Titik.

Aku ingin menulis puisi.

Tetapi aku lelah dianggap puitis.

Puitis menjadikanku dipandang manusia hiperbola.

Bercerita dengan diksi berima seakan hidupku mendayu.

Tetapi… aku hanya ingin berkata hal klise dan mungkin membosankan untuk kalian dengar.

Aku jatuh cinta.

Padanya, wanita yang bahkan tak bisa kujelaskan mengapa.

Sosok perempuan yang paham seperti apa aku ini.

Laki-laki penuh ego layaknya api sepertiku selalu padam didekatnya.

Seperti air, dia mengalir.

Mungkin yang dia tidak tahu, aku diam-diam menjulukinya lentera.

Nyala terang saat gelap.

Dia adalah masa laluku.

Yang aku harap terus menjadi masa depanku.

Ya, semua kehendak tuhan sih perjalanan cinta akan berakhir dengan siapa.

Tapi andai aku bisa request, dia saja ya sampai aku mati.

Dan tua bersama. sampai aku bisa melihat rambutnya yang putih nanti.

Lalu tertawa bersama.

Tak ada lagi tanda kutip (“) untuk mengumpamakan apapun. Sudah terlalu banyak koma (,) yang kulalui. kau adalah jawaban dari tanda tanya (?) yang beribu. Keterangan dari tanda seru (!) yang menghentakku dalam-dalam.

Kau adalah titik-ku.

Akhir dari semua kalimat.

Akhir dari semua paragraf.

Akhir dari sebuah cerita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.