Kalimat Yang Terputus

Selamat sore kenangan. Sekarang aku duduk diatas bangku taman saat 5 tahun lalu kau pergi. Logika ku sendiri mulai bergeser hanya karena sebuah harapan kembalimu. Maukah kau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selalu memuakkan bathin? Apa kau masih ingat dengan boneka kayu kecil yang sempat menjadi teman dikala gerimis bulan desember saat itu? Dulu, kau menggigil dingin, dibawah sebuah pohon akasia, kau bersandar dibahuku. Seakan-akan, aku adalah pusat semestamu. Sebuah sweeter kecil akan melindungi kita dari ranting pohon. Berdua. Persis seperti kisah-kisah romantis yang sering kau baca di novel-novel fiksi.

Kapan kau akan kembali? Kapan bibirmu akan membetulkan kembali kalimat-kalimat yang dulu sempat terputus. Kalimat indah yang menata waktu. Kapan kau akan menebus dan membayar lunas rindu yang sudah memenuhi lembaran buku harianmu dulu? aku mencintaimu. Meskipun kau mematahkan banyak mimpi dalam otak.

Apa kau tak mengasihaniku? Aku selalu terkaget saat jam weker membangunkanku setiap pagi. Semua dentingnya selalu mengubur banyak harapan. Rapuh. Dan begitulah cara keanehan mempengaruhi karakter. Aku selalu berkata, “Mengapa jam weker bisa diciptakan? Orang gila mana yang mau merusak banyak mood seorang laki-laki dipagi hari.” Ya, sekarang aku sudah jadi orang gila sayang. Orang yang sangat aneh. Bertingkah lucu seolah-olah aku bahagia.

Kau masih ingat dengan kata-kata ucapanmu seperti “aku mencintaimu lebih dari waktu yang kumiliki.” Apa kau ingat? Sadarkah kau? Kau sudah melanggar kata-katamu sendiri. Kau pergi lebih dulu dariku. Menempuh perjalanan diluar garis waktu. Memaksaku untuk menulis lebih banyak kesakitan, melukis banyak sayatan. Siapa yang menyalakan mesin waktu itu sayang? apa dia seorang laki-laki. Jika ia, aku ingin sekali membunuhnya.

Hei sayang. Aku akan segera menyusulmu. Aku merindukanmu. Aku rindu saat dulu, seorang anak kecil duduk diatas kayu jendela, dan menatapmu yang juga sedang menatapku. Cinta kita dulu itu cinta anak kecil. Tapi, entah kenapa, saat itu, anak kecil seperti kita sangat jauh lebih dewasa dari mereka semua. Mereka yang menganggap diri mereka dewasa.

Ada banyak kalimat-kalimat yang terputus yang kau buat. Berserakan menjadi sampah bumi. Tak berguna. Terlalu kotor untuk dibiarkan. Hei, kembalilah untuk melanjutkan semuanya. Apa kau rela saat aku mati penasaran saat tahu potongan episode-episode itu tak berlanjut lagi?

Aku suka saat kau membuatku penasaran dengan kalimat-kalimatmu. Kau tidak pernah mengakhiri kalimatmu dengan titik sempurna. Kau menggantungnya. Membuatku selalu memaksamu untuk melanjutkannya. Dan sore itu akan berakhir dengan sebuah kecupan kecil di keningmu.

Tapi hari itu berbeda. Kecupan di keningmu dingin. Dan beberapa detik kemudian, keluar gumpalan darah di sela lubang hidungmu. Kau amat pucat. Kau menatap dengan senyuman perih. Itu adalah senyuman yang paling kubenci seumur hidup. Itulah yang membuat sayatan hidup sampai sekarang.

Sesingkat apapun waktu, sedingin apapun hujan, aku masih punya ruang berbeda. Aku mencintamu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.