38. Ezra

Pagi

Dari balik mejanya, Mas Sakti menatap Audrey lekat. “How are you doing?” tanyanya.

“Fine,” Audrey otomatis menjawab.

“Udah ngomong sama Eca?” pertanyaan Mas Sakti barusan sukses membuat Audrey menelan ludah.

Ini mirip ketika Mas Sakti memanggilnya dan Jefri usai Jefri berkelahi dengan Joni.

Usai rapat pagi, Mas Sakti meminta Audrey ke ruangannya. Audrey sudah tahu, cepat atau lambat Mas Sakti pasti ingin dia menjelaskan insiden di area parkir antara Mas Bara dan Ezra; Mas Sakti hanya berbaik hati memberinya waktu menenangkan diri.

Sudah adalah jawaban yang benar untuk pertanyaan Mas Sakti. Sayangnya, lidah Audrey mendadak kelu teringat percakapannya dengan Ezra semalam.

Mas Sakti menatapnya sambil mengetuk-ngetukkan kuku ke meja. “Dy, jadi sebenernya ada apa sama lo dan Eca dan Mas Bara?”

Mas Sakti mau aku mulai dari mana? Bahwa editor Mas Sakti ini blunder besar?

“Dy?” Mas Sakti masih menatapnya.

“Masalahnya… personal, Mas,” lidah Audrey pahit sekali saat mengatakan hal itu.

I know. Gue sering liat Eca sewot, bahkan galakin narasumber, tapi nggak pernah sampe kayak gitu. Liat lo ada di TKP, pasti ada hubungannya sama lo,” jawab Mas Sakti, lalu menghela napas.

Look, ini udah dua kali Chronicles terlibat urusan begini sama anak bawah…” gumam Mas Sakti.

“Gue tau bukan lo yang terlibat langsung dalam perkelahian itu dan gue bisa liat bahwa lo sangat affected. Tapi sebagai atasan lo, gue harus kasih lo peringatan kayak Jef dulu. That being said, this is your verbal warning,

“Iya, Mas, aku ngerti,” kata Audrey, mendadak merasa tenggorokannya kering.

“Permintaan gue cuma satu: sort your problem out. Bisa kan?”

Audrey hanya bisa mengangguk. Namun, Mas Sakti tampak belum sepenuhnya puas dengan respons yang dia dapat dari Audrey.

“Lo tau kan lo bisa cerita sama gue, Dy?” sesungguhnya, Audrey sangat tidak suka dengan tatapan Mas Sakti saat bertanya barusan.

Itu tatapan prihatin dan nyaris iba, sementara Audrey merasa dia tidak layak mendapat sentimen demikian.

Tidak di saat dialah yang jadi sumber gara-garanya.

“Aku tau kok, Mas. Nanti kalo mau cerita pasti aku dateng ke Mas Sakti,” jawab Audrey. Dia bahkan sudah tidak peduli apakah Mas Sakti sadar bahwa dia sedang berbohong.

Setelah semua yang terjadi, rasanya Audrey tidak layak untuk membuat lebih banyak masalah lagi.

***

Semalam sebelumnya

Sisa-sisa memar masih menghiasi wajah Ezra ketika dia muncul di depan pintu apartemen Audrey, begitu juga dengan plester di sudut bibirnya yang robek terkena kepalan tangan Mas Bara.

Dia sama sekali tidak tersenyum kala Audrey membukakan pintu dan menyilakannya masuk. “Mau minum apa?” tanya Audrey.

“Air putih aja, Dy. Aku juga nggak bisa lama-lama,” jawab Ezra datar, sementara Audrey mengambilkannya minum.

Untuk sesaat tidak ada yang bicara; Ezra meminum air putihnya hingga tersisa setengah, sementara Audrey. Mereka memang sepakat bertemu malam ini setelah Audrey menyelesaikan deadline-nya, setelah Ezra akhirnya menjawab telepon Audrey.

“Eca…”

“Jadi kamu sama Bara ada apa?” tanya Ezra sembari meletakkan gelasnya. “And please don’t tell me that there’s nothing going on with you two,” dia cepat-cepat melanjutkan.

Audrey menghela napas sebelum menceritakan semuanya, sementara Ezra mendengarkan tanpa interupsi — dan tanpa menatap Audrey. Hanya sesekali dia menunjukkan reaksi lewat gesture dan perubahan ekspresinya.

Baru setelah Audrey menyelesaikan ceritanya, Ezra memandang Audrey.

“Dari pas aku ketemu kamu sama dia waktu itu, aku tau kok dia naksir sama kamu. Tapi aku nggak bilang apa-apa, karena waktu itu aku pikir aku bisa percaya sama kamu,” Ezra tanpa sadar mengacak rambutnya.

“Tapi sekarang…” dia berhenti, seperti mengumpulkan kekuatan untuk melanjutkan kata-katanya. “Sekarang aku harus nanya ke kamu, Dy. Kamu juga suka sama dia?”

“Eca, kalo aku suka sama Mas Bara, aku nggak akan minta ketemu dan jelasin ini semua ke kamu,”

“Trus kenapa kamu nggak pernah cerita?” sergah Ezra. “Ody, kamu tau kan kita nggak pernah ada masalah kayak gini sebelumnya, meski kita harus pacaran ngumpet-ngumpet. We’ve always been a good team, because I trust you and you know you can trust me,” ujarnya.

“I know,” gumam Audrey.

“Lantas bedanya dulu sama sekarang apa, Dy?” Ezra menatap Audrey tajam.

“Ini bukan soal bedanya dulu sama sekarang,” sergah Audrey. “Aku cuma mau menyelesaikan apapun yang terjadi dengan Mas Bara sendiri. Tanpa harus nyusahin siapa-siapa, terutama kamu. Nggak setelah semua usaha kamu sampe kamu pindah kerja supaya kita nggak perlu takut ketahuan sama Mas Sakti, Mas Fazrin, atau siapapun di Chronicles,”

“Dy, kamu yang bener aja,” cetus Ezra. “Kapan aku pernah bilang kalo kamu, atau hubungan kita berdua nyusahin aku?” sekuat tenaga Ezra berusaha menahan agar nada suaranya tidak naik.

“Aku pindah kerja itu bukan supaya kamu ngerasa nggak enak atau terbebani. Aku udah bilang kan, aku pindah kerja justru supaya aku bisa merencanakan semuanya sama kamu,” tuturnya.

“Kamu tau nggak, dengan kamu ngomong gini, aku yang ngerasa kamu nggak percaya sama aku,”

“Nggak gitu, Ca,” sergah Audrey.

“Tapi kenyataannya kamu nganggep aku nggak cukup layak buat jadi tempat kamu cerita soal orang yang berusaha deketin kamu,” kata Ezra.

“Dy, Bara nyium kamu aja itu udah cukup jadi alasan aku nonjok dia. Tapi lalu dia bilang, bahwa mungkin kamu terima aja dia deketin kamu karena kamu ngerasa aku pacar yang payah. It made me so mad, because I knew you wouldn’t think of me that way,” seperti ada kepalan tangan tak kasat mata meninju ulu hati Audrey saat mendengar omongan Ezra barusan.

“Eca, aku nggak pernah mikir gitu ke kamu,” gumam Audrey.

“Tapi sikap kamu nggak nunjukin hal itu, Dy. Kita selama ini selalu bisa omongin semua masalah, masa untuk hal ini nggak bisa?”

Audrey menggigit bibir bawahnya. Ini bukan percakapan yang dia harapkan terjadi dengan Ezra. Ini bukan maksud dan tujuan yang ingin dia dapatkan.

Ezra menghela napas dan berdiri. “Aku pulang aja deh, Dy,” katanya.

“Ca, maksud aku nggak gini,” Audrey mengikutinya berdiri. “Aku nggak pernah ngerasa kamu payah atau nggak cukup baik.”

Kalau aku ngerasa kamu nggak cukup baik, aku nggak akan tahan pacaran ngumpet-ngumpet sama kamu. Nggak akan mau berusaha sama kamu.

Eca, this is the time when I need you to trust me the most. Please.

Ezra meringis pelan. “Dy, besok aku harus wawancara petinggi klub yang dateng ke kantor. Aku perlu nyiapin bahannya,” kata Ezra. “Dan mungkin kita harusnya nggak ketemu dulu sampe kamu yakin kalo kamu emang bisa percaya sama aku atau nggak.”

Audrey berdiri mematung saat pintu apartemennya menutup dari luar, menutupi pandangannya dari punggung Ezra, orang terakhir yang ingin Audrey sakiti.

***

Sore

“Sigra, yang berita dari konpers boleh diketik duluan nggak? Buat halaman 1 soalnya,” Audrey mendekati Sigra yang tengah mendengarkan ulang transkrip rekamannya.

“Oh, oke, Mbak, ini juga tinggal ngecek ulang quote-nya udah sesuai apa belum, sama paling nambahin dikit,” jawab Sigra.

“Sip. Makasih ya,” Audrey hendak berbalik saat Sigra memanggilnya. “Mbak, ini gue takut lupa. Bentar…” dia merogoh tasnya dan menyerahkan sebuah kemasan kotak kecil.

“Teh?” Audrey tertegun memandang benda yang disodorkan Sigrra. “Gue perasaan nggak nitip lo kan tadi?”

“Emang nggak. Itu titipan Aless. Katanya buat lo,” jawab Sigra.

“Aless? Aless anak majalah kan?” Audrey mengulang.

“Iya, Aless mana lagi yang kita sama-sama kenal?”

“Tolong bilang ke Aless, makasih ya. Nih kayaknya besok juga udah abis sih sama kita berlima di desk metro,” jawab Audrey tersenyum.

“Bukan buat anak metro, tapi buat lo, Mbak. Kasih buat Ody, gitu katanya,” jelas Sigra, lalu berdiri mendekatinya.

“Lo nggak apa-apa?” tanyanya.

Babak belur, Ga.

“I’m fine, Ga. I have to be fine. Thanks ya,” jawab Audrey.