Membayangkan kematianku.

Pada yang tidak pernah aku ucapkan. Kau

merawat kutukan lama agar lupa menginginkan mantranya. Jangan

tertawa seperti meramu semesta majas dalam satu tangismu. sebab

tidak mampu kurekat jurang tanda tanya hanya dalam satu pelukan kata. karna

tidak ada penyair yang menghukum artefak jadi batu. dan kalimat

kalimatmu yang berakhir diburu kekasih medusa. kecuali

ia meninggalkan sebuah rindu. sebab aku

akan merapal konstelasi namamu jadi bintang. dan

apa apa yang terbakar telah tunduk pada malam. agar

kedalaman matamu menyediakan tempat untuk ku tenggelam. Sehingga tidak

ada lagi yang terlalu jauh dari sebuah janji. yang

menawarkan rumah dan jalan pulang padaku. selain kebohongan

yang patuh menyembah air matamu. atau langit

sore ini yang akan menjatuhkan banyak kesedihan baru. mungkin

kau menamakannya hujan. saat bumi

tidak lagi membentuk sebuah kata benda. dimatamu

luka luka merangkai sendiri puisi puisi. kematian

kekasihmu dalam dongeng khayalan yang tidak ingin nyata. Tapi marah

ketika melihatku bergurau memerankan kepergiannya. apa yang

dapat mencapai egomu? selain

sebuah perpisahan yang aku siapkan sendiri. untuk

kemustahilan dimana kau akan memintanya pada suatu hari. sebab kau

Tidak pernah membayangkan kematianku.

Like what you read? Give loza a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.