Untuk kalian, mahasiswa dari kalangan menengah-atas yang ngekos

Lulu Firdaus
Aug 25, 2017 · 2 min read

Nyadar ga sih, sebenernya kalian tuh beruntung? Terutama yang kosannya bagus dan kiriman uangnya lancar. Kalian tuh kek dikasih tiket ke wahana roleplaying sekian dimensi, minus risiko yang emang bener-bener bikin pusing. Kalian ga harus mikir uang buat makan besok cukup atau engga. Ga harus mikirin uang sewa bulan depan kebayar atau engga. Ga harus mikir apa pun kecuali kehidupan kampus.

Mau ngurus adek yang lagi sakit atau dateng latrut ukm? It’s an obvious question. Malah mungkin pada gatau juga adeknya sehat atau engga. Cucian bisa ditumpuk tiga hari, seminggu juga oke. Ga harus nyuci sekeranjang penuh tiap malem. Pulang lewat tengah malem juga woles asal punya kunci gerbang kosan.

Emang sih tetep harus jaga diri, ngingetin diri sendiri buat belajar, etc etc. Mungkin bakal homesick juga ujung-ujungnya. Harus disiplin ngatur diri dan living space, kalo engga ya susah sendiri. Tapi kalian beruntung.

Not everyone could taste that freedom before he earned it himself.

Kalian mungkin harus beradaptasi sama lingkungan baru, tapi kalian juga dapet banyak temen who worth the effort, right? Kalian ga perlu buru-buru pulang sebelum jam 9, orang kosan tinggal jalan 10 menit sampe. Kalian bisa eksplore diri di kampus semaksimal mungkin.

Dapet banyak berkah juga. Suka tiba-tiba disuruh ikut seminar dadakan kan pas lagi berusaha belajar di perpus? Terus ternyata pematerinya WNA, Kaukasia, dan ngomongin isu yang kalo kita bisa jelasin ulang keren didengernya. Jackpot.

Ga sengaja ngobrol ngalor-ngidul sampe pagi dengan orang yang ternyata partner paling berharga kalian juga bisa.

Kalian ga diteriakin ga boleh a b c — yang sebenernya tidak mengganggu khalayak — di kamar. Ga disuruh nyapu halaman tiap pagi. Ga ditatap melas sama ortu yang minta pijet, padahal tugas deadline-nya besok.

Kalian bisa fokus sama apa yang kalian anggep penting. Gaada yang ngritik kalo target yang udah kalian tentuin tuh ketinggian atau ga bermanfaat atau [insert your meanest insult here]. Ga ada yang bilang mending ngapalin kitab daripada belajar bahasa Spanyol. Nobody stops you from expressing yourself as far as the law allows you to.

Beberapa orang mungkin bakal bilang ini pemikiran yang egois. Tapi egois perlu di saat-saat tertentu. Dan ini salah satunya. Ga terlalu tinggi mungkin konsentrasinya, tapi dibutuhin.

Mungkin kalian bisa bantu gue yang orang tuanya relatif agamis-konservatif-pesimis dan berdomisili cukup jauh dari kampus — far enough that I need two hours to commute everyday, but not enough to justify moving out as the only possible option — dengan doa agar gue diizinkan beraktivitas lebih banyak dan lama di kampus. Sekian.

)
Lulu Firdaus

Written by

새 인생이 원하다

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade