Tak Bisa Berhenti

Aku tak bisa berhenti. Entah karena apa.

Kata mereka, kau hanya perlu sabar dan berusaha meninggalkannya. Tapi aku tidak bisa. Sudah beratus-ratus kali aku mencoba. Tapi hasilnya tetap sama. Aku gagal. Entah apa yang aku fikirkan saat mendekati hal itu. Aku sangat menyesal. Aku iri dengan teman-teman yang hidupnya tenang. Tapi, aku juga akan berusaha seperti mereka, melaluinya dengan tahap dan fase yang telah aku rancang. Tapi, masih banyak kendala yang harus aku hadapi. Mungkin benar kata mereka. Aku hanya membutuhkan sebuah kesabaran. Kesabaran meninggalkannya. Walaupun berat. Tapi, ada yang aneh dalam diriku, jika aku tidak dekat dengannya, aku seperti orang tolol yang kebingungan mencari tempat bersandar. Tapi, disaat aku bersama dengannya, mengaitnya di sela jariku, aku seperti tidak menyukainya lagi. Aku muak dengannya. Seperti itulah yang kurasakan. 
Mungkin, dengan menghabiskan waktu bersama orang yang aku cintai dan melakukan hal-hal yang dulu sering aku lakukan, dapat membuatku lepas dari cengkramannya. Aku ingin kembali seperti dulu. Sangat ingin. Tak seorangpun keluarga dan kerabat yang tahu soal ketololanku ini. Tapi, aku berjanji, dengan hatiku, aku akan terus melawannya. Aku akan melepaskan cengkramannya dari tubuhku ini. Dia hebat, tapi aku lebih hebat. Doakan aku teman-temanku. Bimbing aku ke dalam pelukan hangat kalian seperti dulu.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.