27. Proyek

Seorang perempuan dan laki-laki menghampiri Audrey dan Prana di ruang tamu rumah tersebut, dan keduanya otomatis berdiri. “Nggak apa-apa, Mbak, Mas, duduk aja,” kata perempuan itu kembali menyilakan mereka.

Nama asli perempuan itu Rini Mariani. Audrey tidak pernah menonton aktingnya, meski tahu dia adalah seorang artis peran yang wajahnya kerap muncul di film televisi dan iklan.

Hanya saja dia lebih dikenal publik dengan nama Marina Olivia. Nama panggung, katanya.

Adapun yang laki-laki adalah pengacara Marina, bernama Andi Harimawan.

“Mbak Marina, Pak Hari, kenalkan ini editor saya, Mbak Audrey, yang waktu itu saya ceritakan,” Prana mengenalkan mereka berdua dan tangan Audrey otomatis terjulur ke arah perempuan muda di depannya.

“Siapa?”

“Panggil Ody aja, Mbak,” kata Audrey. “Oh, oke,” kata Marina. Audrey lalu berpindah ke Andi. “Halo, Pak,” sapanya.

“Salam kenal, Mbak. Panggil aja Boy,” kata pria itu.

“Oh iya, Pak Boy,”

“Panggil Mas ajalah, Mbak, biar akrab. Kayaknya umur kita nggak jauh beda juga,”

Tebakan Audrey, laki-laki ini mungkin sudah berusia pertengahan 40. Akan tetapi, dia tidak punya waktu berdebat. “Oke, Mas… Mas Boy,” jawabnya, terpaksa menahan tawa menyadari bodohnya nama panggilan itu.

Keberadaan Audrey dan Prana di rumah Marina berawal dari kedatangan Marina ke Polda Metro Jaya dua minggu lalu.

Kehadirannya membuat geger mengingat statusnya sebagai aktris muda yang namanya naik daun, bahkan sempat digosipkan berhubungan dengan seorang penyanyi jazz ternama.

Apalagi, tujuan Marina tidak diduga siapapun: dia mengadukan pemilik agensi artis tempatnya bernaung dengan tuduhan pelecehan seksual.

Jakarta Chronicles awalnya hanya memuat berita aduan Marina itu sebagai berita sekilas. Hanya saja, Rama Karnadi, pemilik agensi tempatnya bernaung, dikenal sebagai pemilik klub malam untuk kalangan kelas atas dan dirumorkan menjadi sarang prostitusi dan obat terlarang untuk kaum berduit.

Meski sudah punya reputasi yang kurang baik dengan segala isunya, tempat dugem — serta sosok Rama Karnadi — tetap tidak tersentuh.

Audrey, Sigra, Jefri, Prana, dan Fikri pun ingin mencoba mencari koneksi antara aduan Marina dan bisnis Rama.

“Mbak Marina sekarang gimana keadaannya?” tanya Audrey. “Ya begitulah, Mbak. Cuma masih bolak-balik Polda aja untuk kasih keterangan,”

“Jadi sambil syuting masih bolak-balik dong?”

“Kebetulan kan syuting stripping kemarin udah kelar. Trus emang setelah konsultasi sama keluarga sama pengacara juga kayaknya aku nggak ngambil job dulu deh mulai dari pas masukin laporan ke Polda kemarin,”

“Oh gitu,” kata Audrey sambil mencatat. “Pas ke Polda itu emang udah niat dari lama apa gimana, Mbak?” tanya Prana.

“Ya udah enam bulan lah. Itu juga setelah cerita sama orangtua soal Pak Rama gimana,” kata-kata Marina membuat Audrey dan Prana saling lirik.

“Memangnya, Pak Rama seperti apa?” tanya Audrey berhati-hati. Marina tersenyum getir. “Parah, Mbak.”

Audrey menyalakan alat rekamnya dan menyodorkannya ke depan Marina.

***

“Awal mula diajaknya kapan?”

“Pertamanya dikenalin gitu, Mbak, katanya sih pejabat mau nyaleg gitu. Katanya mau kenalan. Ya saya pikir mau diajak tampil kalo dia mau kampanye, dikasih job. Ternyata malah… malah diajak ke hotel,”

“Waktu mau dikenalin, Pak Rama nggak cerita-cerita dulu gitu?”

“Nggak. Cuma kata Pak Rama, ini ada pejabat ngefans sama kamu, saya kenal. Temen deket. Gitu,”

“Waktu tau kalo ternyata mau diajak ke hotel, itu gimana sih, Mbak?”

“Awalnya ya kaget. Trus sempet ngomong sama Pak Rama, Pak, saya nggak mau,”

“Kata Pak Rama?”

“Katanya oh iya nggak apa-apa, nanti bisa lah diomongin lagi kalo si pejabatnya udah pulang,”

“Trus pas pejabatnya pulang, bener diajak ngomong?”

“Bener, Mbak, Mas. Tapi ya gitu, Pak Rama ngebujuk-bujuk katanya kalo nemenin gitu duitnya malah lebih banyak, bisa dipake buat jalan-jalan, liburan. Ngomongnya masih baik waktu itu, kan saya juga belum tahu,”

“Nggak nyangka ya, Mbak? Saya tiap liat di TV aja suka kagum lho. Kayaknya Pak Rama tuh baik gitu nggak sih,”

“Ya iya, tapi aslinya sih nggak.”

Desk metro dan Mas Sakti mendengarkan sisa rekaman wawancara Audrey dan Prana bersama Marina sampai habis. “Menarik,” gumam Mas Sakti, lalu melirik Sigra. “Hasil observasi lapangan gimana, Ga?”

“Pas ngobrol sama orang sekitar pas siang-sore emang mereka bilang, kalo tempat ini cuma rame pas malem. Apalagi kalo tengah-tengah bulan. Dan mobil yang dateng selalu mobil mewah,” kata Sigra, lalu berdehem sejenak.

“Trus pas masuk, nah ini yang seru. Emang awalnya nggak bakal nyangka kalo itu tempat dugem, pasti bakal ngiranya mungkin ada artis siapa ulang tahun atau ada acara. Karena banyak bener yang nongkrong di situ,” ujarnya.

“Artis-artisnya Rama banyak?”

“Ada sih, cuma nggak semua. Dan emang beneran mereka jualan,”

“Ada yang deketin lo?” Jefri tertegun. Sigra mengangguk tenang.

“Gue lupa namanya, tapi pernah muncul di iklan minyak goreng jaman kapan itu lho. Iseng gue tanya rate-nya. Sebulan gaji gue,” dia tersenyum.

“Trus?”

“Ya gue pura-pura bego aja. Trus dia bilang, di situ emang rate-nya ya segitu. Trus booking harus via bosnya,”

“Ini tuh bikin keinget sama prostitusi online yang waktu itu nggak sih? Sama-sama artis pula kan yang jadi objeknya,” gumam Audrey.

“Yang orangnya baru aja bebas langsung muncul di TV maksud lo?” tanya Mas Sakti. Audrey mengangguk.

“Masalahnya kalo kita mau bahas dari situ, keterangan Marina nggak cukup, apalagi dia udah bermasalah sama Rama. Kecuali…”

“Kecuali ada yang mau memperkuat keterangan dia,” kata Sakti. Audrey menghela napas dan meraih ponselnya, lalu mencari kontak Marina.

***

Marina tengah mengawasi ikan hias di akuarium di ruang keluarga rumahnya saat Audrey kembali datang berkunjung. “Ini kamu yang pelihara?”

“Iya, tapi sejak sibuk jadi jarang ngurus, Mbak,” ujar Marina. “Ini baru sempet lagi ganti air sama ngasih makan,”

“I see,” Audrey mengangguk. “Marina, saya tahu tempo hari kamu sudah cerita banyak. Tapi saya butuh bantuan kamu sedikit lagi,”

“Tapi kapan Pak Rama ditangkap? Saya udah capek Mbak. Mbak Ody liat kan pemberitaan di luar sana malah ikut mojokin saya? Sekarang saya dianggap murahan, perempuan cuma-cuma, dan nggak tau cerita apa lagi,” Marina mengusap wajahnya, mendadak terlihat kalut.

“Mungkin buat Mbak Ody ini nggak penting, tapi saya nggak mau ngebiarin keluarga saya baca berita nggak bener lebih banyak lagi.”

Setelah pertemuan pertama dengan Marina, Audrey menonton salah satu film televisi yang menampilkan aktingnya.

Bagi Audrey, akting Marina palsu dan sangat kentara dibuat-buatnya. Tapi hari ini, Audrey bisa melihat wajahnya yang sebenarnya.

Rini Mariani yang marah, sedih, dan kecewa, alih-alih persona Marina Olivia yang berada di bawah sorotan kamera dan publisitas.

“Kamu pemberani, Marina,” kata Audrey.

“Nggak semua perempuan yang ada di posisi kamu mau buka mulut, apalagi ketemu wartawan. Kebanyakan dari mereka cuma diam, karena mereka takut nggak dipercaya. Saya sama temen-temen saya percaya sama kamu,”

“Lantas kenapa omongan saya nggak dimuat?” tanya Marina ketus.

“Karena kita butuh lebih banyak bukti dan saksi. Supaya semua orang yakin kalo yang kamu bilang itu bener. Bahwa bukan cuma kamu yang mengalami, dan mungkin Rama bukan satu-satunya orang yang nyari duit dengan cara kayak gini,” jawab Audrey.

“Saya yakin banyak yang mau cerita pengalamannya. Hanya saja saya nggak tau harus cari mereka di mana. Tapi kalo kamu mau bantu saya, mungkin saya dan temen-temen saya bisa menemukan mereka,”

Marina menatap Audrey selama beberapa saat sebelum menjawab. “Ada beberapa nama yang saya bisa kasih. Tapi ini jangan disebar ke siapa-siapa ya?”

“Saya janji, Marina,”

“Rini, Mbak,” jawabnya. “Panggil saya Rini aja.”

***

Audrey menyerahkan buku catatannya ke Jefri dan Fikri.

“Kalian silakan bagi tugas ya, ketemu mereka semua, ajak ngobrol, ajak cerita. Ini mungkin nggak semua jaringannya Rama, tapi menurut gue malah lebih bagus, karena kita ngebahas sistem prostitusinya secara umum dan bukan ngincer satu pemain doang,” tuturnya.

“Bisa kan?” Audrey menatap kedua anak buahnya.

“Bisa, Mbak,” jawab Fikri, sementara Jefri hanya mengangguk singkat. “Sip,” Audrey kembali ke bangkunya dan mulai mengetik laporan.

Sambil mengetik, perhatiannya teralih ke ponselnya. Pesan yang diam-diam dia tunggu seharian belum muncul.

Mungkin nanti malam.

***

Dua jam kemudian

Sambil mengerjap-ngerjapkan mata, Audrey mematikan komputer dan mulai membereskan tasnya. “Jef, gue balik ya,” katanya.

“Iyalah, istirahat sana, Mbak, udah seharian liputan kan?” jawab Jefri. “Kalo ada apa-apa, handphone gue nyala kok,”

“Tenang, beres semua kan, deadline juga aman. Eh, balik naik apa? Dijemput?”

Audrey menggeleng. “Naik taksi paling,”

“Lho emang ke mana dia?”

“Masih ngantor kayaknya,” jawab Audrey. “Yuk, duluan ya.”

Ke kantor sejak pagi, rapat, lalu bertemu Marina, kembali ke kantor dan bekerja, sudah cukup jadi alasan Audrey menyandarkan punggungnya di tembok lift dan memejamkan matanya sejenak.

“Audrey? Sakit?” Audrey cepat-cepat membuka mata. Mas Bara baru saja masuk ke lift dan memandanginya bingung. “Eh, Mas Bara. Nggak, Mas. Saya… cuma capek,” kata Audrey cepat-cepat.

“Abis liputan?” tanya Mas Bara. Audrey agak menyesali sikapnya barusan; sekarang Mas Bara menatapnya seakan khawatir dia akan ambruk sewaktu-waktu.

“He-euh, biasa ada laporan khusus,”

“Oh,” Mas Bara manggut-manggut. “Soal apa?”

“Nantikan di Jakarta Chronicles,” ujar Audrey sambil nyengir.

“Udah lewat deadline pun masih ngiklan ya, Drey,”

“Harus dong,” Mas Bara geleng-geleng kepala mendengar jawabannya. Namun, ekspresinya berubah lebih serius dalam sekejap. “Kamu capek banget mukanya. Udah makan belom? Saya ada cokelat nih,”

“Udah kok, Mas, cokelatnya buat Aya aja,”

“Hush. Untung anaknya nggak di sini, Drey,”

“Kenapa emang?”

“Kalo Aya denger kamu ngomong gitu, kesenengan nanti dia dibelain sama Tante Audrey boleh makan cokelat sering-sering,” Mas Bara tersenyum.

Beberapa kali mengobrol dengan Mas Bara, Audrey mengamati senyum terhangat laki-laki ini adalah setiap dia berbicara soal Aya.

Mereka berjalan bersisian sampai ke lobi. “Kamu naik apa, Drey?”

“Taksi,”

“Bareng saya aja. Udah malem lho,”

“Jangan, Mas,” kata Audrey cepat-cepat. Sebaik dan sesopan apapun Mas Bara padanya, dia merasa tidak layak kalau harus menumpang pulang.

Apalagi, Audrey masih tidak bisa mengartikan setiap gesture dan kata-kata yang diberikan laki-laki ini kepadanya. Selama Audrey belum bisa memastikan, dia akan terus memasang jarak aman dari Mas Bara, agar tidak ada salah sangka.

Baik itu dengan Mas Bara, dan terutama Ezra.

Mas Bara memandanginya setengah tidak percaya. “Kamu tadi udah mau ketiduran di lift, nanti naik taksinya gimana?”

“Justru kalo naik kendaraan umum saya melek kok, Mas. Beneran. Saya nggak mau ngerepotin Mas Bara atau bikin Mas Bara telat ketemu Aya,” jawab Audrey cepat-cepat.

“Bener?”

“Iya. Nih saya lagi pesen,” Audrey menunjukkan aplikasi di ponselnya. Mas Bara mengangguk, tetapi dia tidak beranjak. “Ya udah. Tapi saya tungguin sampe taksi kamu dateng ya?”

Audrey tahu, menolak hanya akan membuat mereka berdebat lebih panjang. Dan malam ini, dia terlalu lelah untuk melakukannya.

Selama beberapa saat, Audrey melirik Mas Bara yang tengah mengecek sesuatu di ponselnya. Iseng, dia bertanya hal yang diam-diam membuatnya penasaran.

“Kerja di majalah lifestyle seru nggak sih, Mas?”

“Hmm… ya ada serunya, ada nggaknya. Kenapa?” Mas Bara mengernyit melihat Audrey nyengir.

“Di tempat Mas kan mayoritas cewek tuh. Kalo saya sih, ngeliatnya pasti seru dan rame. Kalo Mas Bara gimana?”

“Kalo rame sih jelas, Drey. Kayaknya mereka ada aja yang diceritain, saya aja sampe bingung,”

“Ya Mas sesekali nimbrung dong,” jawab Audrey.

“Masa mereka curhat soal pacar masing-masing, saya harus ikutan?”

“Lho, emang kenapa? Kali aja Mas Bara bisa ngasih perspektif cowok, ya kan?”

“Hahahaha, ini kamu ketahuan sering dicurhatin ya?”

“Dikit,” Audrey mengakui. Sempat tergelitik untuk dia bertanya ke Mas Bara soal Mbak Savira. Namun, Audrey memutuskan pertanyaan itu sepertinya terlalu personal.

“Kalo saya sih ngeliat anak-anak di majalah ya seperti rekan kerja aja. Mau itu cowok, cewek, reporter, editor, intern, kalo kerjanya bener ya saya seneng, kalo nggak, baru saya omelin,” tutur Mas Bara.

Obrolan mereka berdua terputus saat sebuah taksi memasuki halaman kantor. “Mas saya duluan ya,”

“Hati-hati ya, Drey.”

***

Audrey sudah ingin sekali merebahkan diri di tempat tidur, saat ponselnya berbunyi.

Ezra Galih Ananta

hey. Udah balik?

Maaf ya baru sempet ngabarin.

Btw, minggu depan aku ada DLK. Ke Bali.

Tanpa sadar, Audrey menggigit bibir membaca pesan itu.