dan Jeongguk menunduk menatapnya. “Maafkan Tae ya mas ggukie?” Bisiknya.

Jeongguk mengangguk, “Tidak masalah.” Ucapnya dengan senyuman, berharap Taehyung tidak terus-terusan merasa bersalah. Jeongguk tahu kalau itu bukan ucapan serius.

“Tidur ya? Sudah larut malam, lelah ya?” Bisiknya, wajah mereka dekat sekali sampai Jeongguk baru menyadari jika Taehyung punya tahi lalat yang berada dipucuk hidungnya.

“Tae sayang mas gguk, mas gguk juga kan?” Napas Taehyung berhembus hangat disekitar mereka dan Jeongguk mengangguk.

“I love you and I really do.” Kata Jeongguk setelahnya, ia merasakan kelegaan yang luar biasa karena memberi tahu Taehyung tentang perasaannya.

“Please stay with me mas gguk.”

Jeongguk mengangguk. “I will, I promise babe.”

Taehyung menatapnya, Jeongguk juga. Hening beberapa lama, hanya deru napas yang terdengar diantara keduanya.

Kemudian dengan tangan gemetar, Taehyung menarik tengkuknya dan mengecup bibir Jeongguk sekilas, ia langsung menjauh dengan pipi memerah. Kejadian itu sangat cepat dan Jeongguk langsung membeku detik itu juga. Jantungnya ribut dan menatap Taehyung yang sekarang tengah mengubur dirinya dan menutup wajahnya.

“Lihat sini.” bisik Jeongguk saat tersadar kembali dan Taehyung menggeleng dibalik selimutnya.

“Tae, lihat sini.” Kata Jeongguk lagi, mencoba menarik selimutnya. Taehyung merengek dan saat selimutnya terlepas, Jeongguk menatapnya dengan kekehan kecil. Wajahnya merona, tampak cantik dan jeongguk tidak bisa berkedip melihatnya.

“Jangan dibahas, Tae malu.” Cicitnya dan Jeongguk terkekeh, mengulum bibirnya.

“Tae?”

“Hm?”

“Bukan begitu cara mencium seseorang.” Kemudian Taehyung memekik saat Jeongguk menariknya mendekat dan mengecupnya, menjatuhkan bibirnya pada bibir Taehyung lagi. Jantung Taehyung berdetak cepat dan pipinya memanas lagi. Ia membuka matanya dan bertatapan dengan Jeongguk langsung. Taehyung bisa merasakan Jeongguk tersenyum padanya kemudian ia melihat Jeongguk menutup matanya. Taehyung bisa merasakan kecupannya, bibir Jeongguk bermain diatas bibirnya, itu sangat lembut dan Jeongguk membimbingnya perlahan.

Ini ciuman pertamanya, jantung Taehyung seakan melompat-lompat karena sensasinya. Perutnya seperti digelitik oleh sensasi yang mendebarkan namun disatu sisi juga menyenangkan. Taehyung kemudian hanyut, tangannya naik untuk meraba tengkuk Jeongguk, ia meringsut, mendekat dan juga ikut menutup matanya. Meremas surai Jeongguk pelan dan melenguh sesaat sebelum Jeongguk melepaskan ciumannya.

“Good night love.”

Kemudian Jeongguk mengecupnya lagi, hanya sekilas sebagai penutup dan pengantar tidur. "Have a nice dreams, baby."

"You too mas gguk."

  • **