Hujan Bulan November

Musim penghujan datang mengiringi sebagian bagian yang pergi.

Luthfikal Hakim Addiputra
Nov 7 · 3 min read

Hujan kemarin ternyata tidak hanya membawa air jatuh turun ke tanah. Basahnya memberi tanda pada bumi bahwa sebentar lagi kantung-kantung kehidupan itu akan segera kembali terisi. Pekat semerbak bau hujan mengisyaratkan orang-orang untuk bersiap pulang.

Photo by Osman Rana on Unsplash

Ya, hari sudah sore kala itu. Jam sudah menunjukkan pukul 4 namun langit seakan berkata “ini sudah jam 6, ayo lekas pulang! keluargamu menunggu di rumah”.

Lalu-lalang orang dengan payung dan jas hujannya. Ada pula yang berteduh karena lupa membawanya. Atau mungkin mereka sebenarnya punya, tetapi mereka hanya tidak ingin kecipratan air hujan yang saat itu sedang deras-derasnya. Maklum, jika sedang hujan begini, jalanan seringkali digenangi air yang entah kemana dia akan mengalir. Habis, pemerintahnya lebih sibuk membangun fly over ketimbang membenahi sarana penunjang pergerakan lainnya.


Lamunan sore itu pecah saat ada sebuah pesan masuk di handphone saya.

Sial ternyata ada chat dari mantan. Dia menanyakan tugas-tugas mata kuliah yang dulu pernah saya kerjakan. Ya, dia adik tingkat saya. Sebagai mantan sekaligus kating yang baik, sudah barang tentu saya berikan. Lagi pula itu bukan perkara yang sulit.

Setelahnya saya jadi tahu bahwa banyak pesan yang belum terbaca; grup himpunan, line today, line webtoon, alfamart, bahkan sampai kembalian sasapun ramai-ramai mengirim pesan. Kebanyakan isinya sampah. Hanya dibuka-tutup agar tidak ada lagi titik merah yang mucul di ikon chat di toolbar Line saya. Ya, saya memang paling tidak betah melihat tumpukan notifikasi yang belum terbaca pada platform sosial media manapun. Tapi rasa-rasanya ada yang janggal.


Saya coba untuk menggerakkan ibu jari ke atas dan ke bawah, berharap tidak ada lagi chat yang tertinggal. Sudah bersih; sudah tidak ada notifikasi lagi. Tapi aneh. Dari sekian banyak pesan yang masuk, kenapa rasanya kosong. Banyak pesan, tapi hanya sekedar pesan. Saya memang sendiri, tapi rasanya tidak pernah sekosong dan sesepi ini.

Seketika saya tertegun. Oh, iya. Saya baru sadar.

Sudah tidak ada lagi chat “Besok kelasnya dipindah yaa temen-temen jadi di RSG”

Sudah tidak ada lagi chat “Eh ini SIP materinya dari mana sampe mana deh?”

Sudah tidak ada lagi chat “Ntar malem makan-makan skuy”

Sudah tidak ada lagi chat “Yoo diabsen yang bisa ikut makrab naldhip siapa aja…”

Saya terisak dalam diam. Ternyata memang sudah benar-benar berakhir. Dasar bodoh. Kamu terlalu lihai untuk berpura-pura tidak sadar. Padahal kenyataan sudah jelas-jelas terpampang. Mereka sudah pergi. Semua yang kamu ketahui telah menjadi apa-apa yang asing sekarang. Sekeras apapun kamu mengaduh tak ada lagi guna, karena yang kamu anggap matahari, kini telah tiada.


Sekarang semuanya sudah berubah. Pantas saja hujan bulan ini tidak seperti bulan-bulan kemarin. Yang sudah-sudah, air menhujani bumi hingga basah. Mulai bulan ini, dan mungkin seterusnya tidak hanya bumi yang akan dibuat basah; buku saku warna coklatku juga.

Photo by Noah Silliman on Unsplash

    Luthfikal Hakim Addiputra

    Written by

    Rasa, Karsa, Aksara

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade