Stock photo adalah sebuah sunnah muakkad dalam setiap tulisan di Medium.

Saya Belum Menulis

Saya belum menulis. Apa sebabnya? Karena satu dengan yang lain hal tentunya. Tentu saja ada baiknya tidak semua akan saya paparkan di sini, karena itu akan menurunkan kredibilitas saya sebagai penulis. Mengapa demikan? Anda tahu sendiri, lah. Orang itu tidak senang ketika ada orang lain yang terlalu banyak beralasan. Maka atas dasar itu, saya tidak ingin orang menganggap bahwa saya itu mengarang terlalu banyak alasan untuk membenarkan tabiat saya yang dikiranya dengan sengaja menunda-nunda menulis. Padahal tidak! Saya tidak menunda-nunda tulisan saya!

Tapi seperti tadi saya katakan, karena satu dengan yang lain sebab, saya menjadi belum menulis. Kenapa bisa sampai belum ada kata-kata yang tertulis? Maka harus saudara pahami bahwa dalam menulis sesuatu itu memerlukan beberapa hal, tidak hanya sekedar keinginan untuk menulis. Untuk menjadikan pikiran saya menjadi sebuah tulisan, memerlukan alat tulis. Ah, tentu saudara mengasosiasikan kata alat tulis dengan pensil atau pena, benar? Oh tentu saja itu tidak salah. Namun kurang tepat untuk menggambarkan keadaan saya yang sesungguhnya. Agar hasil gejolak liar pemikiran saya yang kadang sableng ini bisa menjadi sebuah tulisan, dibutuhkan alat tulis yang bukan sekedar alat tulis. Saya kira, saudara pun telah mafhum, bahwa tulisan saya ini tidak lagi berbentuk goresan pena di atas kertas. Tapi sejatinya berbentuk bilangan biner yang diterjemahkan oleh perangkat yang saudara sekalian gunakan untuk membaca tulisan ini, menjadi rangkaian aksara.

Maka dari itu, alat tulis yang saya butuhkan adalah seperangkat komputer. Nah, itu yang menjadi persoalan pertama. Komputer saya tidak lagi “seperkasa” ketika saya dulu saya pertama memakainya setelah membelinya di sebuah toko yang kini saya telah lupa nama dan wajah penjualnya, kurang lebih hampir 4 tahun yang lalu. Menyebabkan banyak pekerjaan saya yang sebenarnya lebih penting dari menulis tulisan ini, menjadi terhambat. Sungguh, kalau boleh jujur, saya kesal dengan komputer yang saya gunakan ini. Kesal hingga tak jarang membuat saya malas menggunakannya lagi. Tapi kalau tidak digunakan, tentu menjadi mubazir. Untuk apa memiliki komputer jika tidak digunakan. Minimal untuk membuat tulisan ini lah, pikir saya. Jadi akhirnya tetap saya gunakan walau terpaksa. Ya, mau gimana lagi? Lha wong cuma ini komputer yang saya miliki. Jadi tidak ada pilihan lain. Lagipula, komputer yang menginjak usia 4 tahun ini, telah banyak berjasa untuk saya. Dalam masa keemasannya, komputer ini banyak membantu saya menyelesaikan berbagai pekerjaan dan membantu saya pula mempelajari banyak hal. Sehingga meski saya kesal akan kinerjanya yang kian menurun, saya harus maklum. Apa daya, namanya umur, makin tua, makin berkurang kemampuannya untuk menyelesaikan pekerjaan. Seperti manusia saja.

Nah, saudara, masalah komputer tadi sebenarnya hanya satu saja dari beberapa masalah yang menyebabkan saya belum menulis tulisan saya. Sebab lain yang saya rasa pantas untuk saya utarakan di sini, ialah koneksi internet yang kurang baik di rumah saya. Tentu saudara juga paham, bahwa tulisan saya haruslah disimpan di suatu tempat agar banyak orang dapat membacanya. Karena jika tidak begitu, curahan pikiran dan hasil latihan menulis saya menjadi kurang bermanfaat karena hanya untuk dibaca sendiri saja. Juga, seperti yang saudara perhatikan sedari tadi, saya banyak menggunakan kata tunjuk kepada pembaca. Jika tulisan ini hanya untuk dibaca sendiri, tentu akan menjadi mubazir. Maka oleh sebab itu, saya ingin tulisan saya terunggah di suatu situs yang anda sedang melihatnya ini, agar dapat dibaca oleh khalayak ramai. Sehingga curahan pikiran saya menjadi dapat dipahami dan semoga saja bermanfaat bagi pembaca sekalian. Agar tulisan saya ini dapat terunggah di Medium ini, tentu membutuhkan koneksi internet yang bekerja dengan baik. Persoalannya adalah, itu yang saya tidak miliki sekarang ini.

Kesimpulannya, dengan adanya tulisan ini, yang semoga tidak tampak seperti sedang mengarang-ngarang alasan, saya berharap saudara sekalian memaklumi sebab mengapa saya belum menulis.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mahardika Maulana’s story.