Bantaeng, Idola Baru Sulawesi Selatan

Lydia Ega Asmara
15417136
Nurdin Abdullah, lahir di Kota Pare-Pare pada 9 Februari 1963 adalah salah satu tokoh perencana yang tidak hanya merencanakan dengan pemikirannya, tetapi juga dengan hati. Saya cukup kaget ketika membaca artikel yang menceritakan bahwa beliau menggunakan uang pribadinya senilai 14 miliar untuk membangun infrastruktur jalan yang belum selesai.
Dalam menjalankan peran sebagai kepala daerah, kemampuan dan kinerjanyanya dalam merencanakan kota, secara khusus Kabupaten Bantaeng mendapatkan banyak apresiasi tingkat nasional maupun internasional. Beliau merupakan penerima Penghargaan “Ganesha Praja Adiutama” dari ITB dalam rangka peringatan Pendidikan Tinggi Teknik di Indonesia (PTTI) ke-96 dipandang dari sisi keahlian perencanaan wilayah kota.
Seseorang yang menjadi inspirasi dan sekaligus role model saya ini sebenarnya tidak memiliki basic pendidikan perencanaan sama sekali, namun kemampuan merencanakan kota dengan taktis, serta karyanya di bidang perencanaan sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tetapi ada hal yang lebih penting daripada kemampuan berpikirnya yang cerdas dan inovatif, yaitu beliau berkarya dengan hati.
Anak sulung dari enam bersaudara ini menempuh pendidikan sarjana pertanian di Universitas Hasanuddin Makassar. Kemudian beliau dan isterinya pindah ke Jepang untuk melanjutkan kuliah magister dan doktor. Selama kuliah, beliau sangat aktif dalam kegiatan organisasi kemahasiswaan, baik di jurusan maupun fakultas. Berbakat dalam kepemimpinan dan organisasi membulatkan tekadnya untuk mencalonkan diri menjadi Bupati Bantaeng, dan akhirnya terpilih untuk dua periode kepemimpinan. Pada tanggal 27 Juni 2018 lalu, atas kepercayaan rakyat Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah bersama pasangannya Andi Sudirman Sulaiman berhasil meraih suara terbanyak sebagai kandidat Gubernur Sulawesi Selatan dan akan dilantik di Istana Negara pada 17 September 2018.
Nurdin Abdullah berhasil membangun Kabupaten Bantaeng dari predikat kabupaten terkotor menjadi kota dengan wisata alam yang terkenal. Berkat kerja kerasnya pula, beliau berhasil menurunkan angka kemiskinan, dari 21% menjadi 5%. Angka pengangguran juga dapat dikurangi dari 12% menjadi 2,3%. Sungguh luar biasa pencapaian yang beliau lakukan dan membuat saya semakin penasaran dengan cara memimpin dan metode yang beliau gunakan untuk mengatasi kemiskinan.
Melalui basic pendidikan di bidang pertanian, beliau menggunakan teknologi mesin modern untuk mengembangkan pertanian di Bantaeng yang dapat dioperasikan sendiri oleh para petani, serta memajukan proses pembibitan yang modern sehingga Kabupaten ini mampu menjadi percontohan untuk negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Kamboja, Myanmar, Malaysia, Thailand, dan Filipina. Peningkatan komoditas pertanian membuat perekonomian di kabupaten ini semakin membaik yang ditandai dengan peningkatan pendapatan perkapita dari 5 juta rupiah menjadi 27 juta rupiah per tahun. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga meningkat dari 4,7% menjadi 9,5%. APBD meningkat dari 200 miliar rupiah menjadi 800 miliar rupiah.
Setelah banyak membaca tentang beliau, saya dapat menyimpulkan bahwa beliau cukup concern dalam membangun infrastruktur, khususnya jalan sebagai salah satu sarana penting dalam kehidupan. Selain itu, beliau juga membangun Pantai Marina dan Pantai Seruni yang tadinya digunakan sebagai tempat penampungan sampah menjadi tempat wisata alam pantai yang cantik dan selalu didatangi wisatawan. Bidang pariwisata lain yang dibangun oleh beliau adalah agrowisata perkebunan apel dan stroberi.
Dalam mengatasi kemiskinan, dimulai dari desa-desa. Di desa dibentuklah Tim Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TPKD) untuk sosialisasi pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK). TKPK ini yang selanjutnya mendata, menyelidiki, memberi sosialisasi dan menyalurkan bantuan kepada keluarga-keluarga miskin yang ada di desa
Sebagai perencana, beliau sangat dekat dengan rakyat yang dipimpinnya. Beberapa kebiasaan yang dilakukannya adalah bersepeda di pagi hari untuk menyapa warganya, memancing bersama, ataupun berkunjung ke pantai.
Jiwa sosial tinggi, pemikiran kreatif dan kritis, dan kepekaan dengan lingkungan sekitar, merupakan tiga karakter perencana yang dimiliki Nurdin Abdullah yang ingin saya terapkan ketika say menjadi seorang planner.
Referensi :
Fahruddin. 2017. Nurdin Abdullah, Act Locally, Think Globally. Diambil dari : https://books.google.co.id/books?isbn=6023853625 (2 September 2018)
Nicolha, Abdullah. 2018. Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Dilantik di Istana Negara 17 September. Diambil dari : https://daerah.sindonews.com/read/1325404/174/nurdin-abdullah-andi-sudirman-dilantik-di-istana-negara-17-september-1532619661 (3 September 2018)
