Mengapa Startup disebut Startup
Tulisan ini meneruskan tulisan sebelumnya dengan judul Memahami Startup dengan Lebih Baik, pada bagian ini akan dibahas apa yang membedakan startup dengan perusahaan konvensional ? kurang lebih sama maknanya dengan judul hanya redaksinya yang berbeda.
Menurut Bill Gross, startup merupakan entitas dengan budaya dan karakteristik terbaik untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik.
“I belived that the startup organization is one of the greatest forms to make the world a better place, Bill says. If you take a group of people with the right equity incentives and organize them in startup you can unlock human potential in a way never before possible. You get them to achieve unbelievable things, He added”.
Bagaimanakah budaya dan karakteristik yang dimaksud akan kita bahas ditulisan ini.

1# Startup tumbuh dengan cepat
Inilah yang paling membedakan startup dengan usaha kecil menengah. Startup bertujuan untuk terus tumbuh dan berkembang sedangkan usaha kecil menengah akan tetap kecil dan menegah dalam waktu yang lama, terutama pada sektor informal. Warung pecel dipinggir jalan akan nyaman dengan warung pecelnya bertahun-tahun.
Startup company tidak demikian, startup memang memulai dari sesuatu yang kecil namun berkeinginan untuk mencapai titik tertentu dalam waktu yang relatif singkat. Startup berfokus pada pertumbuhan dan perkembangan (growth and scale).
Tetapi apakah yang dimaksud dengan pertumbuhan (growth) dalam konteks startup ? Crystal Widjaja head of growth platform di Go-jek menerangkan;
“Growth is the expansion and education as well as the penetration of the true awareness of your product in the market. Crystal says, that would cover things whether or not they understand what your product does whether or not they find it easy to use whether or not it true solve the problem that they consider a problem.”
Sebagai contoh, Go-jek memulai usahanya tahun 2011 dengan call service, menghubungkan pihak yang membutuhkan ojek dengan tukang ojek pangkalan sebelum membuat aplikasi mobile. Hanya dalam waktu 1,5 tahun Go-jek berubah dari aplikasi mobile menjadi perusahaan Unicorn dengan valuasi 1.3 milyar dolar AS atau 17.3 triliun.
Contoh lain Tokopedia yang mempunyai visi untuk menghapuskan kesenjangan ekonomi di Indonesia, mulai diluncurkan pada tahun 2009. Sepanjang 4 tahun beroperasi Tokopedia telah melayani transaksi jual beli sebanyak 24 juta kali. Nilai transaksi pada Tokopedia bahkan bisa mencapai puluhan miliar setiap harinya.
2# Startup bermula dari sebuah masalah
Adanya startup adalah untuk menyelesaikan sebuah masalah. Seorang founder biasanya memiliki masalahnya sendiri yang juga berlaku untuk orang lain, kemudian berusaha mencari solusi. Agar solusi tersebut bisa bermanfaat untuk orang banyak founder mendirikan startup. Oleh karena itu startup tidak berfokus pada profit, tapi lebih pada menyelesaikan masalah, memberikan pelayanan terbaik dan mengkuisisi pengguna sebanyak-banyaknya.
Untuk memahami suatu konsep yang rumit, terkadang hal paling mudah adalah dengan mencoba menjelaskannya kepada anak kecil, Jochem Wijnands founder sebuah startup yang dibeli oleh Apple dan TRVL.com menjelaskan startup kepada anaknya yang berusia 8 tahun;
“A startup is a modern version of an inventor. It experiences a problem and then tries to solve it with ingenuity. A successful startup typically wants to solve a problem and make the world a better place.”
Stephanie Caudle, Founder dari Black Girl Group, juga menyebutkan;
“A startup is a company that solves a problem,” Stephanie says. “If your company isn’t solving a problem, your company is simply an idea.”
3# Startup is Lean and Adaptive
Lean and adaptive adalah tentang budaya perusahaan (company culture). Nadiem Makarim menerangkan dalam kesempatan seminar kemendikbud tentang company culture dalam Go-jek. Nadiem mendefinisikannya dengan sangat baik yaitu; budaya perusahaan adalah aturan main yang tidak perlu ditulisakan dalam SOP (standar operasional prosedur).
“Culture adalah jauh lebih efisien, lebih scalable dan lebih murah daripada regulasi, SOP dan tata penatanaan, kata Nadiem. Kalo culturenya kuat tidak perlu lagi SOP dan culture jauh lebih penting dari KPI (Key Performance Indicator) dia menambahkan.”
Diantara budaya Go-jek yang merefleksikan bahwa startup is lean and adaptive adalah;
“It’s not about you”, yaitu tentang menempatkan konsumen sebagai prioritas pertama dan menjadikannya sebagai prinsip, selalu mementingkan kepentingan konsumen daripada kepentingan pribadi. Dengan budaya itu, perdebatan yang ada di internal dapat dengan mudah terselesaikan.
“Psychological safety”, adalah kondisi dimana karyawan merasa aman untuk menyampaikan apapun pendapatnya. Keberanian untuk mengatakan “sepertinya saya tidak bisa, saya butuh bantuan dan sepertinya ini tidak akan berhasil, kita perlu cari solusi yang lebih masuk akal, dan lainnya”. Dengan adanya psychological safety budaya berinovasi dan kritik yang membangun akan terbina dengan baik. Karyawan harus dibuat nyaman untuk mendiskusikan atau menanyakan apapun yang ada dalam pikiran mereka.
“Keberanian mengambil risiko”, ini adalah tentang memberi toleransi kegagalan dalam perusahaan. Seorang pemimpin di startup harus memberi kepada karyawan untuk berani mengambil risiko meskipun pada akhirnya gagal bahkan merugikan perusahaan. Karena hanya dengan budaya inilah inovasi dapat terbina dengan baik. Selain itu dengan budaya ini, akuntabilitas juga dapat terbina.
Sedangkan untuk bagian adaptive, banyak startup saat ini menggunakan metode scrum. Salah satu contoh yang menggunakan scrum adalah DOT Indonesia. Prinsip dari scrum salah satunya adalah adaptive, yang berarti mudah beradaptasi dengan lingkungan.
Lean and adaptive itulah yang membedakan startup dengan perusahaan atau korporasi lainnya.
Istilah startup sangatlah popular di kalangan anak muda gen Y dan gen Z. Meskipun demikian banyak stereotype yang beredar tentang anak muda dan startup, salah satunya adalah kebanyakan anak muda sekarang hanya ikut-ikutan dan mengikuti tren membuat startup tanpa alasan dan motivasi yang kuat. Dalam Startups.com juga disebutkan bahwa anak muda mendirikan startup hanyalah pemuda malas yang menghabiskan uang investor sembari mereka bermain Pro Evolution Soccer PES.
Jacob Fenuccio founder and solution of Fractal Sulutions LLC menyangkal pendapat tersebut, Jacob berkata;
“A startup is a young, ambitious, growing collection of people with momentum around an idea or innovation,” Jacob says.
“A startup is not fully formed or complete but still vigorously pursues greatness through a lean and adaptive endeavor. Startups are heavily defined by their actions and execution, not just their ideas.
A startup is not any company with a ping pong table, cool office decor, employee outings, loose regulations, and/or casual behavior. A startup is about actionable innovations around ideas.”
Lalu mengapa startup disebut startup ?
Jawabannya menurut penulis karena istilah tersebut membedakan startup dengan perusahaan konvensional. Lebih dari itu, perbedaan ini merefleksikan perbedaan budaya dan bahwa cara bekerja kita telah berubah suka atau tidak suka. Startup lebih merefleksikan budaya kerja gen Y dan gen Z yang identik dengan digital native, curious, ambitious and confident.
Masih banyak karakteristik lain yang mencerminkan startup belum tercover dalam tulisan ini, sebagai penutup dibawah ini adalah pernyataan dari Ryan Rutan, Startups.com Chief Innovation Officer;
“A startup is a company that is trying to do something new or novel,” Ryan says.
“It doesn’t have to be tech. A ‘small business’ is a company that follows a well prescribed model. Therefore, an accounting consultancy is a small business.
But an accounting consultancy marketplace to answer questions via phone for accountants with down time? That’s a startup.”