Emas dan Air

Disclaimer: Tulisan ini terinspirasi dari TedEd dan diskusi dengan beberapa teman. Referensi akan diberikan berupa tautan.


Bayangkan jika anda berada dalam suatu kuis berhadiah. Anda disuruh memilih diantara 2 hadiah. Sebuah botol air mineral ataukah emas, apa yang akan anda pilih?

Tentunya emas.

Karena emas itu sangat berharga.

Tetapi sekarang bayangkan anda terdampar di suatu padang pasir selama berhari-hari, dan anda diberi pilihan 2 ini, apa yang akan anda pilih?

Tentunya air.

Inilah yang disebut dengan Paradoks Nilai (The Paradox of Value)

The Paradox of Value

Teori ini dikembangkan oleh Adam Smith, dan konsep utamanya sederhana, bahwa menentukan nilai (value) suatu objek itu tidak semudah yang dibayangkan. Ada juga yang mengambil perumpamaan air dan berlian, tetapi saya menggunakan deskripsi emas saja.

Ketika anda berada dalam kuis, kita gak mikir-mikir buat ngambil emas. Kenapa? Karena nilai tukarnya yang tinggi.

Tetapi berbeda dalam kasus padang pasir, kita gak mikir-mikir buat ngambil air. Kenapa? Karena nilai gunanya yang tinggi.

Dan dikarenakan kita harus memilih, kita juga menimbang-nimbang biaya peluang, atau sederhananya: Apa yang hilang kalau saya milih salah satu dari mereka? Sederhananya seperti ini:

Percuma lah milih emas di padang pasir kalo gak bisa dijual

Dengan kata lain suatu objek bisa berbeda nilainya, dalam kasus apa ia berada.


Kesempatan Berulang

Akan berbeda kasusnya jika seperti ini,

Anda berada di tengah padang pasir, dan anda harus keluar menuju satu titik. Tersedia pula jalannya, tinggal berjalan. Dan sepanjang perjalanan, kamu ditawarkan berupa emas baru ataukah botol baru selama 15 menit perjalanan.

Apa yang akan anda lakukan?

Jawabannya Adalah…

Kebanyakan orang akan memilih, mengambil air sebutuhnya hingga cukup sampai di akhir perjalanan, lalu ambil emas sebanyak-banyaknya selama masih ada kesempatan.

Tul gak? Karena itu pun yang saya pikirkan. Saya juga ga mau rugi haha.

Ini terjadi karena ada yang disebut Marginal Utility, atau seberapa puaskah seseorang terhadap suatu barang.

Ketika pertama kali bertemu dengan toko, pasti air yang di ambil. Tetapi lama kelamaan, kamu mengambil emas saat kebutuhan airmu dirasa mencukupi. Itulah saat dimana emas lebih tinggi daripada air.

Tidak hanya berlaku bagi air saja, benda yang lain juga. TV, mobil, motor, printer, makanan, minuman dll. Semakin kamu sering dapat, semakin turun nilainya.

Bosen lah, jenuh lah, udah gak guna lah, udah gak up to date lah. Atau istilah kerennya adalah The Law of Disminishing Marginal Utility.

Secara teori, ketika kebutuhan kita terpenuhi, kita secara sadar/tidak, mengatur manakah pilihan yang kita gunakan agar tidak cepat bosan, jenuh, atau turun nilainya.

Bagaimana caranya agar ini selalu maksimal adalah bagaimana kita ngemanagenya.

Tapi. Ini membantu kita untuk:

Berharga atau tidaknya suatu hal itu adalah bagaimana cara kita menyikapinya.

Kasus Lain: Beramal

Tapi bagaimana dengan beramal? Kita juga mengalami hal yang sama dengan itu kan? Kita shalat, berdakwah, shaum, bersedekah/infak/zakat, dan lain lain. Apakah sama?

Saya pun pernah untuk merasa jenuh, bosan, bahkan ada hingga tahap muak dalam beribadah. Hingga akhirnya dinasihati,

Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” [HR. Muslim no. 782]

Suatu hal yang wajar apabila kita meraskan hal tersebut. Karena itulah nafsu. Apa yang harus kita sikapi adalah jangan mengikuti hal tersebut.

Tapi, Mirip Gak Sih?

Bukankah kondisi kita seperti kasus padang pasir barusan?

Kita mesti melewati suatu jalan dan ditengah-tengah perjalanan kita mendapati beberapa kesempatan untuk beramal dan memenuhi kebutuhan dunia kita? Dan kita sedang berada dalam perjalanan menuju satu titik penantian, yaitu mati.

Ketika di akhir, apakah nilai (value) keduniaan akan ada? Tidak.

Demi Allah! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, -(perawi hadits ini yaitu) Yahya memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu. [HR. Muslim, no. 2858 dan Ibnu Hibbân, no. 4315]

Lalu,

Barangsiapa yang masuk ke dalam surga maka dia akan merasa senang dan nikmat, dan dia tidak akan kesusahan. Tidak akan usang pakaiannya, dan tidak akan habis masa mudanya. [HR. Muslim]

Artinya akan ada suatu titik, dimana nilai amalan yang kita lakukan ini menjadi sangat tak hingga.

Akan ada suatu kondisi dimana amal-amal yang kita kerjakan selama di dunia. itu berubah menjadi sangat bernilai.

Terus?

Apa yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita menyikapi amalan.

Bisa jadi kita meremehkan dan tidak tahu keutamaannya. Sehingga dianggap remeh dan nilainya turun. Seperti yang saya bilang,

Berharga atau tidaknya suatu hal itu adalah bagaimana cara kita menyikapinya.
Jadi, bagaimana kamu menyikapi amalanmu hari ini?

Hai! Itu saja yang bisa saya bagikan di kesempatan ini jangan lupa share ya dan klik ❤. Semoga bermanfaat!

Bandung, Juli 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.