Selera vs Rasa

Makan bubur — diaduk ato ga diaduk? Pernah ga kamu berdebat gara-gara hal itu? Saya pernah .. dan itu ga penting banget karena sebenarnya itu cuma masalah selera , karena sebenernya ga masalah mau diaduk ato ga .. yang penting rasanya enak. :D

Dalam hidup kadang kita sering banget menilai sesuatu berdasar selera kita. Bukan cuma soal makanan, cara berpenampilan, cara berbicara dan yang lainnya. Sering banget kita mengomentari hal-hal yang ga 1 selera sama kita. Bahkan mungkin juga kita mengomentari cara beribadah seseorang hanya karena cara beribadah mereka berbeda sama kita.

Karena ego kita, seringkali kita memaksakan selera kita sama orang lain. Kita beranggapan kalau “selera” kita adalah yang paling baik yang paling benar. dan kita lupa kalau dalam hidup yang terpenting adalah bagaimana kita memberi rasa — karena kita adalah garam dunia :)

Hidup ini bukan tentang selera kita tapi bagimana kita bisa memberi rasa.

Waktu kita kenal Tuhan, sebenarnya selera kita sudah bukan menjadi hal yang no 1 lagi. Jauh lebih penting tau mana selera Tuhan dan rasa apa yang Tuhan pengen kita berikan buat orang yang ada di sekitar kita.

Waktu kita mulai menilai seseorang atau sesuatu dalam hidup kita pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, rasa apa yang orang rasakan saat mereka bersama dengan kita? Jangan-jangan bukan rasa yang manis tapi justru malah pahit & getir.

Jangan sampai kita terlalu sibuk menilai orang , tapi kita lupa memberikan rasa yang terbaik buat hidup orang-orang di sekitar kita. :)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.