Agama: Bahasa Cinta dengan Tuhan

Menguatnya politik identitas yang beberapa waktu lalu terjadi pada PILKADA Jakarta memunculkan kegaduhan dan ketegangan yang berkepanjangan dihampir setiap elemen yang ada di masyarakat. Ketegangan dan kegaduhan tersebut tidak lantas berhenti ketika ajang pemilihan gubernur itu selesai dan salah satu aktornya dijebloskan ke jeruji besi. Seperti deburan ombak, riak-riak sisa hempasan gelombang meliputi berita hoax, fitnah, dan ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama masih akan terus berceceran. Oleh karena isu agama adalah strategis keberadaannya, isu ini tentunya akan terus digodok oleh media selama masih ada penikmatnya dan dapat memuluskan si empunya untuk mendapatkan kekuasaan di dunia perpolitikannya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agama adalah sistem yang mengatur keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan manusia dan manusia serta lingkungannya. Agam berasal dari bahasa sansekerta yang berarti “tradisi”. Agama identik dengan religi yang berasal dari bahasa latin “religio” yang berarti “mengikat kembali”. Menurut Prof. Dr. M. Drikarya, agama adalah keyakinan adanya suatu kekuatan supranatural yang mengatur dan menciptakan alam semesta. Tak berbeda jauh dengan pengertian agama menurut Hendro Puspito. Agama adalah sistem yang mengatur hubungan manusia dan alam semesta yang berkaitan dengan keyakinan. Sedangkan agama menurut Jappy Pellokild adalah percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa dan hukum-hukumnya. Dari pengertian agama di atas dapat diketahui bahwa agama tidak hanya terbatas pada 6 agama yang diakui negeri ini. Tapi lebih dari itu, setiap individu yang memiliki caranya masing-masing untuk berinteraksi dengan tuhannya juga dapat disebut beragama seperti halnya kaum agnostik.

Seperti halnya yang dirumuskan dalam Pancasila sila pertama, bahwa “Ketuhanan Yang Maha Esa”, yang artinya cukup percaya akan tuhan untuk menyempurnakan 5 sila yang ada, bukan beragama untuk berketuhanan apabila interpretasi kita terhadap agama adalah agama-agama konvesional (Islam, Kristen, Buddha, dll). Yang menurut hemat saya, kebanyakan orang salah mengartikannya (termasuk pemerintah) dan akhirnya terkotak-kotak hanya ke dalam 6 agama yang ada. Namun, bukan hal tersebut yang akan saya bahas, melainkan agama sebagai bentuk keberagaman interaksi antara manusia dengan Tuhannya.

Kesalahan terbesar manusia modern sekarang adalah suka menganggap orang lain salah atau bodoh hanya karena memiliki pola pikir yang berbeda. Menganggap harkat martabat mereka lebih tinggi dibandingkan yang lain hanya karena status sosial mereka. Dan menganggap apa yang mereka yakini adalah suatu yang paling benar sehingga apabila terusik sedikit akan langsung berteriak lantang tanpa terlebih dahulu berpikir panjang. Maka muncul ungkapan “lepaskanlah egomu terlebih dahulu sebelum mempelajari sesuatu”.

Banyak manusia kini yang memaknai pluralisme hanya terbatas pada sisi “apa kesamaan kita sehingga keberagaman menjadi bahan bakar persatuan”. Pernahkah kita berfikir untuk mempelajari perbedaan diantara kita sehingga memunculkan pemahaman antara satu sama lain dan akhirnya menghargai menjadi bahasa persatuan? Saya memiliki keyakinan bahwa setajam-tajamnya perbedaan, namun ketika perbedaan itu saling dipertemukan, keduanya akan melihat bahwa kita adalah sama: manusia. Manusia yang butuh untuk disapa, didengar, diajak bicara, dihargai, dicintai, dan memiliki preferensi spiritual yang berbeda. Semakin perbedaan dapat didialogkan, maka pada saat yang sama, rasa curiga dan prasangka akan dapat ditekan. Kita semua bisa berbeda secara ritual, tapi kita dapat bertemu secara spiritual.

Dengan memahami perbedaan, diharapkan kita dapat melihat bahwa iman adalah bahasa relasi. Iman adalah “bahasa relasi cinta” antara manusia dengan Tuhannya. Sama halnya ketika kita sedang mengalami yang namanya jatuh cinta. Apa yang menyebabkan kita dapat melabuhkan hati kita pada satu orang dan rela menghabiskan sisa hidup kita bersama dirinya?

Apakah anda mencintainya karena dia baik? Itu menghargai bukan cinta. Apakah anda akan tetap mencintainya lagi ketika semua hal tentang duniawi membuatnya menjadi antipati?

Apakah anda mencintainya karena dia pintar? Itu kagum bukan cinta. Lalu ketika dia amnesia, apakah perasaan cinta itu akan tetap ada?

Atau mungkin anda mencintainya karena ia cantik atau tampan? Itu nafsu bukan cinta. Akan kah perasaan cinta itu tetap sama ketika ia tak lagi rupawan seperti sebelumnya?

Lalu cinta itu apa?

Cinta itu bahasa kalbu. Alasan mencintai yang terdalam adalah ketika anda mencintai seseorang karena anda cinta. Bukan karena alasan yang melatarbelakanginya. Inilah spiritualitas cinta terdalam. Sebuah cinta yang mencintai hanya karena cinta itu sendiri. Sama seperti bunga mawar yang tetap berbunga meski ia dilihat ataupun tidak dilihat orang. Ia mekar karena memang waktunya mekar. Cinta akan menemukan tempat dan waktunya sendiri untuk berkembang.

Pada akhirnya kita akan belajar bahwa mengimani suatu agama adalah bahasa cinta. Setiap agama memiliki klaim eksklusifnya masing-masing, dan tidak perlu dibenturkan untuk mencari pembenaran. Hal itu merupakan bahasa cintanya kepada Tuhannya. Mari saling menghargai. Tentunya anda tidak mau kan teman hidup anda yang anda pilih dengan bahasa cinta, seenaknya dikritik dan dipersalahkan oleh orang lain? Think again.

Referensi:

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.