Lelah Karena Lillah

Disclaimer: Daripada energi terbuang karena mengeluh, jadikanlah peluh sebagai pembuka ridha illahi robbi.

Source: 500px.com

Bismillahirrahmanirrahim

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah. Q.S. Al-Balad 90:4

Kita diciptakan dalam kondisi yang payah, sangat sangat sangat payah. Kita seringkali mengeluh juga dalam kondisi seperti ini. Hey, dunia ini memang tempat untuk bercapek-capek. Menariknya di ayat ini, Allah itu bilangnya manusia, bukan orang-orang yang beriman ataupun kafir. Dengan kata lain, sudah menjadi fitrahnya bagi seorang manusia untuk bercapek-capek dalam hidup di dunia ini.

Mau kita menjadi orang yang super sibuk dalam urusan dunia, pasti kita merasakan kepayahan/kelelahan.

Mau kita menjadi orang yang super sibuk dalam urusan akhirat, pasti kita juga merasakan kepayahan/kelelahan itu.

Yang jadi pertanyaannya, lelah yang seperti apa yang bermanfaat? Kalo cuma asal menggunakan tenaga doang mah lebar euy, umur berkurang, sementara energi terbuang.

Disini saya hanya ingin berbagi sebuah harapan, semangat, dan rasa ‘ayo sekali lagi’ yang mungkin terasa pudar.

Ingat: Kita Bukan Penduduk Asli Bumi

Iya, asli kita ini dari surga, Allah sendiri yang bilang

Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar. Q.S. Al-Baqarah 2:94

Kampung halaman kita ini surga, kita diturunkan ke bumi ini dalam rangka beribadah kepada Allah (Q.S. 51:56) & menjadi khalifah (Q.S. 2:30). Setelah dari sana, kita akan kembali ke kampung halaman kita. Tinggal pertanyaannya, kita memilih untuk pulang kembali ke kampung halaman ini, atau malah sebaliknya ke kampung sebelah? (baca: neraka).

Homecoming (500px.com)

Lelah Berorientasi Akhirat

Kita seringkali bilang loh di doa iftitah kita,

Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam. Q.S. Al-An’am 6:162

Kita lupa segala-galanya untuk Allah, dikit-dikit Allah, Allah lagi, Allah terus. Setan gak akan pernah ridho kita pulang kampung, dia pengen nyesatin ke kampung sebelah.

Mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya kepada diri kita

“Saya melakukan hal ini itu setiap hari buat apa sih? Jangan sampai apa yang kita lakukan hari ini bisa berabe ketika hari pertanggungjawaban nanti.”

Stop for a while, ask yourself now. I hope you find an answer.

Saya jadi ingat kata-kata teman saya ketika saya bener-bener down dan gak semangat banget.

Kamu tahu gak Jang, kenapa hidup itu teramat pahit? Karena surga itu teramat manis. ~Anisa Rizkia R., 2012~

Simpel, namun nasihat ini mengingatkan bahwa perjuangan ini belum berakhir. Masih ada kesempatan untuk bertobat dan meraih nilai guna tertinggi sebagai seorang manusia. Bukan manusia lagi, seorang muslim.

Fin. (500px.com)
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.