Flat Earth vs Round Earth: Argumen Terakhir

Bismillahirrahmanirrahim

Disclaimer

Tulisan ini dibuat dalam rangka menyempurnakan tulisan sebelumnya (link here: https://medium.com/@luthfiwisnuwardhana/flat-earth-vs-round-earth-sebuah-argumen-d335d03ba032#.ulbot1vlj). Adapun kembali saya kembali tegaskan, tulisan ini bukanlah dibuat untuk jadi bahan berdebat yang gak penting, bukan dibuat juga dalam rangka ingin menyombongkan sesuatu, bukan juga dibuat dalam rangka mengalihkan perhatian. Tapi, niat saya membuat tulisan ini adalah,

1. Berbagi ilmu yang saya punya, tentunya dilengkapi dengan argumen-argumen yang bisa dipertanggung-jawabkan.

2. Menjadi bahan pemikiran bahwa sesuatu yang diciptakan oleh Allah itu tiada yang sia-sia.

3. Saya ingin menyampaikan suatu gagasan ide, bagaimana seorang muslim memiliki kerangka pikir dalam menyikapi suatu keilmuan ataupun fenomena yang terjadi di muka bumi ini.

Dalam tulisan sebelumnya saya menggunakan pendekatan Quran, dalam tulisan ini saya menggunakan pendekatan saintifik (yang mana akan sulit dicerna bagi orang awam), tetapi saya akan mencoba menyederhanakan sebisa mungkin agar konsep yang diberikan bisa dipahami. Oh, ditambah juga saya menggunakan kerangka pikir seorang muslim (yang menjadi standar pakem saya pribadi ini mah hehehe) dalam menyikapi kasus ini.

Ilustrasi (pexels.com)

Allah berfirman,

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.

Q.S. Ali-Imran 3:191

Ini adalah fondasi utama dari para ilmuwan/cendekiawan muslim pada zaman dahulu. Jika kita melihat pada zaman keemasan Islam (The Golden Age of Islam) banyak sekali penemuan-penemuan yang ditemukan oleh orang Islam. Mungkin kita tak asing lagi dengan istilah-istilah ini, aljabar (algebra), algoritma (algorithm), akali. Bahasa ini tak lain adalah bahasa arab. Tidak akan ada matematika/fisika modern tanpa aljabar, tidak akan ada komputer tanpa algoritma, dan tak akan ada kimia tanpa alkali.

Dimulai semenjak abad 12 hingga 17, para cendikiawan Eropa seringkali merujuk kepada teks-teks Islami. Ambil contoh kepada sebuah buku berjudul Liber Abbaci, sebuah buku yang dikarang salah seorang ahli matematika dari Italia yang bernama Leonardo Pisano atau yang terkenal dengan nama Fibonacci. Dalam buku ini, halaman 406 terdapat kutipan kepada suatu teks tua yang dikenal dengan modum algebre et almuchabale, yang Ia kutip dari sebuah buku dengan pengarang Maumeht. Kalau kita perhatikan, ini merupakan bahasa Arab yang diterjemahkan kedalam bahasa Latin, yaitu Muhammad. Atau jika saya perinci, rujukan ini ditujukan kepada Muhammad bin Musa Al-Khwarizmi.

Liber Abbaci (pinterest.com)

Isn’t it great?

Sebagai seorang muslim menjadi kebanggaan tersendiri apabila pendahulu kami menorehkan sebuah karya hebat dalam peletakkan ilmu pengetahuan modern. Bagaimana dengan kita? Stop sampai situ, kita bahas di bagian akhir. Fokus kita pada satu topik saja, yaitu bagaimana menyikapi Flat Earth ini.

Kembali kepada Q.S. Ali-Imran 3:191, bahwa Allah menciptakan segala sesuatu tidak dengan sia-sia, yang mana berarti, sekecil apapun ataupun bagi yang kita anggap remeh sekalipun itu memiliki suatu urusan yang tidak main-main. Sekarang saya ingin menunjukkan kepada anda, bagaimana sebuah cara pandang seorang muslim menyikapi bentuk bumi. Mungkin agak kurang baik, tapi saya ingin segera sampaikan bahwa saya memercayai bahwa bumi itu bulat (meski gak sempurna bulat, tapi asumsikanlah untuk beberapa saat ini seperti itu).

Theodolit (c) Yahya Aufa, from 500px.com

Jika saya tanya kepada anda, apakah anda pernah mendengar kata Geodesi (Geodesy)? Jika anda terbayang, “oh itu yang batu-batu itu ya?”, atau “yang tentang batuan gitu kan?” YOU. ARE…

*sigh, mengelus dada*

Gak heran kenapa keilmuan ini langka banget yang mendalami.

Geodesi ini merupakan salah satu Sains Bumi (Earth Science/Geo-science) atau tertua yang pernah ada. Serumpun dengan, Geografi, Geologi, Geomorfologi, Geofisika. Tapi jarang banget yang mendengar istilah ini *hiks, masih sakit hati*.

Saya akan coba rangkum secara singkat, keilmuan Geodesi ini dititik beratkan kepada 3 topik ini,

1. Bentuk dan ukuran dari bumi

2. Medan Gravitasi dari Bumi

3. Penentuan Posisi

Catatan: Sebenernya ruang lingkup Geodesi modern lebih luas, agar mempermudah pembaca, saya ambil bagian klasiknya saja. Pada tulisan ini, saya akan bahas hanya poin nomor 1 saja.

Geoid (from GOCE User Workshop hosted at the Technische Universität München in Munich, Germany.)

Geodesi ini dahulu kala berkembang untuk keperluan praktis. Sebut saja, bagaimana sih cara mengukur sebuah properti (entah bangunan, tanah dari suatu kebun, dll) untuk keperluan pajak misalkan, untuk pembangunan infrastruktur jalan dan bangunan untuk perkembangan kota/desa, lokasi dari sebuah sumber daya alam di suatu wilayah/negara yang harus tercatat, untuk berpegian dari suatu tempat ke tempat lain. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ini garis besarnya,

1. Kadaster (Cadastral) — Properti, Pajak

2. Rekayasa Sipil (Civil Engineering) — Jalan, Bangunan

3. Sumber Daya Alam (Natural Resources) — Apa? Dimana? Berapa banyak?

4. Navigasi (Navigation) — Kemana? Seberapa Jauh?

Untuk beberapa kebutuhan, KITA BISA SAJA MENGASUMSIKAN BUMI ITU DATAR, tetapi, apabila sudah berada dalam jarak yang cukup jauh dan area yang luas, itu urusan lain lagi. Asumsi itu bisa hilang berdasarkan sebuah observasi sederhana.

Observasi 1: A Boat On The Horizon

OBSERVASI 1:

Pada zaman dahulu kala, para pengarung laut, seperti bangsa Yunani, akan dapat melihat kapal yang akan mendekat ke arah daratan itu yang terlihat adalah bagian atasnya, begitu pula sebaliknya. Kalau kita lihat pada zaman yunani kuno, terdapat sebuah monumen yang bernama Colossus, yang mana memegang obor raksasa, ini digunakan untuk membantu para pelayar untuk mengetahui dimana letak daratan (apalagi ketika malam).

Colossus Monument, Ancient Greek (ancient-origin.net)

Maka bangunan tinggi ini menjulang ke langit, dan para pelayar melihat bagian atasnya terlebih dahulu, baru bagian badannya. Atau kita lihat ke Alexandria, ada juga bangunan seperti ini.

Observasi 2: Travelling North At Night

OBSERVASI 2:

Jika kita berpegian ke arah utara pada saat malam, bintang utara (the north pole star), akan tampak lebih tinggi di langit, perhatikan sudut 1 dan sudut 2. Pada gambar tersebut, sudut 2 lebih besar daripada sudut 1, sehingga bintang tampak lebih tinggi (tampak diatas kita).

The North Pole Star (astrobob.areavoices.com)

Memang sih agak sulit membayangkan juga berhubung kita berada di kota dan ada polusi cahaya dimana-mana.

Observasi 3: Traveling North By Day

OBSERVASI 3:

Jika kita berpegian ke arah utara pada siang hari, bayangan akan tampak lebih jauh. Kenapa? Karena sudut cahaya yang dipancarkan oleh matahari itu berbeda, dengan catatan, waktu pengukuran harus sama (misalkan sama-sama jam 10 pagi).

Apa yang bisa disimpulkan? Bahwa bumi ini tidak datar, melainkan lengkung (curved). Kemudian muncul pertanyaan berikutnya, jika bentuk bumi ini merupakan lengkungan-lengkungan (yang mana bisa diambil kesimpulan bulat), maka seberapa besarkah bulatan ini?

Slide Mata Kuliah Geodesi Geometrik — Teknik Geodesi & Geomatika ITB: Kosasih Prijatna & Wedyanto Kuntjoro, 2005

Zaman dahulu kala (sekitar 250 tahun sebelum masehi kalo gak salah), ada seseorang yang tinggal di Alexandria, Mesir yang bernama Eratosthenes. Dia ini menghitung bagaimana cara mengukur ukuran dari bumi. Caranya gimana? Dia memanfaatkan prinsip bayangan dari jam matahari.

Dia mengetahui, bahwa setiap Bulan Juni terdapat puncak musim panas (summer solstice) yang mana cahaya matahari akan tegak lurus dengan objek (maka panjang bayangan akan menjadi minimum).

Ilustrasi Pengukuran Lapangan (http://www.daviddarling.info/encyclopedia/E/Eratosthenes.html)

Pada sebelah selatan kota Alexandria ada sebuah kota yang bernama Syene (sekarang Aswan), dimana apabila tepat pada summer solstice, cahaya matahari akan sampai hingga bawah sumur yang berada di kota tersebut tersebut.

Slide Mata Kuliah Geodesi Geometrik — Teknik Geodesi & Geomatika ITB: Kosasih Prijatna & Wedyanto Kuntjoro, 2005

Maka dia melakukan pengukuran sederhana, di Kota Alexandria, Eratosthenes memperkirakan bahwa panjang bayangan tersebut adalah alpha, yang mana kurang lebih sekitar 1/50 derajat dari lingkaran penuh atau sekitar 7,2 derajat. Jarak antara Kota Alexandria sekitar 4400 stadia (ada juga yang bilang 5000, tapi saya pake yg 4400 saja). Maka dengan menghitung busur lingkaran, didapatkanlah bahwa jarak jari-jari bumi sekitar 220.000 stadia (kalo pake 5000 jadi 250.000). Apabila dikonversi menjadi km kita akan mendapatkan hasil 6317 km.

Dan kalo kita googling, hasil dari penelitian terbaru, radius bumi itu adalah:

Beda Tipis Bung (source: google.com)

Sedikit OOT, saya jadi teringat firman Allah,

Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu, Q.S. Al-Furqan 25:45

Ayat ini mengingatkan kita, sesimpel ‘menarik’ bayang-bayang dari matahari, Itu bisa menjadikan sebuah petunjuk betapa besar ciptaannya Allah. Don’t you think so? Kadang kita sendiri suka berbangga-bangga hati mendapatkan teknologi yang canggih. Hey, yang ngasih ilmu juga Allah gini. Semakin tinggi seseorang bukan berarti semakin sombong, harusnya makin tawadhu (rendah hati). Yang mana ini juga sebagai pengingat bagi saya tentunya.

Kembali lagi bahwa tidak ada sesuatu yang sia-sia yang diciptakan oleh Allah. Meskipun itu sesimpel menarik bayang-bayang dari tempatnya.

Elephant w/ Kilimanjaro (c) Voodymyr Burdyak

Kita hampir mencapai simpulan akhir dari tulisan ini, yang mana bentuk bumi itu seperti apa sih yang benar? Dari beberapa argumen yang saya kemukakan, bahwa simpulannya,

1. Bumi itu bisa diasumsikan datar, apabila dalam ruang lingkup yang sangat terbatas.

2. Bumi itu berbentuk lengkung, yang mana dalam skala besarnya lengkungan ini bisa berbentuk bola/sejenisnya.

Lalu ada tambahan terakhir, jadi bentuk bumi itu seperti apa dong?

The Shape of The Earth (?)

Ini kan bentuk-bentuk lengkung semua, yang bener yang mana? Jika menyimpulkan dari beberapa argumen yang saya sebutkan, kategori-kategori ini termasuk, maka jikalau terdapat kesempatan lebih, saya ingin membahas mengenai medan gravitasi dari bumi, karena ini juga memengaruhi bentuk lengkungan bumi juga (meski ada beberapa faktor lain yang memengaruhi juga). Tapi di kesempatan kali ini cukuplah ini sebagai gambaran bahwa saya memercayai bahwa bumi ini, berbentuk (hampir mendekati) bulat.

Lalu, apa hikmah dibalik ini semua?

“Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” Q.S. Ar-Rahman 55:33–34

Dalam suatu video Dr. Zakir Naik (kalo saya gak salah ingat, beliau membacakan ini saat berdebat melawan Dr. William Campbell — Atau Quran and Science ya? Lupa, antara 2 ini lah, saya tidak ada waktu untuk membuka video tersebut), kata illaa bisulthaan merujuk kepada izin Allah (kekuasaannya) dan ilmu pengetahuan.

Atas dua komponen ini, maka kita bisa menembus (meski bukan literally menembus/melintasi) penjuru langit dan bumi dalam rangka memenuhi fitrahnya kita sebagai manusia. Fitrahnya apa? (Note: Fitrah itu kecenderungan alami, contoh: ketika bayi lapar, maka secara fitrah dia akan mencari susu ibunya. Who teach that baby to do that anway? Allah, of course.)

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Q.S. Adz-Zariyat 51:56

Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. Q.S. Al-Baqarah 2:30

Kita ditugaskan ke bumi ini dalam rangka,

1. Beribadah kepada Allah

2. Menjalankan fungsi sebagai khalifah fil ard

Sebenarnya ingin saya bahas lebih lanjut, mungkin di lain kesempatan. Langsung saja ke konklusinya, salah satu fungsi khalifah ini adalah mengelola apa yang dititipkan kepada kita (yaitu bumi dan isinya), gak mungkin kita diamanahi tanpa kita diberi kelengkapan (baca lagi Q.S. 3:191), maka menjadi suatu kewajiban bagi kita, menuntut ilmu adalah suatu keharusan, dalam rangka menjalankan fungsi khalifah fil ard.

Grafitti of Return of The Pilgrims, Kairo, Mesir (c) Dany Eid

Saya cukupkan dulu tulisan ini, di lain kesempatan saya ingin melanjutkan keterangan-keterangan yang ada tulisan ini. Tak lupa, segala kekurangan datangnya dari saya, hikmah dan segala ilmu datangnya dari Allah. Semoga bermanfaat.

Luthfi Wisnuwardhana

Bandung, Agustus 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.