SANG PUJANGGA TAK BERTAHTA DI KISRUHNYA TANAH GANESHA

Lika-liku serta pelik dari kehidupan kampus ganesha ini banyak diwarnai dari kehidupan kemahasiswaan para penerus tonggak perjuangan reformasi, dimana salah satu isu yang ada di kampus ini yaitu terkai tmasalah yang ada pada para pemegang kursi kekuasaan kemahasiswaan itu sendiri, Referendum sendiri merupakan jawaban dari keteledoran sang pujangga eksekutif kemahasiswaan Ahmad Wali Radhi karena tidak kesesuaiannya untuk selaras dengan peraturan yang ada.Sehinggatimbul pro maupun oposisi akan tegaknya kekuasaan Sang Wali di ujungnya dengan output permasalahan yang kian bertambah dan semakin tidak solutif.

Belum selesai dengan permasalahan akan penurunan presiden KM, pergantian pelaksana pemerintahan yang baru akan segera dilaksanakan, hal yang menarik yaitu krisis akan sosok pemimpin yang akan melanjutkan kepengurusan kampus ini, dimana baru terdapat calon tunggal untuk Ketua kabinet KM ITB serta Calon Ketua MWAWM yangsampai detik ini masih nihil.Jika kita analisis dari segi histori segala hal yang terjadi saat ini bertolak belakang dengan perjuangan kemahasiswaan tahun 98 silam dimana aktivis serta kepemimpina nmengalami krisis yang berkelanjutan di tanah ganesha di era millennial ini.

Bukan hanya dari segi kemahasiswaan yang masih hiruk pikuk serta tak jelas arah permasalahnnya, inti dari perangkat kampus ini sendiri yaitu pimpinan rektorat ITB juga memiliki banyak problematika tak berarah mulai dari isu ITB multikampus yang sejatinya memiliki tujuan mulia untuk memperluas pengaruh yang katanya kampus terbaik bangsa ini agar dapat menjawab permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat namun ternyata dalam aplikatifnya masih terseyok-seyok dalam system dan keberjalanannya terutama dalam kejelasan hukum akan aspek-aspeknya sendiri seperti luas tanah dan Bangunan, selain itu anggaran mengalir bak air yang tidak kunjung ditambal sebab banyaknya pengeluaran dana untuk salah satu proker para pejabat ITB ini.

ITB Jatinangor sendiri merupakan hasil dari program kolosal ITB multikampus dimana dari perspektif orang awam kalimat sepi serta tidak menyenangkannya kehidupan kampus bisa saja disematkan di kampus ini. Namun hal yang tersirat dari segi internal kemahasiswaannya sendiri dimana kehidupan kampus jauh lebih terasa hidup dan antusias yang merupakan sisi positif dari adanya multikampus ini.

Dengan salah satu opsi solusi permasalahannya adalah Restrukturisasi dimana merombak ulang struktur dengan memindahkan dan menggabungkan fakultas serta membentuk Dekan yang menyupport dan mengaplikasikannya, selain itu juga clustering yang merupakan suatu konsep untuk menempatkan para expert di bidangnya pada beberapa kampus ITB sendiri khususnya bidang Lingkungan, Hayati dan Energi Tebrarukan di ITB Jatinangor.

Hal yang disebutkan diatas menimbulkan sebuah premis bahwa kehidupan serta struktur dan segala keteknisannya tidak selalu berbanding lurus dengan status instansi yang bersangkutan. Segala isu dan permasalahan yang ada di ITB baik dari sisi internal kemahasiswaan maupun dari sisi kepemimpinan ITB dapat dijadikan sebagai pijakan serta pembelajaran yang kedepannya dapat membuat instansi ini menjadi isu hangat yang tidak hanya untuk dinikmati layaknya secangkir kopi hangat akan tetapi juga dapat diresapi akan makna serta solusi dari permasalahan tersebut.