Semangkuk Opini Di Sore Hari

Saya jatuh cinta pada mangkuk ini.

Sungguh naksir, sampai saya menghabiskan waktu cukup banyak untuk sekedar menonton video proses pembuatan mangkuk ini. Mencari tahu dengan teliti keuntungan dan kerugian dari memiliki mangkuk ini,
dan apa saja yang perlu dilakukan untuk merawat mangkuk ini.

Karena harganya yang agak kurang ajar, saya coba cari produk yang analog dengan fitur yang kurang lebih mirip dan harga yang lebih masuk akal. Setelah menghabiskan beberapa lama untuk mencari tahu tentang pasar mangkuk makan di jakarta, saya menemukan beberapa kecenderungan menarik.

Pertama, tampaknya kebutuhan akan sesuatu yang bertahan lama bukan prioritas utama. Mungkin nomor sekian setelah harga dan ketersediaan.
Ini masuk akal sih, yang penting bisa punya dulu aja. Dengan harga murah dan ketersediaan yang besar, kalau pun rusak bisa dengan mudah ganti
beli baru. Bahkan tanpa perlu beli juga bisa. Mangkuk dan piring seringkali diberikan secara gratis bila membeli barang-barang lain. Demikian umumnya praktik ini, kita seringkali mendengar ‘sekali lagi dapat piring/gelas/mangkuk/payung cantik’ di keseharian kita. Nilai mereka dipersepsikan marginal karena itu.

Di sisi lain, para produsen sungguh mengenali kebutuhan pasar akan alat makan. Piring, mangkuk, dan gelas menjadi barang-barang yang efektif mendorong penjualan untuk barang-barang kebutuhan rumah tangga. Mereka juga mengenali marginalitas nilai barang-barang tersebut sehingga mereka berlomba membuat piring, mangkuk, dan gelas yang murah dengan desain yang cantik.

Alhasil, dari riset sederhana selama 3 bulan, saya menemukan beberapa
hal menarik seperti misalnya ini:

Ada dua kelas peralatan makan yang umum dijumpai di pasar. Yang murah dari kaca dan plastik, juga seng (meskipun yang ini agak langka sekali
di jakarta); dan yang mahal dari keramik dan porselain. Ketersediaan ini terdistribusi sedemikian rupa sehingga saya bisa 95% yakin, setidaknya
85% piring, mangkuk, dan gelas yang ada di setiap rumah di jakarta bernilai di bawah 150 ribu per buah.

Pola yang sama dengan ini juga teramati di beberapa barang lain yang saya minati. Mulai dari alat tulis sampai ke pakaian, meskipun untuk sebagian merk yang saya sukai, nilai tukar rupiah membuat distribusinya agak menyimpang. Jika kita coba menggeneralisasi, ada kecenderungan bahwa dua kelas utama barang di jakarta ada di kelas barang murah utilitarian
yang didominasi barang dari cina, barang mewah dari produsen barat,
dan ada ruang kosong untuk barang di antara kedua spektrum ini.

Ruang kosong ini pernah diisi oleh barang2 dari Jepang dan Amerika
ketika pasar Indonesia tahun 80an didominasi barang mewah dari Eropa
dan barang murah dari Cina. Namun pasca 98, sepertinya barang dari Amerika pun terdorong ke kanan karena daya beli kita yang lemah sebagai efek dari lemahnya nilai tukar terhadap dollar. Ruang kosong yang sepertinya sekarang diperebutkan oleh produsen Korea dan Jepang.

Fenomena ini menarik untuk diamati. Indonesia sedang berkembang,
dan tidak mengherankan kalau banyak yang memperebutkan pasar Indonesia yang besar ini. Namun rasanya agak mengherankan kalau pasar yang berkembang paling besar ada di kelas barang murah dan barang mewah. Tidak ada pertumbuhan yang seimbang di kelas yang menengah.

Mungkin ini pendapat yang sangat konservatif, tapi saya kira ketika suatu bangsa sedang bergerak maju, pertumbuhan pasar untuk barang murah
akan berkurang, digantikan dengan pertumbuhan pasar untuk barang
kelas menengah dan pertumbuhan yang konsisten rendah di barang mewah.
Yang terjadi di sini justru pertumbuhan barang murah yang menggila, ditemani pertumbuhan barang mewah yang juga meningkat.

Mungkin ini preferensi pribadi, tapi saya kira lebih bermanfaat untuk membeli barang yang meskipun sedikit lebih mahal, bisa bertahan lama, dengan fitur yang mungkin tidak bisa didapat dari produk lain. Mungkin
saya terlalu terbiasa berurusan dengan dinamika pasar sehingga saya melihat barang mewah sebagai sesuatu yang sekedar gaya dan prestise, dengan fungsi minimal, dan barang murah sebagai sekedar fungsi dasar tanpa keunggulan yang lebih dari sekedar tampilan saja.

Saya kira lebih bermanfaat mendapatkan barang yang berada di titik optimal antara fungsi, gaya, fitur, dan kualitas produksi. Bagi saya, barang murah maupun barang mewah tidak memiliki keseimbangan antara aspek-aspek tersebut.

Mungkin pasar Indonesia terbiasa dengan apa yang tersedia saja, tanpa terlalu mempedulikan detail-detail yang lebih mendalam. Sekedar ‘ini
sudah ada, ya sudah pakai saja.’ dan para produsen pun tidak terdorong untuk mencari solusi yang lebih mendalam, sekedar ’ini saja cukup,
yang selanjutnya lain kali saja.’

Jika diandaikan pasar Indonesia terlalu malas, mungkin kurang tepat juga. Mungkin pasar Indonesia terlalu kompleks. Produsen dan konsumen terlalu sibuk mengimbangi dinamika pasar sehingga tidak ada waktu dan tenaga untuk mengembangkan produk yang lebih seimbang di berbagai aspek.

Saya sedang memikirkan itu semua ketika sebuah berita hadir mengusik, tentang seorang redaktur yang digugat karena korannya memuat kartun tentang ISIS. Sebagai seseorang yang terpengaruh kuat oleh liberalisme, sosialisme, dan pendekatan empiris, rasanya agak tolol untuk percaya
bahwa menghina ISIS sama dengan menghina Islam. Tapi mungkin bagi orang-orang di seberang sana, menghina ISIS yang memakai atribut keislaman untuk menjustifikasi tindakannya sama dengan menghina Islam. Saya tidak ingin terlibat dalam diskusi ini.

Yang justru menarik adalah bahwa perilaku terhadap pembelian barang bisa seiring sejalan dengan perilaku adopsi sebuah nilai. Masih jauh lebih mudah menemukan penyebar opini populer yang menawarkan kosmologi yang sekelas dengan barang-barang mewah dan barang-barang murah daripada kosmologi yang lebih berimbang.

Masih jauh lebih murah untuk sekedar menyamakan ISIS dengan Islam, topi Sinterklas dengan Kristen, atau mengucapkan Selamat Natal dengan kekafiran. Atau kita bisa pilih yang lebih mewah dengan mengutip kalimat-kalimat pujangga dalam obrolan sehari-hari sambil membandingkan satu dengan yang lain sekedar atas suka dan tidak suka saja.

Pasar opini mungkin tidak jauh berbeda dari pasar barang konsumsi lain. Media gosip dan kabar kabur lebih populer daripada media opini
yang lebih berkelas, namun keduanya pun masih lebih populer daripada media yang menawarkan opini dan analisis yang mendalam dan berimbang.
Seakan kita terpenjara dalam keterpisahan yang mendasar tentang cara
kita memandang dunia. Yang murah, dengan hiburan-hiburan yang ringan
dan remeh; dan yang mewah dengan sajian adiluhung yang penuh gaya
dan prestise. Kita tidak lagi punya ruang untuk sesuatu yang lebih kompleks, mencari titik seimbang dalam memahami sesuatu dengan lebih kaya.

Cukup lah sekedar bisa melewatkan sore hari minum kopi di café, berbincang tentang apa yang benar dan apa yang semestinya benar, atau membicarakan kelakuan selebriti yang ‘kok gitu banget’. Berusaha untuk merasa lebih baik dengan mencari-cari cara menempatkan sesuatu yang tidak disukai agar tampak lebih rendah dari apa yang disukai.

Atau mungkin memang pasar opini lahir untuk memuaskan ego dan emosi seseorang, yang penting tersedia sesuatu untuk membuat seseorang merasa keren dan diterima secara sosial, yang mampu dibeli seseorang.
Bisa aktivitas macam ikut DWP, menonton JKT48, menangis bersama menonton Doraemon, atau bersama-sama berteriak mengecam kenaikan
isu BBM. Hiburan mewah atau murah, kosmologi mewah dan murah, semuanya ada, tinggal pilih mana yang lebih sesuai dengan kemampuan kita.

Saya berharap analogi ini berhenti di sini. Akan sangat menyedihkan kalau kita sampai bisa 95% yakin bahwa 80% kehidupan kita diisi oleh opini eceran yang sekedar memuaskan ego dan emosi saja. Opini yang hari ini didengar untuk kemudian dicerca dan ditertawai.

Tapi saya cukup paham dengan keterbatasan kita. Setiap hari kita sibuk mencari makan, memperbudakkan ego dan mengorbankan emosi untuk memastikan bisa makan sampai akhir bulan. Mungkin memang tidak perlu berpikir panjang dan mendalam untuk mencari titik keseimbangan antara
ini semua, untuk mencari kosmologi yang mampu bekerja seumur hidup. Mungkin lebih penting, untuk kita yang tertindas ini, untuk sekedar membeli rangkaian opini yang ditawarkan eceran dari penjual-penjual yang sudah populer. Yang penting punya sesuatu untuk didengar sekarang dan dicerca kemudian. Toh besok akan ada lagi sesuatu yang baru untuk menggantikan yang sudah usang kemarin.

Mungkin saya cuma kesal karena begitu sulitnya saya mencari barang-barang dan opini-opini yang cukup memuaskan untuk bisa saya konsumsi.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.