Lalat & Lilin

Sore hari. Pukul 03:40. Aku sedang duduk di sebuah restoran gaya retro yang kebetulan saat aku disini, mereka sedang merayakan ulang tahun tempat ini. Lima tahun restoran ini berdiri dan bertahan. Di hari ulang tahunnya ini, banyak manusia yang masuk dan keluar untuk sekedar menikmati makanan, rapat kantor, kencan dan semacamnya. Seperti hari ini, aku akan memberitahu kalian, kalau sesungguhnya ada sesuatu yang melihat banyak kejadian setiap hari. Saksi bisu dalam arti “bisu” yang sesungguhnya….

Dari sela jendela sebelah kanan yang terbuka, seekor lalat masuk kedalam ruangan restoran itu. Lalat memberhentikan sayapnya di sebuah meja, beralaskan sebuah taplak merah muda dan sebatang lilin.

1 detik…

2 detik…

3 detik…

Dan… mereka mulai, bercakap. Ya, bercakap dalam arti sebenarnya…

— -

Lalat : selamat sore!

Lilin : sore ! Tidak biasanya kau datang secepat ini? Sisa makanan belum kelihatan.

Lalat : haha, apakah butuh alasan untuk bertemu denganmu sahabatku.

Lilin : tumben saja haha.

Lalat : hei, aku ingin bertanya. Bolehkah?

Lilin : tentu saja. Ada apa?

Lalat : kenapa semenjak restoran ini didirikan, dan selama aku bertemu denganmu, kau belum pernah dinyalakan? Kenapa?

Lilin : haha, aku tidak tahu. Yang kau tanyakan tadi sudah lebih dulu menghantui pikiranku sejak dulu.

Lalat : benarkah? Apa manager resto ini terlalu baik? Atau dia tidak punya korek? Haha

Lilin : haha, percuma dia sekaya itu, tapi tak mampu beli korek !

Lalat : hahaha…

Sejenak, lilin terdiam. Memikirkan sesuatu, sebuah beban..

Lalat : Hei, kau kenapa?

Lilin : nampaknya aku sudah bosan disini. Berdiri diatas taplak meja usang, melihat orang-orang penuh keegoisan duduk tepat dikursi didepanku. Melihat pasangan yang bertengkar, melihat anak kecil yang merengek kepada ibunya, melihat waiters yang ceroboh menjatuhnya minuman ke lantai, sungguh, aku bosan.

Lalat : Lilin…..

Lilin : ada apa?

Lalat : aku sangat ingin membawamu keluar dari sini.

Lilin : kenapa?

Lalat : karena… aku mencintaimu.

Lilin : …..

Lalat : lilin?

Lilin : aku sudah tahu.

Lalat : lalu?

Lilin : aku juga sama sepertimu. Aku mencintaimu.

Lalat : apa agamamu?

Lilin : apa itu penting untukmu?

Lalat tersenyum bahagia.

Lalat : setidaknya, jika kau dibakar, kita bisa mati bersama.

Lilin : aku tidak perlu dibakar untuk mati. Aku benda mati.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.