Kelaparan Karya Tapi Gengsi

Tulisan ini teruntuk banyak orang yang mungkin belum mengerti dan sadar bahwa kreatifitas itu punya harga. Banyak diantara kita belum bisa rela mengeluarkan beberapa peser rupiah untuk membeli kreatifitas. mungkin saja belum ada yang memberi tahu. Nah, mungkin ini kesempatan saya sedikit memberikan pemahaman (cieeeeelah pret).

Kita sebagai manusia pasti butuh makan. Makan adalah kebutuhan utama. Jika tidak makan kita akan mati. Maka dari itu kita akan membeli makanan untuk membuat kita kenyang dan punya energi. Harga beras sering naik, melonjak tinggi, tapi apa boleh buat, kita akan terus membeli beras, semahal apapun. Kita akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhan perut. Ini kebutuhan yang sangat wajib.

Nah, saya yakin diantara kalian yang membaca ini, kalian mungkin punya tv di rumah kalian. Kalian membelinya karena membutuhkan hiburan (selain informasi). Kalian yang membaca ini pasti punya laptop/komputer atau paling tidak gadget berbentuk handphone untuk membaca blog ini. Selain untuk informasi dan komunikasi, di gadget kalian pasti mencari hiburannya. Sekarang, saya cukup yakin, manusia di negeri ini butuh hiburan. Hiburan sudah nyaris menjadi kebutuhan utama di 2.0 era. Hiburan sudah seperti nasi. Manusia banyak yang “lapar” kreatifitas tapi tidak mengakui.

Tapi sayangnya banyak diantara kita yang tidak menghargai kreatifitas di medium-medium lain, seperti hal nya buku, musik, pertunjukan seni, design visual dan lain-lain. Untuk kalian yang punya buku, pasti ada saja teman kalian yang ingin meminjam buku kalian. Dia terlihat ingin sekali membacanya. Padahal buku tersebut banyak dijual di toko buku di mall, tapi dia tidak mau membeli. Bukannya saya pelit tidak mau meminjamkan, saya malah sering meminjamkan buku saya ke orang lain dan tidak jadi masalah. Tapi saya kasihan dengan orang-orang yang suka baca ini tapi tidak mau beli buku.

Padahal untuk sekedar mengeluarkan uang untuk membeli buku tidak seberapa dibandingkan dengan dia membeli fashion item yang dia suka, kuota internet, nongkrong di coffeshop, dan lain-lain. Suka baca, tapi tidak punya buku. Ini aneh untuk saya.

Bukan cuma di buku, kita semua pasti pernah (saya juga) download lagu bajakan di google. Mungkin hanya segelintir yang tidak pernah. Tapi sayangnya banyak diantara kita yang tidak mengerti kalo yang dia lakukan itu salah. Download lagu bajakan di internet bukan berarti kau ‘kriminal’, hanya saja tidak ada yang memberi tahu kalo itu salah.

Salah satunya juga terjadi di pertunjukan/show musik, pementasan teater, malam puisi, dan sebagainya. Banyak yang tidak mau datang untuk menonton pertunjukan hanya karena show itu berbayar. Padahal mereka mengagumi senimannya.

Ini juga terjadi di bisnis design grafis. Banyak orang yang menjual design nya dengan harga murah. Bahkan banyak yang (kurang ajar) meminta gratisan. Kasihan.

Kesenian dalam banyak bentuk itu tidak mudah untuk dibuat. Dibutuhkan perjuangan. Seperti nasi, dia memulai dari bibit padi yang ditanam.
 Jadi sebernarnya selama ini kita tidak sadar.
 Kita butuh hiburan seperti layaknya makanan.
 Karya-karya itu seperti nasi.
 Dan sekarang… jika kita sudah mulai sadar kalau kita lapar akan kreatifitas itu,
 Harusnya kita mulai menyisihkan sepeser rupiah untuk itu…
 seperti makanan.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Luthfi Ramadhan’s story.