How Do You Eat An Elephant?

Disclaimer: Bismillah first, then read.

Saya memiliki sebuah keyakinan, bahwa di masa depan, saya akan menjadi orang yang sukses. Keyakinan ini sudah lama saya tanamkan oleh diri saya semenjak SMA. Guruku berkata bahwa, yakinlah itu bakal terjadi, maka itu akan terjadi. Tidak masalah apakah itu adalah mimpi yang besar ataupun yang kecil, sulit ataupun tidak, mahal ataupun murah. Mimpi adalah mimpi.

Menjadi pertanyaan berikutnya adalah, ada yang tercapai, ada yang tidak.

How do you eat an elephant? (bagaimana caranya kamu makan seekor gajah?)

Segigit demi segigit lah.

Kalimat ini saya temukan ketika saya berada dalam titik stress saya (yang mana 1 jam sebelum tulisan ini dibuat) karena buku catatan saya hilang dan beberapa urusan yang gak beres-beres. Tapi itu menjadi tolok ukur saya untuk kembali melangkah ke depan.

Semua manusia ketika menghadapi realita untuk menggapai mimpinya akan mengalami 3 hal setelah mencoba meraihnya, gagal lalu menyerah, gagal lalu mencoba lagi, atau berhasil. Sudah menjadi hal yang lumrah bagi seseorang apabila ia ingin meningkatkan kapabilitas diri melebihi apa yang ia punya sekarang.

“Saya ingin lebih mulus kulitnya”
“Saya ingin lebih kaya”
“Saya ingin dapat ranking 1 di kelas”
“Saya ingin menjadi tahfidz Quran”

Yea yea yea, whatever your dream is, chase it.

Meraih mimpi itu seperti makan gajah. Kamu harus mengunyahnya 1 demi 1, menelannya, kemudian melanjutkan lagi (kita tidak berbicara kapasitas perut ya disini, dan kita tidak membahasnya dalam waktu yang singkat).

Di era modern sekarang, kita ingin serba instan. Sejujurnya sih iya, download dengan kecepatan 10kbps aja udah bikin frustasi, ya gak toh?

Saya pernah membaca suatu artikel dari seorang psikolog di Harvard, bahwa ada beberapa alasan kenapa orang tersebut memilih ‘mundur’ dari mimpinya.

  1. Target yang tidak realistis
  2. Goal-oriented yang berlebihan

IMHO, poin pertama itu tidak maslah bagi saya. Kenapa? Karena sebagai seorang muslim saya dilatih untuk mencapai suatu target, bahkan yang terdengar tidak realistis sedikitpun. Kok bisa bilang gitu? Rasulullah (which is my role model)pun melakukannya. Para sahabat (companions) pun melakukannya.

Kamu pikir perang 313 orang melawan 1000 orang yang secara kemampuan militer, teknologi dan segala macam peralatan menjadi perbedaan jauh, bisa terjadi kemenangan kepada 313 orang? Kagak logis.

Kamu pikir menaklukan sebuah bangsa dengan kekuatan militer 200.000 orang dengan teknologi, taktik, sdm yang superior melawan 23.000 orang dengan kondisi sebaliknya bisa terjadi kemenangan? Kagak logis.

Kamu pikir menaklukan sebuah benteng 3 lapis yang belum pernah jatuh selama ratusan tahun oleh bangsa manapun namun dapat dijebol oleh seorang pemuda berumur 21 tahun? Kagak logis.

Tapi ketahuilah bahwa itu nyata.

Banyak dalam sejarah Islam bahwa target yang ‘tidak realistis’ menjadi target yang ‘realistis’.

How do you eat an elephant?

Poin kedua mengatakan goal-oriented yang berlebihan. Ini benar, karena saya merasakan hal tersebut. Terlalu banyak goal, terlalu tinggi goalnya, terlalu apalah goalnya. Terlalu tinggi hingga menjadi obsesi itu tidak baik untuk kesehatan.

Saya ingat juga kata-kata pelatih saya.

Hasil tidak akan membohongi proses. (Ahadian, 2011)

Ketika sebuah mimpi adalah mimpi yang jauh, mimpi yang sulit dicapai, mimpi yang sangat sulit, dan segala macamnya sulit. Apakah mungkin dicapai?

Mungkin.

Asalkan kita menjalani proses ini dengan baik dan benar. Hasil itu yang memberikan Allah, bukan kita. Makanya segala pengharapan itu diberikan kepada Allah, bukan kepada hasilnya secara berlebihan. Ngarep itu boleh, jangan berlebihan.

Kita sering lupa, bahwa kita ini mengalami proses juga loh. Give ourself a chance, don’t suddenly give an instant punishment.

Segigit demi segigit

Perjalanan ini jauh, dan tentunya jika kamu makan si gajah dengan langsung… Olab meureun (pingsan mungkin).

Kunyah demi kunyah

Jangan mengharapkan bahwa dalam perjalanan ini bisa enak, kadang kamu mesti mengunyah ekstra pada bagian yang keras, kadang juga ada bagian lunak yang bisa langsung ditelan.

Telanlah

Pengalaman akan menjadi guru, dan Allahlah yang akan menjadi pembimbing kita.

An Elephant is an Elephant

Sebesar apapun itu, kejarlah.

Karena gajah tetaplah gajah, dunia tetaplah dunia, dan akhirat tetaplah akhirat.

Luthfi Wisnuwardhana, 2016

Like what you read? Give Luthfi Wisnuwardhana a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.