Untuk Yang Sulit Memulai

Mungkin ada banyak orang yang menyukai sebuah pertemuan. Di antara pertemuan-pertemuan itu kita menemukan beberapa hal yang menurut kita sendiri menyenangkan. Seperti hal nya… jatuh cinta.

Untuk seseorang yang tipe introvert seperti saya, yang mungkin agak sulit untuk berbaur dengan orang baru, sangat amat sulit untuk memulai sebuah percakapan. Tapi jika sudah berteman, ya biasanya teman-teman saya menilai saya bukan orang yang pemalu (bahkan katanya saya malu-maluin), hyperaktif dan slengean.

Tepatnya seminggu yang lalu, saya menuju sebuah cafe di Makassar, saya berencana menenangkan fikiran saja sembari minum kopi. Di lantai dua saya memilih meja paling pojok. Saya memang sering melakukan ini, apalagi saat kepala saya sudah hampir pecah karena urusan yang menyibukkan diri sendiri. Bagi saya, kopi adalah teman lama yang ahli melemaskan fikiran.

Setelah 2 jam lebih saya duduk, tiba-tiba saja di pintu sebelah kiri masuk seorang perempuan, lalu duduk diantara beberapa kursi depan tempat duduk ku. Dia perempuan berambut pendek, memakai kaos starwars, celana jeans hitam & sepatu converse abu-abu.

Dari dulu saya selalu tertarik dengan wanita berambut pendek. Entah kenapa, suka saja. Menarik. Wajahnya manis ( ada gula jawa di mukanya ), dan saya lansung suka.

Dia mengeluarkan sebuah notebook dari tas nya. Dan mulai mengetik sesuatu, mungkin tugas kampus atau apa saya tidak tahu.

Ingin sekali memulai sebuah percakapan. Tapi bingung mau mulai dari mana. Setelah beberapa menit saya berlagak seperti patung, akhirnya saya memutuskan mendekatinya. Tapi setelah saya mendekat, tiba-tiba mengangkat handphone nya dan berbicara dengan seseorang.

“Halo? Iya iya dev, aku udah mau ke kampus, ini bentar lagi brangkat deh ya..”

Benar. Dia seorang mahasiswi.

Sepertinya dia sudah mau pergi.

Aku terlambat.

Bodoh seperti biasa.

Ah… tolol.

Tolol.

Tolooooool.

Ia kembali memasukkan notebooknya ke dalam tas, lalu pergi tanpa pamit. Ya untuk apa pamit ke saya, kenal saja tidak.

Setiap langkah dia keluar dari café ini adalah sebuah penyesalah ambigu untukku. Setiap langkah pergi nya, adalah khayalanku tentang banyak nya kenangan yang mungkin saya jalani bersama nya jika saja saya berani kesana dan sekedar basa basi lalu meminta nomer handphone.

Mungkin untuk kesempatan lain, kita akan bertemu. Tapi kemungkinannya sangat kecil untuk kota yang besar ini.

Ini bukan tentang siapa yang mempunyai keinginan paling besar, tapi siapa yang memulai lebih dulu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Luthfi Ramadhan’s story.