Aku Ingin Mati di Bawah Aurora

Sebelum membacanya, aku hanya ingin memberitahumu. jangan berprasangka padaku. Aku memang orang yang aneh. ‘Orang yang berbeda’ atau ‘orang yang unik’ mungkin kalimat yang terlalu halus, panggil saja aku ‘orang aneh’, aku lebih senang mendengarnya. Sedari dulu aku sering dijauhi oleh orang yang tidak suka padaku. Akhirnya aku menjadi seorang penyendiri.

Dari semenjak kanak-kanak, aku punya impian. Aku ingin mengakhiri hidup dikutub utara atau kutub selatan. Bukan karena aku benci tempat tinggal. Di negeri sejuk ini begitu banyak keajaiban. Tapi aku ingin kesana. Sangat ingin. Untuk melihat aurora.

Aurora adalah pendaran cahaya yang tercipta di udara karena atom dan molekul yang bertumbukan, terutama elektron dan proton dari angin matahari. Partikel-partikel itu terlempar lebih dari 500 mil/detik dan terhisap medan magnet bumi di sekitar kutub utara dan kutub selatan. Lalu….. jadilah aurora di langit.

Pertama kali aku berjumpa dengannya adalah di buku ensiklopedia. Di komputerku dipenuhi gambar aurora. Aku bisa menatapnya hingga berjam-jam, hanya melongo dan senyum-senyum sendiri. Penuh warna-warni. sangat indah. aku ingin sekali melihatnya secara lansung. Tanpa layar yang membatasi. Dan mungkin, sisa umurku akan kuhabiskan disana saja. Entahlah, sejak kecil aku sudah memikirkan ini dengan matang. Dan hingga sekarang, aku tidak pernah melupakannya sedikitpun. Disaat teman sebangkuku terobsesi pelangi yang diajarkan oleh guruku, aku lebih memilih aurora.

Bagiku, aurora mengajarkanku banyak hal. Aurora adalah simbol keseimbangan. Aurora mengajarkanku merendah, bahwa diantara keindahannya, ia memilih di ujung dunia saja. Aurora titik hubung antara bintang-bintang lain. Kita tidak pernah tahu gerbang apa yang ada disana. Aku mencintai ruang hampa tanpa batas miliknya.

Aurora pacar pertamaku. tanpa mengenal konsep pasangan manusia, aku sudah memilih berpasangan dengan sebuah pendaran sinar. cahaya. kecantikan yang valid dan tak bisa diukur.

Secepatnya kita akan bertemu, aurora borealis. suatu hari nanti.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Luthfi Ramadhan’s story.