Candu Agama

“Agama adalah tempat pelarian bagi orang-orang yang tertindas. Agama adalah hati untuk dunia yang tidak berperasaan. Agama adalah jiwa bagi manusia yang tidak memiliki harapan. Itulah yang disebut sebagai candu bagi masyarakat.” -Karl Marx-

Wedgenstein dalam buku, “Gus Dur, Siapa Sih Sampeyan”, ia mengatakan “Makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam bahasa dan makna sebuah bahasa adalah penggunaannya dalam hidup”. Artinya, sejelek atau sebaik apapun suatu ungkapan, tidak bisa kita maknai hanya dari susunan kata dan kalimatnya tapi juga dari situasi dan kondisi mengapa ungkapan tersebut dapat terlontar.

Begitu pula dengan ungkapan Karl Marx di atas. Kita tidak bisa memaknai secara langsung berdasarkan susunan katanya. Akan menjadi suatu misinterpretasi bila kita tidak terlebih dahulu mengetahui situasi dan kondisi yang menyebabkan steatment tersebut muncul. Lalu muncul pertanyaan, “apa yang melatar belakangi ungkapan Karl Marx tersebut?”.

Isu-isu agama yang sedang hangat belakangan ini yang membuat saya tertarik untuk mengangkat bahasan ini. Secara sadar ataupun tidak, agama sekarang telah dipolitisasi. Agama dijadikan sebagai kendaraan untuk mendapatkan kekuasaan atau bahkan menjatuhkan seseorang. Agama telah dijadikan sebagai tameng untuk mengamini praktik-praktik kotor penguasa. Dan apakah kalian tau? Kondisi ini telah terus-menerus terjadi sejak jaman dulu. Contoh yang paling nyata adalah Perang Salib yang melibatkan antara Kristen dan Islam. Doktrin agama digunakan sebagai pembenaran atas perang. Propaganda kebencian dari kedua belah pihak digaungkan untuk menaikkan emosi rakyat-rakyat kecil. Kejayaan agama dijadikan alasan pembenaran perang. Padahal, hal tersebut hanyalah alasan semata. Penguasa dari kedua belah pihak menginginkan Yerusalem. Isu tentang harta karun Salomo membuat kedua belah pihak bersaing kuat untuk saling memperebutkan Yerusalem.

Perang yang sering berkecamuk di dataran eropa juga mendorong kerajaan dan petinggi-petingginya untuk menggunakan politik agama. Propaganda agama dilakukan demi mengumpulkan banyak tentara. Tentara yang siap bertempur di medan perang dengan polesan bahwa mereka bertempur demi agama. Tak hanya soal tentara. Buruh pada masa itupun (mungkin masih ada sampai sekarang) sering kali dibodohi menggunakan agama. Kondisi buruh pada masa itu cukup mengerikan. Mulai dari upah yang sangat kecil, jaminan keselamatan kerja yang tidak jelas, dan jam kerja yang tidak logis. hal ini disebabkan oleh kesewenang-wenangan para pemilik modal. Buruh terus dibodohi dengan ilusi “banyak berdoa supaya masalah selesai”. Petinggi gereja juga menyarankan buruh untuk tetap sabar untuk menghadapi masalah dalam pekerjaan. Hal inilah yang membuat Marx semakin yakin bahwa hal seperti ini tidak boleh diteruskan. Buruh harus segera melawan penindasan. Buruh harus melepaskan ilusi agama untuk melawan kesewenang-wenangan para pemilik modal. Marx menganggap bahwa agama harus dipisahkan dari ranah politik karena agama adalah alat yang rentan untuk membodohi masyarakat demi mencapai kekuasaan dan alat untuk menindas.

Karena agama, manusia rela membaktikan dirinya untuk menservice dan berkorban untuk suatu kaum demi iming-iming surga tanpa tau konsep surga atau dosa dan pahala. Apakah surga itu benar-benar ada atau hanya suatu konstruksi sosial? Suatu konstruksi yang dibangun untuk membuat manusia tetap keep on the track dengan bayang-bayang akan adanya suatu imbalan dikehidupan selanjutnya. Dosa dan pahala? Adalah suatu hukum atau sebuah konstruksi dari sebuah norma yang mucul dari interaksi sosial? Baik buruknya ditentukan dari apa yang menurut masyarakat tersebut anggap baik dan masyarakat tersebut anggap buruk. Agama telah dijadikan sebagai obat penenang untuk jiwa-jiwa yang berpikir kritis, dijadikan sebagai alat pembawa ilusi bagi jiwa-jiwa yang sakit, dan dijadikan sebagai anjing bagi gembala-gembalanya yang bodoh.

Agama adalah suatu dimensi yang dibutuhkan oleh manusia karena ketidakberdayaannya. Manusia membutuhkan agama sebagai pegangan hidup. Terlepas dari konsep surga, neraka serta pahala dan dosa, agama diperlukan untuk menciptakan tatanan hidup yang teratur. Terlepas juga tentang konsep agama itu sendiri terlahir dari materi bernama tuhan atau muncul dari suatu konstruksi sosial, yang jelas setiap agama mengajarkan tentang kebaikan dan hal itu yang perlu kita ikuti. Namun, jangan sampai dengan keberadaan agama kita dapat membuka kesadaran yang baru dengan menutupi kesadaran lainnya. Dan jangan sampai karena beragama, kita menjadi tidak berfikir dan mudah digoyang dengan isu-isu yang ada. Karena, agama adalah candu bagi orang-orang yang tidak mau berfikir.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Luthfikal Hakim Addiputra’s story.