Orang Gila

Nah, saat ini saya ingin menulis sesuatu yang sudah sejak lama ingin saya tulis, tapi tertunda karena kemalasan. Mungkin tulisan ini agak aneh, tapi saya cuma ingin menyampaikan hal yang menjadi perhatian saya.

Kalian tahu kan ‘orang gila’? dalam pengertian yang lebih medis, orang gila adalah orang yang mengalami ‘gangguan kejiwaan’ atau saraf yang parah. Karena kata ‘gila’ biasanya digunakan untuk seseorang yang berprilaku sangat aneh dan melewati batas ke-normalan-nya sendiri.

Entahlah, sejak kecil, mereka selalu menjadi perhatian saya. saya selalu penasaran dengan mereka. Cukup sering saya melihat mereka ditempat umum sampai berjam-jam dan tidak pernah

merasa bosan. Sampai pada saat, saya ada di titik dimana saya mengambil kesimpulan bahwa, orang gila adalah manusia normal yang sebenarnya.

Menurut saya, orang gila itu proyeksi manusia sempurna.

Orang gila tidak pernah pusing kenapa mereka gila. Mereka tidak pernah mengeluh kenapa mereka berbeda dengan orang lain. Mereka tidak pernah merasa yang mereka alami adalah ‘gangguan kejiwaan’. Sedangkan orang normal, lebih banyak mengurusi orang lain. Memusingkan urusan yang sebenarnya bukan urusan mereka. Manusia normal lebih banyak mencemooh orang lain, memperbanyak musuh, lalu memulai perseteruan.

Orang gila juga mempunyai imajinasi yang tinggi. Menurut penelitian (kajian ilmiah yang berbasis di Stockholm, Swedia, Karolinka Institute) kemampuan kreatifitas orang gila & orang jenius itu beda tipis. Lalu, kalau misalnya mereka saja punya kemampuan itu, kenapa masih banyak orang normal yang merasa tidak punya rasa percaya diri untuk membuat karya. Masih banyak orang yang mengubur mimpinya karena merasa dirinya tidak punya bakat?

Orang gila juga tidak peduli penampilannya. Sedangkan manusia normal, kita lebih mementingkan apa yang diluar dari pada yang didalam. Kita lebih peduli citra kita dihadapan orang lain, dari pada memilih untuk melalui proses memperbaiki diri.

Ya, jika punya kesempatan, saya sangat ini belajar banyak lagi dari mereka.

Dadah.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.