Pembalasan

Pernahkah kau mendengar dan melihat sebuah perkumpulan buangan tengah jalan? mereka menunggu keadilan dan perubahan. Hidup mereka terombang-ambing oleh ketidakpastian. Hanya kata-kata yang mereka terima, tak secuilpun tindakan yang terlukiskan dan nyata di mata mereka.

Sungguh sulit hidup mereka yang bahkan memaksanya untuk melakukan perang saudara. Berabad-abad lamanya mereka ditinggalkan oleh nenek moyang yang hanya menitipkan keruhnya air mata. Panasnya matahari dan tajamnya pedang ababil bukanlah halangan untuk mengubah sistem kemunafikan.

Dan mereka tak hentinya menangis saat melihat demonstran kontra menari saat mereka terbaring jatuh melemah.

Banyak pertanyaan yang menumpuk saat pilu dihati bertanya, mengapa mereka begitu tega tebarkan debu neraka? kehancuran adalah setan. Pemborosan timah panas tetap jadi agenda setiap hari. Geram dan pilu tambah terasa saat pembalasan akan dilakukan. Resiko seperti besi dan api yang tak henti melingkari tubuh hanyalah angin lalu. Bukan aku jika tak mati. Bukan kami jika kota manis ini hancur karna liberalis-liberalis seraka. Nyawa adalah taruhan untuk kebahagiaan di jaman itu.

Tapi apakah kau tahu para pendahuluku? Peristiwa-peristiwa yang kau alami itu masih terjadi di zaman cucu cicitmu ini. Sebuah spanduk demonstran dan senjata canggih masa depan telah terkokang di depan mata. Darah dan nanah tak henti mengalir setiap detiknya. Berbanggalah kau wahai bangsa firaun, karna otorisasi telah terpampang di lengkungan senyummu. Kegelapan luar biasa adalah sarapan kami. Saatnya bagi kami melakukan perubahan dan pembalasan sekaligus.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.