Hijabin Hati?
Sejujurnya saya jarang membahas tentang urusan wanita, tetapi kali ini saya tergelitik untuk menulis suatu dilema dalam hati saya, semoga bermanfaat.
Alhamdulillah banyak teman-teman saya, baik itu kakak maupun adik tingkat, ataupun teman sejawat saya telah banyak yang memakai hijab. Tetapi ada yang tersendat di masalah,
“Aku belum siap, mending dimulai dengan jilbabin hati dulu.”
Oke. Stop dulu disitu, sebelum kita lanjutin bahas masalah hijab ada ayat yang difirmankan oleh Allah kepada Muslim (karena Allah-lah yang menyuruh para wanita muslim untuk berhijab),
Thaahaa. Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah). Yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi. (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas `Arsy. Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah. (Q.S. Thahaa 20:1–6)
Quran ini pada dasarnya tidak ditujukan untuk sebagai penyulit jiwa, melainkan untuk jadi petunjuk bagi kita sebagai manusia. Dengan kata lain, segala apa yang diperintahkan pada Allah dalam Al-Quran bukan bermaksud bikin kita repot atau susah.
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (Q.S. Al-Ahzab 33:59)
Arti kata jilbab ketika Al Quran diturunkan adalah kain yang menutup dari atas sampai bawah, tutup kepala, selimut, kain yang di pakai lapisan yang kedua oleh wanita dan semua pakaian wanita, ini adalah beberapa arti jilbab seperti yang dikatakan Imam Alusiy dalam tafsirnya Ruuhul Ma`ani. Adapun Hijab (bahasa Arab: حجاب ħijāb), adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti penghalang. Al-Hijab artinya suatu benda yang menutupi sesuatu.
Coba bayangin “gue mau hijabin hati gue dulu, baru hijabin kepala gue.”
Kalo diartiin artinya, “Gue mau menghalangi/menutupi hati gue dulu, baru nutupin kepala gue.” Hehe, jangan sampe menghalangi hati dari nerima hidayah dari Allah ya sis. Kita coba lihat dari sudut pandang yang baru, yaitu Allah menurunkan perintah hijab bukan untuk mempersulit kalian ya, sis.

Anggaplah ada suatu kasus kayak gini,

Salah model buat potong rambut, terus kepikiran aja pake hijab sebagai solusi, ah yaudah sih, bentar gini (hehe, hidayah Allah mah bisa datang karena seorang tukang cukur).
Setiap orang punya proses masing-masing, ga mungkin lah ada ujug-ujug menjadi soleh dalam 1 malam, mie instan aja mesti diseduh 3 menit hehe.

Hehe, “taat tapi asyik” kalo kata ustadz Hanan Attaki, bawa enjoy aja. Jangan diambil rarungsing. Karena Allah gak menurunkan ini buat nyusahin kok, sis. Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan Maha Menolong, jadi jangan takut kalo mau mendekat kepada-Nya. Mau bagaimanapun kondisimu saat ini, just ask Him, and He’ll respond you.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Q.S. An-Nahl (16:125)