tahun (yang tidak) baru

This article has been published on sibiruonline.com in bahasa.

Setelah 366 hari melaksanakan tugas, akhirnya 2016 pergi meninggalkan manusia-manusia bumi beserta kenangannya di tahun kabisat edisi keempat di abad ke-21 ini. Tugas kini dilanjutkan oleh tahun 2017 dengan kejutan-kejutan yang menanti manusia di setiap harinya. Banyak orang memaknai pergantian tahun sebagai waktunya berubah dari tahun sebelumnya, entah berubah untuk menjadi lebih baik atau berubah menjadi Power Rangers. Namun pada dasarnya, setiap manusia tidak akan semudah itu menganggap tahun baru sebagai ajang untuk berubah. Lho, mengapa?

Apanya yang Baru?
Beberapa manusia, atau mungkin hampir semuanya, sayapun juga, menganggap tahun baru sebagai ajang formalitas untuk dirayakan bersama kolega-kolega. Main petasan, bakar-bakaran, jalan-jalan bersama kekasih, semua dilakukan untuk merayakan pergantian tahun. Apabila teman-teman cermati dengan baik, Hal-hal tersebut selalu dilakukan berulang-ulang setiap awal tahun. Lalu, apanya yang baru?

Manusia-manusia bisa dibilang sudah terjebak dalam budaya mainstream. Hampir semua manusia di dunia ini selalu merayakan pergantian tahun dengan hal yang sama. Merayakan pergantian tahun dengan kembang api misalnya. Dengan dalih merayakan tahun baru, manusia rela menghambur-hamburkan uang semata untuk membeli kembang api. Dengan membeli kembang api, maka secara tidak langsung manusia rela melihat uangnya dibakar hanya untuk melihat hal indah namun berbahaya yang tidak sampai satu menit lamanya. Tidak percaya? Buktikan saja sendiri.

Tahun 2017 juga sebenarnya tidak beda-beda amat dari tahun 2016. Di tahun 2017, manusia tetap akan bertemu dengan hari senin yang katanya mengerikan. Di tahun 2017 juga, mahasiswa tetap akan bertemu tugas-tugas yang mengancam waktu tidur. Mungkin, yang menjadi pembeda tahun ini (di Indonesia) adalah diadakannya Pemilukada serentak. Dibalik beberapa hal yang tidak berubah, 2017 juga menyimpan jawaban dari sebuah misteri apakah Ahok akan tetap menjadi Gubernur DKI Jakarta, atau Agus bahkan Anies yang menjadi pemegang plat mobil “B 1 DKI” nantinya.

Formalitas tahun baru pun seakan hilang saat memasuki hari kedua di bulan pertama awal tahun. Bila pada hari pertama pergantian tahun semangat tahun baru masih ada, mungkin setelah manusia-manusia tidur dan bangun di esok harinya mungkin lupa. Hal tersebut bisa terlihat dari manusia-manusia yang kerap berurusan dengan tulisan. Saya jamin 89% seluruh umat manusia akan typo berjamaah dalam menulis tahun.

Niat Dari Dalam Hati
Mengesampingkan opini diatas, tahun yang baru bisa menjadi sebuah momen tepat untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Saya tidak memungkiri bahwa slogan ‘Tahun Baru, Semangat Baru’ juga bisa diterapkan dalam diri para manusia. Untuk merealisasikannya, tentu harus ada niat yang tulus dari hati si manusia yang mau berubah. Jadikan hal yang telah berlalu menjadi pembelajaran di masa depan untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya. Walaupun terdengar klise, namun hal itu memang betul-betul harus dilakukan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated lingga wijil bhagaskara’s story.