Merauke dan sebuah harapan

Kamis, 3 Agustus 2017

Bertemu untuk bertukar pikiran, sebuah perjalanan dengan niat untuk bertemu mendiskusikan hal-hal yang terjadi maupun solusi yang di tawarkan.

Mereka adalah Roberto Ukmen Wirem & Frederikus Kurim.
Dua kawan saya orang asli papua, becerita tentang perkembangan kota Merauke serta harapan mereka. Ya, kota tempat kami tumbuh dan besar di sini.

Pertemuan kami bertempat di SD Negeri 1 Bokem, karena saat itu teman kami kaka feri (panggilan akrab) sedang melaksanakan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Kami pun di sambut dengan begitu hangat oleh rekan-rekannya, dua gelas teh manis hangat pun di hidangkan dengan senyuman manis serta sapaan “mari di minum tehnya” menjadi pelengkap sajian ini.

Jarak SD Negri 1 bokem dengan kota sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya saja akses jalannya yang begitu banyak lubang menyulitkan kami, sehingga mau tak mau kami pun harus melambatkan mobil agar terhindar dari jeratan lubang jalanan yang membuat lecet mobil tersebut.

Terakhir kali saya ke bokem saat masih bocah ingusan kelas 6 sd, hampir 10 tahun yang lalu kalau saya tidak salah ingat. Dulu jalanan di sana masih bagus, dan bahkan ada tempat mandi-mandi karena airnya yang begitu jernih. Jalanan sekarang begitu banyak truk pasir berkeliaran, jam malam (saat itu pukul 7) masih saja tetap ramai. Saat saya menanyakan kenapa begitu banyak jalanan lubang dan banyaknya truk pasir berkeliaran, kawan saya obet memberikan jawaban yang tak terduga. “Truk-truk itu dong ambil pasir di pantai buat di jual lagi, makanya jalanan tidak di perbaiki agar mobil-mobil truk tidak terlalu banyak lewat. Tapi tetap saja, mau bagus kah tidak kah jalanan dibiarkan saja begitu”

Saya kurang tahu pasti, tapi apakah pemerintah Kabupaten Merauke sendiri khususnya sudah menindak tegas hal ini? entahlah

Balik ke tempat KKN, setelah kami di sajikan dua gelas teh hangat kami berdua pun di ajak untuk makan bersama (baru datang langsung di ajak makan, memang tidak tau diri). Mau tolak tapi apa boleh buat, suara lambung yang bersembunyi di balik perut pun tak dapat di hindarkan. Ada yang menarik, saat kami hendak makan ternyata di tempat KKN kaka feri semua berkumpul bersama membentuk lingkaran sembari berdoa bersama kepada Tuhan bersyukur atas nikmat yang di berikan sebelum menyantap makan malam tersebut berupa ikan, mie dan sayur.

Keindahan malam pada hari itu di dukung dengan cerahnya langit dengan bulan yang bersinar terang. Mulailah kami duduk santai ditemani suara hewan di sekitar beserta nyamuk yang lagi ganas-ganasnya.

Obet : Ado kawan, kalo sa duduk-duduk begini jadi ingat dulu kita sma sering bajalan
Feri : Ah itu lagi kawan

Cerita omong kosong perihal masa lalu memang tidak ada habisnya, masa muda yang di pakai dalam sebuah gejolak akan rasa penasaran dan ingin tahu yang begitu besar.

“Lalu, setelah ini kam mau buat apa?” langsung saja saya membuka sebuah diskusi. Kita tumbuh dan besar di kota Merauke ini, selama pengamatan saya hampir 4 bulan disini (karena sebelumnya kuliah sekitar 4 tahun di jawa) sepertinya semakin banyak kasus saja ee.

1.) Pembunuhan yang semakin marak, motif apa dari sang pembunuh sehingga dengan mudahnya mereka membacok orang-orang di jalan? (2 tahun belakangan ini kasus pembunuhan meningkat)

2.) Pengaruh Miras, karena miras mereka mabok. Mabok berarti tidak sadar diri yang berakibat pada pengerusakan barang maupun berujung ke pembunuhan. Apakah sudah ada penyelesaiannya? 
(Untuk miras, dalam kepemimpinan bupati merauke pak Freddy sekarang dilakukan penindakan tegas bagi pengedar “miras lokal”, namun tidak sejalan dengan “minuman kelas atas” yang saat ini semakin masif beredar)

3.) Pengaruh lem aibon, memang pas saya masih sma anak-anak yang aibon ini sudah ada. Tapi setelah lebih dari 4 tahun kenapa sekarang tetap ada dan bahkan bisa dibilang semakin banyak anak-anak suku dorang yang meminta uang untuk membeli.. aibon?

4.) Gerakan separatis, saya dengar-dengar juga ada beberapa kampung yang sudah mulai menebar isu dan bahkan mendiskusikan perihal OPM. Namun sekali sepertinya ini hanya beberapa oknum yang termakan isu tersebut. Apakah dengan berpisahnya papua dari indonesia akan menjamin keberlangsungan hidup mereka? Apakah sekarang dengan bersatu kepada NKRI hidup mereka masih tidak terjamin?

5.) Program “sawah satu juta hektar”, menjadikan Papua sebagai lumbung pangan (beras) dan energi untuk kepentingan ekspor, di tambah lagi dengan konflik sengit antara industri kelapa sawit dan masayarakat adat. Lalu, bagaimana dengan sagu sebagai makanan tradisional mereka? Hutan sebagai tempat perburuan dengan banyaknya beraneka ragam satwa? bagaimana pula ekonomi yang terjadi nanti?
(Link video “The Mahuzes” bisa dilihat di sini , beserta tulisan)

6.) Masih banyaknya anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis, hal ini saya lihat sendiri saat mengikuti kegiatan @meraukepintar , bahwa masih banyak anak-anak yang belum bisa membaca dan menulis. Apakah karena tidak adanya guru-guru pengajar? atau karena tidak adanya buku-buku bacaaan? Lantas kita mau salahkan siapa?

Jadi, kam mau buat apa?

.

.

.

kaka feri bagaimana? 
“Kalo secara pribadi sa sih mau jadikan diri sebagai contoh yang baik dulu” dengan begitu pasti dong akan liat “siapa yang bicara”. Maksudnya ya kalo macam kita-kita ini ajak dong ke gereja pasti ada saja alasannya untuk menolak. Ada sibuk inilah, itulah. Sa memang belum tau langkah pastinya bagaimana, cuma sa mau sa diri ini jadi contoh yang baik dulu. Apalagi selama sa kkn di sd negri 1 bokem ini anak-anak dong semangat belajar tinggi skali. Sekolah cuma satu jam saja, pulang sekolah mereka jala ikan atau bantu orang tua cari makan. Cuma memang pas kemarin kita yang kkn datang ke dong pu sekolah, sa lihat dong senang skali. Apalagi yang namanya belajar — curhat kaka fery.
Kalo ko obet?
“Kalo sa sih termotivasi dari bapa pastor di sa kampung”. Beliau mengajak anak-anak di sekitar untuk tidak lupa selalu ke gereja. Di gereja juga tidak hanya beribadah, namun juga diajarkan ilmu baru. Seperti cara menanam yang benar, yang nantinya mereka praktek di lingkungan mereka hasil dari pembelajaran di gereja tersebut. Juga bapa pastor mendorong anak-anak di sekitar kampung untuk ikut serta terjun dengan masyarakat. Misalkan kalau ada kerja bakti, maupun pelatihan di luar kota sehingga dorang banyak belajar. Harapannya tentu ilmu yang dong dapat di luar sana bisa di terapkan disini. Ujar obet yang akan menempuh pendidikan pastor di purworejo nanti.

.

.

.

Saya hanya bisa angguk-angguk. Senang karena teman-teman seperjuangan yang asli papua masih memiliki rasa peduli yang tinggi antar sesama. Setidaknya kaka feri dan obet sudah membuat sebuah rencana besar kedepannya, entah bagaiaman kelanjutannya semua tergantung dari usaha mereka dan takdir Tuhan.

Siapa tahu di masa depan salah satu dari mereka menjadi pemimpin di kota merauke? who knows

Gambar oleh Richard Mahuze, desa Tabonji Merauke
Gambar oleh Yohanes aditya
Obet (4 dari kiri) serta Feri (dua dari kanan)