Jika puisiku tidak menginginkanmu.

masa lalu membeli detik jarum jam tapi berhenti berjalan mundur.

aku bisa melihat spasi spasi kenangan itu menyatu dan mulai bertengkar dikedua matamu.

dihitung jarak yang terlalu dekat sehingga kau benci menamakannya waktu; atau aku.

Puisi pertama memecahkan gelas kaca kosong berisi ingatan yang lupa pernah dilupakan.

aku ingin menemukan tempat dimana meninggalkanmu menjadi lebih mudah dengan membiarkannya berserakan.

aku ingin bermain main dengan metafora yang lupa memeluk kata kerja.

Seperti kau yang sengaja melamar perpisahan. Mengurai ketiadaanmu jadi ombak ombak pasang.

Saat puisiku tak lagi menginginkanmu, aku ingin kepergian mengembalikanku.

mengingatkan kepulangan menunggu, untuk ditinggalkan sebagai rumah dari rindu rindu.

aku ingin mencari rumahku sendiri.

yang dapat ku salahkan sebagai muasal seluruh kehancuran yang kalah oleh rasa ingin memiliki.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.