Kita Adalah Sebuah Anomali

Tepat 10:00 pagi. Saya harus pergi ke rumah teman saya. Saya sudah janji pada dia saya akan datang tepat waktu. Kami punya sebuah pekerjaan yang harus dikerjakan secepat mungkin. Saya dan teman saya mengerjakan artwork pesanan. Tapi sekarang, waktu yang saya miliki hanya setengah hari, karena hasilnya harus dikirimkan sebelum jam 12 siang nanti, kalau tidak, pemesan akan ngomel lagi pada kami berdua karena deadline yang tidak ditepati.

*******

Pekerjaan sesesai tepat pukul 12:00. Paket sudah dikirim. Lega nya bukan main untuk pekerjaan yang tertunda berhari-hari dan bisa selesai tepat waktu. Selamatlah saya dari teriakan suara dari telepon pemesan yang marah, seperti…

“Ini kok belum nyampe paketnya, kerja yang bener dong!!!”

“Saya udah bayar ya, pokoknya gak mau tau !”

“Gak profesional ah, payah, saya gak mau pesen lagi deh”.

Omelan-omelan itu kadang buat saya jengkel, tapi ya sudahlah. Selalu ada resiko yang harus di genggam.

Sudah masuk waktu sholat dhuhur, untuk seorang muslim, ini waktu sholat. bathin saya “Saya ingin sholat”. Saya memang begini, belum terlalu taat soal agama, tapi jika saya ingat, saya berusaha menyempatkan.

Akhirnya saya menuju sebuah masjid di dekat rumah teman saya tadi dengan jalan kaki. Setiba di masjid, saya menemukan sepasang sepatu seseorang dan sepasang sandal di depan masjid ini. Tanpa pikir panjang, saya mengambil wudhu dan lansung masuk saja.

Entah kenapa, saya kaget sendiri, di masjid itu hanya ada seorang marbot, dan seorang bapak-bapak. Pada saat itu kami hanya bertiga, dan memulai sholat dhuhur berjamaah.

*******

Usai sholat, saya merenung sendirian diluar masjid. Di masjid sebesar ini, yang lokasinya di pusat kota, sholat dhuhur nya sepi. bukan sepi, tapi sangat sepi.

Setelah itu entah sebabnya apa, saya memikirkan teman-teman saya, yang mungkin sudah sangat terlalu sibuk dengan urusannya. Lalu saya memikirkan teman-teman bergaul saya, yang mempunyai banyak waktu luang, yang berkeyakinan sama, tapi tidak mengisi tempat-tempat ini untuk memenuhi sebuah kewajiban menyembah pencipta.

Dari tulisan ini saya buat sebagai pengingat untuk saya sendiri.

Seorang anak muda jaman sekarang yang sibuk dengan gadget, pekerjaan, pergaulan dan lain-lain. Untuk hubungan vertikal saya kepada perakit jiwa saya, saya sadar, saya belum memenuhi itu.

Saya dan anda adalah sebuah anomali. Manusia yang hidup dengan sebuah keanehan tersendiri. Penyimpangan dari sisi normal kita sendiri. Saya sendiri bukannya sok suci atau berlagak ustad, tapi saya tahu, saya sudah melewatkan banyak kesempatan yang diberikan tuhan saya kepada saya untuk memperbaiki diri. Tapi saya hanya menghabiskan nya untuk hal sepele.

Saya dan anda adalah sebuah anomali. Entah kenapa kita punya banyak kesempatan dan waktu, tapi apa yang kita lakukan?

Kita lebih memilih mengecek timeline instagram berjam-jam dan melewatkan waktu untuk memuji…

Kita lebih memilih mendaki gunung tinggi dan mengagumi nya dipuncak tanpa tahu hal terpenting, yaitu : menyembah kreator gunung itu…

Banyak wanita memilih menyibukkan diri dengan menyamakan pakaian agar terlihat monochrome muslimah trend sekarang, tapi kelakuaannya tidak muslimah karena takut menghapus kosmetik yang sudah terlihat pas…

Kita lebih memilih protes pada pembangunan gereja, tapi kita lupa, ini bukan negara milik sebuah agama. Jika saya, seorang muslim, tempat ibadah saya digusur dan dilarang membangun masjid, pasti saya akan sangat marah. Apalagi umat kristiani melihat tulisan-tulisan protes itu dibanyak tempat. Miris.

Kita lebih memilih bunuh diri dengan menjadi teroris dan meledakkan diri kita di tempat umum, dengan tujuan masuk surga. Otak dangkal.

Ini waktu dimana kita tahu, kita mahluk yang kecil. Sangat kecil di mata zat maha dahsyat.

Aku dan kau adalah sebuah anomali…

Dan selamanya kita akan terus menjadi sebuah anomali.

*******

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Luthfi Ramadhan’s story.