Sahabat. Oh, Sahabat?

Dengan keegoisan tinggi, mereka memanggilku sahabat. Dengan integritas tinggi, mereka tak ingin aku menjadi yang lain. Hanya menjadi sahabat miliknya.

Bukan dengan pikiran hampa aku menuliskan hal ini. Seringkali aku melihat, orang-orang yang membuat ‘meme’ dengan gambar seseorang mengekspresikan mimik wajah tertentu, kemudian di bawahnya tertulis: “Ketika ada orang manggil sahabat lo sahabat –gambar– ente siapa ya?”.

Egois ya? Menurutku ada memang orang-orang yang seegois itu memanggil sahabatnya sudah seperti miliknya sendiri. Padahal? Wow, hati manusia siapa tau, tjuy. Buktinya? Banyak sekali yang bilangnya sahabat, tapi salah satu atau bahkan keduanya saling menyakiti. Dan ‘term’ sahabat seperti nya tidak membedakan manusia yang bisa dimiliki sedemikian rupa, deh.

Atau, tunggu, justru itu yang bikin beda? Kalo levelnya temen, masih boleh jahatin temen sendiri, tapi kalo udah sahabatan baru ga boleh? Atau, justru sekian banyak orang-orang yang diam menginginkan term sahabat itu sendiri supaya ia dapat menyakiti orang itu sendiri?

Like what you read? Give Lioni Faustina a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.