Berbeda

Dialektik

Samudera pulau Tepi Pantai pukul 09:00 pagi, ku berdialektik,

Sunyi nan Sendiri

Apa kau tahu?

Diantara celoteh-celoteh burung camar, ku menjadi angin yang tak sengaja memperhatikanmu

Terkadang nakal dan penasaran, sengaja menjadi awan agar dengan matahari berdampingan

Desir pasir berderus oleh alunan ombak samudera, begitu kataku

Tidak, jawabmu

Kau benar-benar takkan pernah paham sampai-ku sesati pernyataan, entah akan apa jadinya

Namun justru Aku telah paham, semua terjadi karena alam dan keadilan

Berbeda.

Author: Muhamad Rayhan H
Bahasa (Indonesia)