ANTINARKOBA: MEMFUNGSIKAN LEMBAGA PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT

M. Hariri
M. Hariri
Sep 1, 2018 · 4 min read
www.pexels.com

Pada beranda koran Jawa Pos (Kamis, 08/16), halaman 31, di sana terpampang sebuah kasus penggunaan narkoba kembali muncul. Empat pengedar dan pengguna narkoba serta empat lainnya pelanggan setianya telah ditangkap polisi di Surabaya. Setidaknya sekarang kita tahu bahwa kini narkoba seolah sudah seperti minuman yang bisa diperjual belikan di toko-toko. Ancaman hukuman pidana berat pun masih tidak bisa membuat pelaku jera.

Ada hal menarik dari jawaban pelaku di atas saat ditanya oleh aparat kepolisian. “Kenapa bongnya diberi batu warna-warni? Apakah ada metode baru?” Tanya Polisi. “Tidak ada apa-apa, Pak. Lihatnya lucu saja.” Menurut laporan yang tertulis, mereka (pelaku) menambahkan bahwa ketika nge-fly sambil melihat batu itu naik-tenggelam, ada sensasi tersendiri. “Asyik begitu rasanya.”

Bahasa “nge-fly sambil melihat batu naik-tenggelam” dan “asyik begitu rasanya” dari korban di atas menunjukkan bahwa seolah-olah yang mereka lakukan adalah keinginan hasrat terhadap rasa jenis narkoba, bila dilakukan akan memberi kenikmatan pada si pelaku.

Dalam padangan Plato, rasa adalah substansi dari sesuatu (unchange). Rasa manis, rasa pahit dan rasa asin adalah substansi dari sesuatu. Begitu juga dengan jenis-jenis narkoba, substansi rasanya tidak akan pernah berubah. Jika ada perubahan, menurut Plato, bukan dari rasanya, tapi yang berubah adalah penggunanya. Misalnya orang itu dalam keadaan sakit, rasa nasi berubah menjadi pahit.

Sehingga tidak mengherankan jika pengguna narkoba setiap harinya terus bertambah. Anak-anak yang masih sekolah ikut terlibat. Perempuan, yang diharapkan perilaku keibuannya untuk mendidik anak-anaknya juga ikut terlibat. Lelaki yang diharapkan jadi panutan juga sama. Bahkan sebagian orang tua banyak yang diseret paksa ke dalam penjara di depan anak-anaknya. Itu semua karena rasa jenis-jenis narkoba telah menarik perhatian mereka.

Aksi penanggulangan narkoba beberapa hari yang lalu juga telah kembali dilakukan BNNK Surabaya dengan mengadakan tes urine di Kantor Pelayanan Pajak Madya Surabaya, Jalan Jagir. Dengan total 103 pegawai diperiksa. Dan pasti juga ada banyak penanggulangan lain.

Undang-undang Narkotika tahun 2009 akan memberikan hukuman pidana 4, 12 sampai 20 tahun, dan masih ditambah denda ratusan juta. Negara juga membentuk badan khusus, yaitu Badan Narkotika Nasional (BNN), dan tugasnya menangani permasalahan narkotika. Seperti pencegahan, pemberantasan, dan upaya penyelamatan dan rehabilitasi kepada para korban. Namun nyatanya itu semua masih belum cukup mengurangi angka korban.

Menurut laporan Komisi Pelindungan Anak Indonesia, Bambang, bahwa dari sekitar 87 anak Indonesia, sekitar 5,9 juta di antaranya pecandu narkoba (Tempo.co, 16/03, Merevisi UU Narkotika). Ditambah pula pemuda dan orang-orang dewasa.

AKTIVASI PERAN LEMBAGA

Melihat persoalan pengguna narkoba yang terus meningkat, dan sedikit pengaruhnya ancaman dari pemerintah, seolah-olah bagi mereka, menggunakan narkoba adalah suatu tindakan yang benar. Apalagi HAM oleh sebagian orang dibenarkan untuk melakukan segala hal yang dikehendaki. Menurut Heidegger, dalam memaknai kebenaran, unconcealment‒truth‒always entail at the same time a withdrawal into concealment. Karena truth is always coupled with untruth. Sehingga kebenaran harus selalu dicari.

Tapi saran-saran itu tidak berada pada generasi sekarang yang terlibat penggunaan narkoba. Sehingga perlu upaya, seperti lembaga pendidikan dan lembaga lainnya yang ada di masyarakat, untuk terlibat menyadarkan anak-anak tentang bahayanya narkoba.

Bahkan jika bisa, dibuat agenda wajib setiap lembaga pendidikan dan masyarakat tentang antinarkoba. Mulai sekarang seluruh masyarakat dan guru-guru harus terlibat intens. Memberi pelajaran tentang yang baik dan tidak baik. Karena salah satu faktor yang tidak lepas dari penggunaan narkoba adalah lemahnya moral serta ragamnya makna kebenaran di mata kaum pemuda.

Misalnya, sekarang makna kebenaran tidak berlaku jika tidak ada yang tahu. Bahkan anak kecil yang baru belajar berpuasa bilang bahwa minum di siang hari hukumnya tidak membatalkan puasa jika tidak ada yang tahu. Artinya apa? Bahwa ada kebenaran yang hanya berlaku sejauh ia diketahui publik. Begitu juga dengan kebenaran menggunakan jenis-jenis narkoba. Pelaku akan membenarkan itu karena berada di luar hukum dan publik.

Akan tetapi, di hadapan aparat kepolisian, mereka akan mengakui kebenaran sebuah larangan menggunakan jenis-jenis narkoba. Lagi pula itu sangat berbahaya bagi si pelaku. Di depan ulama pun, misalnya, mereka akan mengakui kebenaran haramnya narkoba. Tapi di luar itu semua akan kembali ke awal; kebenaran adalah subjektif.

Dampaknya hukum larangan mengonsumsi jenis-jenis narkoba tidak begitu dipedulikan. Larangan agama memakan barang-barang yang membahayakan juga disepelekan. Akhirnya implikasinya tidak ada yang bisa menyalahkan menggunakan narkoba. Hari demi hari pengguna narkoba semakin meningkat.

Sangat penting kiranya untuk mulai memfungsikan kembali secara lebih intens lembaga pendidikan dan lembaga semacamnya yang ada di masyarakat. Menerangkan arti sebuah tindakan yang benar dan salah serta hukum kepada mereka.

Mereka perlu diisi dengan renungan-renungan. Mungkin upaya seperti spiritual bisa membuat mereka kembali ke fitrahnya. Sebagaimana dinyatakan Immanuel Kant dalam The Critique of Pure Reason, apa yang tidak bisa diatasi akal dan sains adalah tugas metafisika. Metafisika pada umumnya adalah kepercayaan para ulama dan tokoh agama di masyarakat. Tugasnya memberi renungan dan pelajaran menata hati supaya selamat dunia akhirat.

Lembaga pendidikan juga harus lebih intens dalam persoalan ini. Siswa memakai sabu-sabu di luar sekolah, tidak akan ada yang tahu. Kita tahu bahwa persoalan ini sangat rumit. Tapi harus ada upaya yang lebih giat lagi, karena tugasnya adalah mendidik mereka.

Itulah yang dimaksud oleh Plato dalam mendirikan Akademi di Yunani, serta lembaga keagamaan di zaman Nabi Muhammad. Lembaga pendidikan dan keagamaan adalah salah satu cara untuk menyelamatkan bangsa ini dari kekacauan, kehancuran dan kebodohan.

*Bengkel kerja Bendulmerisi

M. Hariri

Written by

Student of philosophy. Pursuing the ideas of Martin Heidegger

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade