Sep 6, 2018 · 1 min read
30 Desember 2014
Aku berjalan. Diantara lampu kota. Melewati sepinya jalan.
Kau dan jaket birumu. Dibalut pelukan jemarimu dibalik sarung tangan itu.
Asap keluar dari mulut pejalan. Dingin begitu menusuk. Air yang membeku turun. Angin menghembuskan sajak-sajak nestapa.
Kami merindukan sebuah kehangatan. Sebuah kedai memanggil untuk datang. Seakan mewujudkan doa pada malam itu. Malam kian panjang. Kami berjalan menembus waktu.
Harapan itu terwujud, saat aku terlelap dalam pelukanmu.