Kaderisasi Adalah Adaptasi
Pergerakan adalah sebuah keniscayaan. Pergerakan dalam suatu rentang waktu tertentu disebut proses. Dan merupakan sebuah keniscayaan pula, kalau arah gerak seluruh makhluk hidup di dunia adalah kematian. Suatu konsekuensi dari segala hal yang bernyawa dan sebagai titik akhir dari suatu proses. Dunia berproses dan meyeleksi lewat evolusinya. Manusia berproses dan berkembang dengan regenerasinya. Pemaknaan akan sebuah proses menjadi penting dalam menjaga eksistensi gerak dalam mencapai sebuah tujuan.
Kaderisasi sebagai sebuah proses memiliki banyak makna. Kaderisasi bermakna sebagai suatu proses pembentukan aspek afektif, kognitif, serta psikomotorik. Dapat juga dimaknai sebagai metode transformasi nilai dan pengetahuan sekaligus bermakna sebagai upaya dalam melakukan regenerasi. Namun, dibalik banyak makna yang dimiliki, tentunya ada satu kesamaan yang melekat sebagai substansi utama yakni, kaderisasi dilakukan sebagai bentuk adaptasi manusia untuk menghadapi suatu tatanan yang baru. Tatanan adalah sebuah konsekuensi berkehidupan. Dimana akan terus ada tatanan baru yang akan kita masuki seiring fase hidup yang kita lalui. Sebagai contoh, bila kita memasuki dunia militer, kita akan terkader menjadi tentara yang cakap. Bila kita memasuki dunia bisnis, maka kita akan terkader menjadi bisnisman yang handal. Bahkan bila seburuk-buruknya adalah dengan memasuki dunia kriminal, maka kita akan terkader menjadi penjahat yang ulung. Kita bebas menentukan dan berpindah ke tatanan yang kita suka, tapi kita tak akan pernah bisa hidup tanpa tatanan.
Kaderisasi sebagai sesuatu yang bermakna luas, dewasa ini mengalami penyempitan makna. Bahwa kaderisasi hanya dianggap sebagai suatu ajang setahun sekali. Ajang yang seakan mempersempit ruang transformasi pengetahuan. Ajang yang membuat paham mengenai pendewasaan, menjadi dangkal adanya. Ajang yang berdampak pada menurunnya laju perkembangan manusianya ketika titik akhirnya tiba.
Memang terdapat 2 jenis kaderisasi, pasif dan aktif. Yang sedang lelah-lelah dibangun dan dipersiapkan secara massive sekarang-sekarang ini dapat disebut sebagai kaderiasi pasif. Kaderisasi yang lebih menitikberatkan pada pemenuhan profil awal. Sedangkan kaderisasi aktif ialah apa yang terjadi setelahnya. Ketika sudah tiada lagi gap diantara kita, dan secara mandiri kita mencari sebanyak-banyaknya pengetahuan di dalamnya. Adalah suatu proses dimana kita harus menyadari makna dari eksistensi dan keberterimaan. Kaderisasi aktif inilah yang kadang dibiarkan mengalir begitu saja. Padahal seharusnya proses ini tak kalah penting dengan kaderisasi pasif, mengapa? Karena kaderisasi aktif merupakan proses untuk menjaga eksistensi arah gerak dalam mencapai tujuan, yang dimana tujuan tersebut merupakan landasan dasar mengapa kita masuk ke dalam suatu tatanan tertentu.
Hal ini yang sesungguhnya perlu kita sadari. Bahwa suatu sistem juga diperlukan dalam berkaderisasi aktif sebagai upaya menjaga arah gerak yang telah ditentukan sejak awal. Namun, terlepas dari ada tidaknya sistem yang mengatur tentang kaderisasi aktif. Sudah sewajarnya kita terus menerus beradaptasi. Sudah sewajarnya kita terus menerus berproses. Berproses untuk mengekskalasi diri. Jangan sampai menjadi manusia yang merugi. Apa lagi turun menjadi pengkader dengan keadaan diri belum terekskalasi. Cuma hanya akan menjadi lingkaran setan yang sulit untuk diakhiri.
Dan yang terakhir, marilah sama-sama kita bercermin pada diri kita yang sekarang. Sudah seadaptif apa kita? Sudah seberapa jauh kita dapat beradaptasi pada tatanan kita yang sekarang? Dan sudah seberapa dalam kita mengetahui tentang tatanan kita sehingga kita dianggap telah layak untuk menjadi seorang pengkader yang baik bagi adik-adik kita?
Semoga kita tetap menjadi manusia yang insaf dan sadar.
