Sarah Inas
Sep 9, 2018 · 2 min read

Argia

Sudah banyak orang yang mencoba untuk memvisualisasikan kota-kota imajiner yang diceritakan oleh Italo Calvino dalam bukunya The Invisible Cities. Bagaimanapun saya masih penasaran untuk turut serta namun mencoba untuk berjarak dari yang lain, saya akan menggunakan bahasa ruang. Ada lebih dari tiga puluh kota yang diceritakan oleh Calvino, sudah pasti mustahil untuk dikerjakan dalam waktu singkat. Apalagi dengan bahasa Calvino yang terlalu puitis untuk sebuah karya kritik sehingga butuh waktu lebih lagi untuk memahaminya, karena itu saya pikir biarkan ini jadi proyek seumur hidup saya.

Kota pertama yang saya visualisasikan adalah Kota Argia. Dituliskan oleh Calvino bahwa Kota Argia adalah kota yang berbeda dengan yang lain (sebagian besar kota-kota yang ditulis mengambil latar tempat di atas tanah dan langit), karena kota ini justru berada di bawah permukaan tanah.

Kisah kota ini mengingatkan saya kepada sebuah kota dalam film hitam-putih Metropolis (1927) yang jika diiris maka akan menunjukkan pembagian kota menurut kelas sosial.

Para pekerja tidak memiliki kemampuan secara finansial untuk memiliki rumah di atas tanah, sehingga harus tinggal bersama dalam barak di bawah tanah. Secara struktural, mereka terjauhkan dari kehadiran tumbuhan dan langit oleh karena sistem kerja yang padat dan berbasis tenaga manusia sehingga mereka hanya dihadapkan pada dua rutinitas : kerja dan tidur. Tanpa mengenal sekitar, tanpa mengetahui waktu.

Sarah Inas

Written by

I’m gonna tell you but I’ve just forgot

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade