Lolïtå
Lolïtå
Aug 31, 2018 · 1 min read

Terhempas Gelombang.

pict from pinterest.

Semakin hari ruangan ini semakin kosong.

Aku hampir lupa dimana terakhir kali ku meletakkan barang yang satu dengan yang lain, buku-buku ku, meja riasku, tumpukan baju kotorku.

Semakin aku memohon kepada sang waktu supaya dia tidak cepat berlalu, semakin aku tercekik bahkan hampir mati aku di buatnya.

Tidak lagi aku bisa bernafas lega.

Ada beban dan rasa takut yang teramat di setiap tarikan nafasku.

Entah apa yang harus aku takutkan, terlalu banyak hal.

Tiap kali aku melihat sekitar, aku seolah terpental ke masa kecilku.

Sungguh, aku tidak ingin tumbuh dewasa mengenal berbagai macam kesedihan dan perpisahan.

Kembali ke rahim Ibuku tersayang mungkin adalah jawaban yang tepat.

Miris, manusia ini terlalu penakut untuk di lahirkan dan tumbuh dewasa di dunia yang penuh dengan keculasan ini.

Pelik yang semakin mencekik, pekik ini tidak bisa lagi meredakan.

Anehnya selalu ada udara yang membawa kebahagiaan dan kehangatan untuk kami di tengah badai ini.

Tapi tunggu, Aku masih percaya bahwa badai itu menyimpan pelangi yang indah untuk kami.

19:24

Malioboro,Yogyakarta.

Lolïtå

Written by

50% urban labor, 50% water

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade