Lyana Mulkin
Sep 3, 2018 · 2 min read

SATU FREKWENSI DENGAN TUHAN

Film Ainun dan Habibie adalah salah satu film yang sangat popoler di Indonesia bahkan di luar negeri. Sebuah kisah percintaan antara Bapak Habibie, mantan Presiden Indonesia ke 3 dengan almarhumah istrinya, Ibu Ainun. Ada satu kalimat yang sangat berkesan pada diri saya, yaitu kalimat Bapak Habibie yang mengatakan bahwa “Saya dan Ainun akan selalu satu frekwensi, sehingga kami selalu bersama.”

Satu frekwensi, ibarat kita memilih frekwensi di radio dan akan mendengarkan suara yang jernih ketika frekwensinya tepat, dan kita akan terus memutar tombol di radio agar bisa tepat berada di saluran frekwensi yang kita inginkan. Bagaimana rasanya ketika kita mendengarkan lagu kesayangan kita di radio dengan suara yang jernih? Pasti kita akan merasa sangat senang dan puas, sehingga kita rela berlama-lama mendengar lagu tersebut. Bahkan kita rindu untuk selalu mendengarkannya karena suaranya sangat jernih tidak kresek-kresek. Akan terjadi kesesuaian, ketepatan dan keharmonisan ketika terjadi keselarasan frekwensi antara suami dan istri, antara anak dan orangtua dan antara pasangan-pasangan lainnya. Begitu pula dengan ciptaan dan penciptanya, antara hamba dan Tuhannya.

Saya tertarik untuk membahas keselarasan frekwensi antara hamba dan Tuhannya. Mengapa banyak manusia yang beragama, rutin melakukan ritual ibadah tapi tetap juga gemar melakukan perbuatan yang tidak baik. Mengapa banyak manusia yang tampil agamis, tapi sering membuat orang disekitarnya menjadi tidak nyaman dengan keberadaanya. Mengapa banyak orang yang berbicara atas nama agama, tetapi keresahan masih sering terjadi di kalangan umatnya. Inilah yang dinamakan, tidak adanya keselarasan frekwensi antara hamba dan Tuhannya. Kalau istilah komunikasi, disebut wrong number, istilah anak sekarang, “ndak nyambung’

Ketika tidak ada keselarasan frekwensi, dan ketika salah sambung, maka apa yang terjadi? Kita sebagai hamba, menyibukkan diri melakukan ritual yang kita anggap benar. Menjalankan syariat agama yang diperintahkan agar bisa terjalin hubungan mesrah dengan sang pencipta. Ketika telah terjalin hubungan baik, frekwensi yang sama, maka kita berharap menjadi hamba yang terberkati, tidak salah arah dalam melangkah di dunia serta dapat masuk syurga tentunya. Akan tetapi faktanya, kita berada di frekwensi yang berbeda dengan yang ingin kita sembah, kita wrong number. Maka itulah tadi yang terjadi, ritual-ritual keagamaan tapi hanya sekedar ritual tidak memberikan dampak yang diharapkan.

Bagaimana agar terjadi kesamaan frekwensi dan kita berada pada right number? Maka kenali siapa pencipta kita. Cari tahu bagaimana berkomunikasi yang benar dengan Dia. Ibaratnya, ketika berniat menelfon seseorang, pasti kita harus tahu dulu siapa orang yang akan kita telfon. Agar kita tahu apa yang kita akan bicarakan, apa yang kita akan sampaikan dan apa maksud kita menelfon . Ketika persyaratan tadi sudah terpenuhi, maka obrolan kita lebih terarah dan maksud serta tujuan kita mudah ditangkap oleh sang penerima telfon. Inilah analogi sederhana bagaimana menggambarkan hubungan kita dengan sang pencipta.

    Lyana Mulkin

    Written by

    Hi.. I am Lyana. I like teaching and writing. I like share anything to the others. I live at Makassar, South Celebes at Indonesia.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade