Tidur Berjalan dan Mengigau

Sudah tidur? Pertanyaan sebenarnya saya adalah,
sudah (tahu diri kalian yang lain) saat tidur?

Saya sendiri pengidap tidur berjalan dan mengigau.
Ada beberapa penyebab kenapa seseorang bisa mengalami sleep walking (tidur berjalan), mungkin karena dia kurang tidur, atau sering begadang dan jadwal tidurnya berantakan, atau mungkin stres karena sesuatu (mungkin karena ditinggal nikah sama pacar atau apa saya mda tau) hehe.

Jadi, saya tahu dikuasai tidur berjalan ini berawal dari saya memasuki usia remaja. sewaktu smp. Malam itu, saya menginap dirumah seorang teman. Sehabis begadang dan bercengkrama, saya lansung tidur dikamar, karena lelah. Setelah pagi tiba, mata saya perlahan terbuka, saya mendapati lantai yang dingin. seperti lantai yang basah. lalu saya bangun. setelah melihat kesegala sudut ruangan, saya sadar, saya di dalam kamar mandi. Saya syok. Setelah lama kesadaran saya sudah penuh, saya lansung menuju kamar dan bertanya ke teman saya,
“Hei, siapa yang pindahkan saya ke kamar mandi waktu tidur?”.
Semua teman saya menggeleng dengan muka kantuk baru bangun.

Ketahuan saya bertambah dan sadar akan tidur berjalan ini terulang lagi. bahkan untuk beberapa kali.

Salah satu yang paling menarik bagi saya adalah suatu malam dirumah teman juga dimakassar, saya sengaja tidur cepat di jam 9. setelah pagi tiba. saya didatangi teman saya dan berkata “Cui, tadi malam ibuku liat kamu remas-remas indomie terus mie nya dikasih makan pirlo? buat apa? haha” (pirlo itu nama kucingnya dia).

Sumpah goblok hahahahahahaha. Malu-maluin.

Yang saya takutkan cuma satu.
Saya sleep walking, lalu bunuh orang.
Hahahahahahahahaha.

Kalau kasus mengigau sih, sering.
Kata orang-orang terdekat saya, keluarga, teman dan yang lainnya, saya sering ketawa-ketawa sendiri. bahkan sering berdialog entah dengan siapa, dan bagi saya, saya tidak tahu ‘saya’ yang itu.

Bagi saya ini menarik. Punya alter ego yang tidak saya kenal.
Ingin sekali rasanya melihat saya dimalam hari.
Tapi sayangnya waktu kami beda.
Satu sih yang paling ingin saya tanyakan.
Cuma mau bilang, “Jangan nakal.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.