Target Presiden vs Target Menteri

“Kita Langsung Kejar target!” adalah kalimat yang sering keluar dari presiden kita. Kalimat itu selalu diucapkan saat pembangunan infrastruktur di mana pun, termasuk dalam hal pengembangan parawisata.
 
 Dalam logika pemikiran orang normal, orang tak mungkin langsung menuju target. Bahkan dalam penelitian ilmiah saja, target yang sesungguhnya baru bisa ditetapkan setelah melalui berbagi hipotesa.
 
 *****

Lantas bagaimana memahami diksi sang presiden ini? Para menteri tak satu pun yang berhasil menterjemahkannya dengan baik. Mereka bahkan terpkasa diotak-atik, berganti posisi, bahkan harus dikeluarkan dari lingkaran kabinet kerja.
 

Mengapa bisa terjadi?

Jawabannya sederhana. Kalimat “langsung menuju target” dari presiden adalah bahasa marketing, dan oleh karenanya bisa diterjemahkan dengan ungkapan “jemput bola”. Artinya, “segeralah mulai bekekerja!” atau “Ya sudah, langsung kerjakan saja!”
 
 Sementara para menteri yang kebanyakan berasal dari kalangan akademisi malah menterjemahkan target sebagai hasil. Mereka pun berlomba menuntaskan pekerjaan di departemen masing-masing. Ada yang langsung menembaki kapal asing yang masuk ke perairan RI. Ada juga yang mulai meributi Freeport karena pembagian laba yang tak adil.
 
 Selain itu, ada juga menteri yang malah ingin mereduksi pendidikan keluarga sepenuhnya dalam pendidikan sekolah formal. Jangan lupakan Mendagri, yang juga tak mau ketinggalan kejar target. Dia sibuk dengan target e-KTP yang dulu ditentang dan dipersoalkan partainya PDIP.
 
 Kebetulan juga Cahyo Kumolo, sang mendagri itu politisi murni, hingga melupakan kasus korupsi pengadaan e-KTP dijaman Gamawan, sang pendahulunya. Cahyo bahkan belum bisa menjelaskan secara gamblang apa bedanya e-KTP dibanding KTP biasa. Ia hanya tahu kalau dengan e-KTP seseorang lebih mudah dilacak, terutama ketika ia tak menaati tax amnesty dari bos-nya.
 
 
 Pertanyaannya, seperti itukah maksud presiden?
 
 Dugaan saya tidak seperti itu. Sebab, kita semua tahu bahwa Jokowi bukanlah seorang akademisi yang terbiasa menulis jurnal atau melakukan penelitian.
 
 Jokowi itu orang lapangan yang terbiasa menyapa siapa saja, karena ia yakin bahwa setiap manusia yang ditemui/dikenalnya adalah potential market atau potential customer.
 
 Di titik inilah para menteri sering salah hingga di-ekkes (istilah anak-anak Seminari Siantar yang artinya ‘dikeluarkan’). Sekali lagi, Jokowi tak bermaksud target (Anda harus menghasilkan sesuatu!) itu hasil, melainkan start (mulailah bekerja sekarang!).
 
 Itu style-nya presiden, yang memang tak memiliki perbendaharaan kata sebanyak para menterinya yang lama bergaul dengan buku dan terbiasa mengajari orang lain.
 
 Jadi, yang harus segera dilakukan para menteri adalah memahami presiden alias pemimpinnya… bukan malah menjalankan instruksi berdasarkan kebiasaan mereka.
 
 Mengutip Cak Lontong, para menteri, gubernur, bupati, camat hingga kepala desa sudah semetinya “MIKIR!”
 
 
 Lusius Sinurat


Originally published at www.lusius-sinurat.com.