Simetris

“Eh, kenapa mukamu sedih begitu?”

“Abis diputusin bro.”

“Terus, itu ngapain putar lagu galau pake speaker?”

“Ya biar… supaya… hmm, ya wajarlah bro, saya sedih.”

***

Saya penikmat musik. Banyak jenis musik. Tidak memandang genre apapun. Kalau lagunya enak, ya saya suka. Pada dasarnya, musik berhubungan erat dengan perwakilan perasaan seorang penulis lagu dan penyanyi nya.

Kebingungan saya muncul saat menyaksikan teman saya. baru-baru ini dia diputusin ceweknya, karena alasan bapaknya tidak setuju karena dari tampilan, pakaiannya urakan, ya maklumlah anak punk (kasian juga sih). Karena di dalam teori anak punk, semakin tampilannya urakan, maka semakin dihormati lah dia antar sesama anak punk (saya juga bingung dari mana teori ini lahir). Jadi dia bimbang, memilih antara pergaulan atau masalah hatinya.

Semenjak itu dia mulai berubah, tiap hari, tiap nongkrong, kerjaannya hanya memutar lagu galau. Di pojok sendirian. Sekarang dia jadi anak punk krisis indentitas. Dari sini saya bisa lihat kalau dia sangat amat sayang sekali dengan pacarnya itu.

Dan setiap saya tanya, kenapa kamu putar lagu galau, katanya hanya untuk sekedar melampiaskan pilu.

Bukannya kalau sedang merasa sedih, lalu dengar lagu sedih malah jadinya makin sedih ya? Lagu sedih akan membuat kita semakin terlarut. Lagu sedih sifatnya seperti cangkul. Saat kita jatuh dalam sebuah lubang, lalu kita mencangkul tanahnya, hasilnya kita akan semakin dalam. Lalu apa yang harus kita lakukan, hal yang benar adalah naik kepermukaan.

Ada teman saya yang berpendapat…

“…dengar lagu galau pas putus wajar sih lut, untuk menghabiskan kesedihan. Melapaskan semuanya di saat itu juga”.

Dalam pendapat ini, saya setuju satu hal, yaitu dalam hal ‘menghabiskan kesedihan’ nya. Tapi haruskah dengan lagu galau? Lagu yang sudah nyata bisa membuat kita kembali berduka? Kembali mengenang orang yang melepaskan kita dan menunjukkan kita orang yang lemah? Saya orang yang percaya bahwa tidak apa kita menangis saat dalam problem yang besar menimpa. Lepaskan saja. Tapi untuk mengunci ingatan tentang hal hal yang pahit, jangan dibiasakan.

Musik yang efeknya membuat bersemangat menjadi kesukaan saya saat sedang dalam masalah. Setelah itu? Beban saya hilang. Hal yang paling nikmat saat sedih adalah, saya bisa menulisnya. Menjadikannya sesuatu yang bisa dibagi. Saya tidak bermaksud memojokkan band-band yang membuat lagu sedih, tapi kebanyakan band sekarang yang muncul di tv, itu mengikuti selera pasar. Mereka menciptakan lagu sedih untuk dapat uang. Fuck you lah.

Untuk memperbaiki selera musikmu, cobalah sesekali untuk mencari refrensi berbeda. Band indie yang tidak terikat label biasanya musiknya lebih bebas dan tidak terkekang. Mereka menciptakan musik bukan sekedar untuk cari makan saja.

Perasaan kita ini hanya perlu dijadikan simetris. Sama di kedua belah bagiaannya. Ada keselarasan antara…

Kesedihan & kebahagiaan.

Isak pilu & tawa.

Terkapar & bangkit.

Luka & pemulihan.

Kesedihan tidak seperti kaca. Yang saat pecah, utuh adalah hal yang mustahil.

Tergantung kamu, pilihanmu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.