Apple dan Saya

Jika sebelumnya saya pernah menulis Apple dan pengembang sebelum bulan Oktober 2016, setelah melihat cuplikan Apple event kemarin nampaknya saya juga mau ikut-ikutan komentar mengenai Apple.

Sebelum saya mulai misuh-misuh tentang banyak keputusan Apple dalam mengembangkan produknya, saya ingin memulai dengan latar belakang saya dahulu. Seperti biasa saya ini pengembang yang sebagian besar kegiatannya memakai Windows sampai tahun 2008, ketika itu saya bekerja sama dengan klien yang menggunakan produk Apple.

Klien saya ini memang evangelist, saya pun tertarik dengan Macbook, sampai saya meminjam dari teman saya, karena saya tidak mampu beli tentunya. Harganya yang cukup mahal, membuat saya harus mencari cara untuk memakai Macbook. Setahun kemudian saya bisa membeli Macbook Black second seharga sepertiga dari harga barunya.

Fast forward akhirnya di penghujung 2012 saya membeli Macbook Pro versi terakhir yang non retina yang saya pakai hingga sekarang. Saya pun sudah upgrade ke SSD, ganti baterai, dan RAM 16GB. Tidak ada keluhan sama sekali dengan non retinanya.

Lalu apa hubungannya dengan event Apple kemarin?

Berbagai keputusan Apple akhir-akhir ini cukup mengecewakan. Keputusan pertama adalah disoldernya RAM di Mac Mini. Mac Mini adalah mini PC yang dulu menawarkan upgradable RAM. Lalu tiba-tiba Apple memutuskan untuk menyolder RAM. Lalu Macbook Pro Retina yang baru pun sama. Saya tidak begitu mengeluhkan RAM yang disolder, bagaimanapun itu laptop. Yang saya sangat sayangkan adalah, betul, hilangnya tombol ESC permanen dan diganti dengan… TOUCH BAR.

Padahal Macbook keluaran akhir 2016 ini yang saya tunggu-tunggu. Saya mau tau seperti apa yang akan di deliver oleh Apple. Ternyata ga jauh-jauh beda dengan Macbook 2012 saya. Selain itu Macbook 2012 punya hampir semua colokan yang umum:

All the ports thot you need

Kecuali mungkin Firewire, semua port di atas masih umum digunakan, termasuk lubang untuk SDXC (SD Card). Bahkan masih punya CD ROM (yang sudah saya ganti untuk jadi tempat SSD). Dan yang ditulis artikel ini memang betul sekali.

Di tahun 2016 saya hanya mengeluarkan kurang lebih 4 juta rupiah untuk dapat SSD, 16 GB, dan baterai baru. Masih bisa menjalankan OSX Sierra. Dan kalau soal layar, saya sudah punya layar besar di rumah.

Jadi selama 4 tahun, yang dihasilkan Apple adalah: layar lebih besar, CPU yang (sedikit) lebih garang, touch bar, menghilangkan sebagian port termasuk HDMI, menggantinya dengan USB-C di mana saat ini saya perlu membeli berbagai macam dongle termasuk ketika saya ingin mencolokkan iPhone saya. Benar-benar jenius!

Jika ingin fleksibilitas, mengapa tidak membuat seluruh permukaan macbook baru dengan layar sentuh dan taptic engine dan tutup rapat permukaan papan tiknya, sehingga tidak ada lagi keluhan ketumpahan kopi yang jelas-jelas tidak dijamin garansi Apple. Fungsional dan jelas-jelas fleksibel. Mahal? yasudahlah namanya juga Apple, orang pasti beli.

Update: Pernyataan di blog ini sangat spot-on

Mungkin satu-satunya alasan saya membeli Macbook Pro baru adalah ketika macOS baru keluar dan tidak mendukung Macbook 2012 saya. Persis ketika Mountain Lion tidak mendukung Macbook Black saya. Dan saat itu mungkin saya akan mulai berpikir untuk memakai Lenovo X1 Carbon saja, yang saya install ArchLinux.

Sesenang-senangnya saya dengan Apple. Pergerakan Apple akhir-akhir ini yang semakin mirip IBM zaman dahulu, terutama produk-produk setelah Steve Jobs meninggal sedikit bikin saya muak.

Steve Jobs Finger

Microsoft?

Latar belakang saya memakai Mac OSX adalah karena basis Unix nya. Jadi Windows sama sekali tidak menarik perhatian saya. Yang menarik perhatian saya dari Surface Studio adalah iklannya, sangat ‘Apple’. Hanya ini bukan gawai yang saya perlukan sekarang.

Saya sebal dengan pilihan yang ada sekarang.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.