Kemerdekaan Untuk Berpikir

Berpikir dengan santun, demi kemerdekaan diri dari jajahan nilai-nilai yang kita yakini secara buta

Media di Indonesia belakangan ini seringkali membahas isu sosial dari kacamata moral. Seringkali dengan mencantumkan wawancara dengan tokoh yang memakai moralitas sebagai justifikasi terhadap keputusan yang diambil. Konsep moral tampaknya menjadi landasan utama bagi banyak orang untuk mengambil keputusan, sedemikian hingga argumen moral dianggap cukup menarik dan cukup mudah dipahami oleh para pembaca media.

Saya pikir bisa saja kita memakai moralitas untuk mendasari argumentasi kita. Sudah selayaknya kita sebagai individu yang bebas dan merdeka memanfaatkan filsafat yang kita percayai untuk menjadi acuan pemikiran dalam membuat keputusan. Tidak ada teori yang bebas dari landasan-landasan filsafati ini.

Opini kita terhadap isu sosial juga sarat dengan nilai filosofi yang kita percayai, meskipun seringkali mungkin kita lupa mengkaji dan memaparkan nilai-nilai yang menjadi landasan kita membentuk opini. Mungkin di sini kita perlu lebih santun dalam berpikir tentang opini yang sedang kita susun.

Dalam konteks fenomenologi dan psikologi kognitif, saat kita mengamati sebuah fenomena, tanpa disadari kita sedang menyusun sebuah narasi tentang fenomena tersebut. Narasi ini dibangun menggunakan berbagai model konseptual yang ada dalam ruang pikir kita. Kita menyusun narasi tersebut sebagai model atas apa yang sedang kita amati, sedemikian rupa sehingga model ini bisa menjelaskan pengamatan tersebut.

Opini, sebagai sebuah konstruksi gagasan, adalah satu bentuk model konseptual yang umum kita temukan di keseharian kita. Dalam berbagai ruang komentar di berbagai media, kita bisa melihat ragam opini yang sarat dengan nilai-nilai filosofis yang dianut penulisnya. Namun sayangnya, banyak sekali penulis yang tidak lihai menyusun narasi dan argumen yang ingin disampaikannya. Bahkan tidak jarang kita lihat opini yang bukan hanya sulit dipahami, namun rangkaian antar argumentasi yang ditawarkannya secara filosofis tidak konsisten, dan dengan mudah ambruk menghadapi analisis yang kritis.

Bagaikan sebuah mesin yang kita ciptakan untuk suatu tujuan, sebuah opini yang mudah ambruk menghadapi terpaan analisis yang kritis bukanlah opini yang cukup baik untuk ditawarkan. Bila kita bayangkan opini sebagai sebuah mesin yang terdiri dari banyak bagian, maka niscaya kita perlu memahami bagaimana satu komponen terhubung dan bekerja dengan komponen lain.

Salah satu bagian yang seringkali lupa kita analisis saat kita menyusun opini adalah landasan filosofis. Kita terbiasa memahaminya sebagai sesuatu yang demikian adanya, baku, dan tidak perlu diuji keberlakuannya. Tidak ubahnya seperti kita membeli baterai sebagai komponen jam, dan memasangnya tanpa tahu bagaimana baterai bekerja. Yang penting baterai, bisa menyediakan listrik untuk jam, sisanya entahlah apa.

Sungguh penting bagi pembuat opini untuk memikirkan kembali landasan pemikiran ini. Tepatkah memakai kacamata moral untuk membahas ekonomi? Sejauh mana konteks moralitas bisa bekerja untuk masalah ekonomi? Bagaimana mengukur dan menguji ketepatan penggunaan landasan filosofis ini dalam membuat model? Bisakah landasan ini digantikan oleh gagasan lain, dan apa dampaknya? Banyak pertanyaan yang bisa muncul dari kejelian memahami gagasan ini sebelum kemudian menulis opini yang mudah runtuh ketika dianalisis lebih mendalam.

Hal lain yang sering terabaikan dalam menyusun opini adalah struktur kalimat dan kelugasan bahasa. Tidak jarang kita menemukan opini yang dituliskan dengan jargon-jargon yang terdengar keren, namun membuat kita bertanya-tanya apa maksud penggunaan jargon itu. Kiranya ini salah satu contoh ketidakjelian dalam menyusun sebuah model. Meskipun jargon hadir sebagai sebuah representasi spesifik dari sebuah rangkaian gagasan, namun akan lebih indah bila kita dapat menjelaskan secara lugas konsep spesifik yang diwakilkan oleh jargon tersebut. Menggunakan jargon tanpa menjelaskan maksudnya seringkali justru mengaburkan gagasan yang ingin ditawarkan, seakan hanya kalangan tertentu saja yang boleh memahami gagasan tersebut. Atau mungkin memang penulisnya tidak memahami makna mendasar jargon tersebut sehingga, mau tidak mau, hanya bisa menggunakan jargon tersebut sebagai tambalan pada kekosongan gagasan.

Opini tak ubahnya sebuah dugaan yang perlu dapat diuji keberlakuannya. Dugaan ini boleh salah, namun kita tidak akan pernah tahu keberlakuannya bila kita tidak mengujinya. Cara pengujian dugaan ini, yang paling umum dilakukan, bisa melalui metode ilmiah dan segala detailnya. Tentu saja bila kita membahas metode ilmiah di sini, maka mungkin 8 tahun kuliah pun masih belum cukup.

Amat disayangkan bila kita kemudian melupakan pengujian dugaan ini, dan menggantinya dengan keyakinan bahwa dugaan itu benar. Bisa saja dugaan itu benar tanpa perlu diuji, namun syarat-syarat logika perlu dipenuhi dalam menyusun dugaan, dengan landasan-landasan pemikiran yang setidaknya sudah teruji keberlakuannya dalam konteks tertentu.

Kadang menyitir perkataan orang lain sudah dianggap cukup untuk membenarkan sebuah pemikiran. Namun kiranya ini salah satu bentuk kemalasan berpikir. Hanya karena seorang pakar berkata sesuatu, bukan berarti hal tersebut pasti benar. Mungkin saja pakar tersebut benar dalam satu konteks, bisa saja salah di konteks lain. Mengetahui kutipan apa yang layak digunakan untuk melandasi satu pemikiran bukan hal yang remeh.

Kiranya bila kita memang serius hendak memahami sesuatu, lebih baik datang dengan pertanyaan, dan kemudian berjungkir balik mencari berbagai alternatif jawaban sebagai dugaan untuk diuji keberlakuannya dalam berbagai konteks, sehingga kita bisa tahu batasan-batasan keberlakuan gagasan tersebut.

Kita bebas berpendapat apapun terhadap apapun, tapi jangan sampai kebebasan berpendapat ini membuat kita lalai berpikir sebagai manusia yang bebas. Tidak elok bila kita menjadi budak dari gagasan-gagasan kita, terpenjara dalam prasangka dan keyakinan yang belum tentu bermanfaat untuk membantu kita memahami kerumitan dunia nyata.

Selamat berpikir. Selamat merdeka. Selamat menjadi manusia bebas.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.