Wanita dan Seksualitas

Tidak jarang kita mendengar dalam obrolan, tentang pria-pria yang membanggakan sudah berapa wanita yang ia tiduri. Merasa yang satu lebih jantan dibandingkan dari yang lain ketika sudah mampu meniduri lebih banyak wanita dari karibnya.

Berbeda halnya dengan wanita. Seringkali ia merasa malu, direndahkan, ataupun ‘tidak setara’ dengan wanita yang lebih sedikit ditiduri pria. Atau bahkan, belum pernah dijamah pria. Nampaknya mereka (yang ‘belum’ diperawani) satu tingkat lebih bersih dan suci dibandingkan wanita yang lain.

Keduanya sama, membahas seksualitas. Namun berbeda prespektif.


Seorang dosen pernah bercerita, betapa patriarki membuat wanita terkekang, terkungkung oleh apa yang ditanamkan oleh pria; baik dari pola pikir ataupun dari benih. Bisa selama sembilan bulan atau sepanjang hayat.

Namun saya pribadi memiliki sudut pandang tersendiri mengenai hal tersebut; antara pria yang dianggap hebat ketika mampu meniduri banyak wanita dan wanita dianggap rendah ketika dapat ditiduri banyak pria.

Mungkin; mungkin, pada saat mereka menerapkan nilai-nilai, semua ‘nilai’ mulai dimasak dan dibumbui, wanita memang seseorang yang berharga. Wanita bagaikan berlian yang indah, dah tidak dapat dimiliki semua orang. Sehingga ketika ada yang mampu mendapatkannya, pasti akan merasa sangat menyenangkan, membahagiakan dan siapapun akan membanggakannya. Sekali lagi mungkin; mungkin, berbeda dengan pria. Entah apa sudut pandang yang mereka lihat dan bentuk untuk pria, apakah mereka harus menjadi pemburu atau bahkan pengamat berlian.

Tapi entah apa dan bagaimana, jujur saya tak mampu mengibaratkannya lebih jauh dari itu.