Mereka yang berkeringat

“Jadi apa yang bapak harapkan setelah kejadian banjir ini?”

“Ya saya harap pemerintah lebih memperhatikan kitalah. Disini saluran airnya belum diperbaiki selama 10 tahun terakhir”

“Jadi apa yang ibu harapkan atas rusaknya jalan di kampung ibu?”

“Ya saya harap pemerintah lebih memperhatikan rakyat kecil ya. Pembangunan jangan hanya ada di kota-kota besar saja. Gedung bertingkat dibangun di Jakarta tapi kampung kami jalannya masih rusak”

“Jadi apa komentar ibu/bapak?…….”

“Saya harap pemerintah…………”

……….

……….

________________________________________________

|……………………………………………………………..|

|…. Jalan ini tidak pernah diperhatikan pemerintah…. |

|……. Sudah berlubang sejak sebelum merdeka ………|

|_______________________________________________|

| |

| |

| |

| |

Kejadian berikut sering sekali saya temui. Terlampau sering. Ada persasaan yang tak enak setiap mendengar kata-kata tersebut. Awalnya memang tak masalah, namun belakangan saya menyadari bahwa yang demikian adalah keliru. Bukan apa, perkataan yang demikian terlalu pesimistis. Sekaan menggantukan perubahan pada orang lain. Seakan dirinya sendiri sudah menyerah untuk mendapatkan perubahan, menunggu orang lain untuk merubah. Letak masalahnya bukanlah pada masyarakat yang cenderung menunggu, yang mengatakan bahwa perubahan ada pada pemerintah, yang meminta perubahan pada pemerintah. Saya lebih memandang masyarakat yang mengucapkan demikian adalah sebagai korban. Korban dari ketidak pedulian media massa.

Media massa adalah akses informasi masyarakat. Tanpa media, masyarakat buta. Tidak dapat dipungkiri, opini media berpengaruh sangat besar terhadap opini rakyat. Lebih spesifik, bukan opini anda, tuan pembaca, tapi mereka yang tidak mendapatkan cukup informasi. Hanya televisi dan radio. Koran tidak. Anda cukup beruntung karena dapat mengakses informasi. Setidaknya anda dapat membuka laman ini, yang mana berarti anda mempunyai cukup akses informasi. Ketika mendapatkan informasi, anda punya “tools” untuk memverifikasi keabsahan dari berita. Anda dapat memperoleh informasi sebanyak yang anda butuhkan untuk memverifikasi keabsahan berita. Anda bukan orang yang buta lagi. Bahkan mata anda bukan hanya dua. Banyak!

Hemat saya, media haruslah memikiki peran dalam membentuk pola pikir masyarakat yang kritis dan konstruktif. Namun, yang saya lihat adalah media membentuk pola pikir masyarakat yang sebaliknya: pasif dan destruktif. They whip the news in order to get tons of viewer, in other words, tons of money. Konten dari berita kurang jelas dan memang tak jelas. Penyiaran berita dipilih dahulu. Jika menguntungkan, siarkan. Menguntungkan untuk siapa? Barangkali untuk pemiliknya yang sedang berkendara politik. Barangkali tuan pembaca jarang-jarang menemukan berita tentang korupsi partai tertentu di saluran televisi tertentu. Atau, saluran televisi tertentu menyatakan anu, dan saluran televisi lainnya menyatakan ani. Jikalau tuan pembaca masih ingat, pada pemilihan umum presiden 2014 kemarin, saluran televisi tertentu menyatakan pasangan calon anu unggul namun saluran televisi lainnya menyatakan calon ani yang unggul. Lembaga survey yang digunakan untuk dasar perhitungan suara tentu dipilih sedemikian rupa. Menurut hemat saya, hal yang seperti ini adalah destruktif. Saling adu pendapat. Namun hanya pada circulo en infinitio. Mencari ujung lingkaran pada sarung. Yang saya sayangkan tentunya karena banyak pendapat yang bersifat destruktif. Yang paling parah adalah: “Kalau saya tak bisa menang, Jatuhkan saja lawan saya.” Ad Hominem.

Tentu tak hanya berita. Acara televisi juga memberikan dampak yang signifikan. Sinema Elektronik (Sinetron). Betapa acara ini mempengaruhi pola pikir masyarakat. Jalan ceritanya tak jauh: si wanita yang malang konflik dengan pria kaya raya, yang kemudian menjadi akrab dan lalu mereka hidup bersama (bahagia). Atau terkadang sebaliknya, pria yang malang yang bertemu dengan wanita kaya raya dengan hasil akhir sama: mereka berdua hidup bahagia. Tanpa ada sulit. Kerja keras yang minim. Sukses dalam kurang dari dua minggu. Satu per seratus juta kejadian. Tentu tuan pembaca sudah menebak: Yang demikian membentuk pola pikir yang pesimistis.

Dua pola pikir diatas cukup mematikan akal, fatal. Pesimistis dan destruktif adalah yang sebaiknya dihindari. Namun sayangnya, kita dibimbing pada pola pikir yang demikian.

“Bahkan Tuhan tak akan merubah suatu kaum yang tidak berusaha”

Pokok masalah yang saya bawa sudah saya kemukakan diawal, bahwa pola pikir yang demikian tidaklah sehat. Mereka yang memiiki pola pikir demikian seakan tidak memiiki kuasa untuk perubahan diri sendiri dan sekitarnya. Padahal, manusia adalah makhluk yang berfikir, yang dapat menemukan jalan keluar untuk setiap masalah. Bahkan Tuhan tak ingin mengubah kaum yang tidak berusaha, yang tidak menginginkan suatu ke arah kebaikan. Kalau tuan pembaca berkenan, saya akan ceritakan pengalaman yang saya lihat dan rasakan sendiri, yang saya belajar banyak dari mereka.

Pertengahan tahun 2014 serta peretengahan tahun 2015 saya berada pada daerah yang cukup terisolir. Saya ambil satu saja: pertengahan tahun 2015. Sekitar 500–600 km dari Ibukota. Tak jauh memang, tapi cukup terisolir. Sinyal telepon genggam pun ragu untuk masuk. Listrik hanya seadanya. Satu kWh meter untuk satu kampung. Itupun dari kampung sebelah. 30 menit menuju sekolah terdekat. Jalan kaki. Tak lain karena jalan tidak memadai untuk kendaaraan bermotor. Bisa namun sulit. Televisi hanya ada satu-dua untuk satu kampung. Itupun nyala dengan syarat: seluruh rumah mematikan lampunya dulu. Selebihnya hanya menjadi pajangan yang menandakan si empunya adalah orang yang lebih beruntung secara finansial. Hampir semua penduduk adalah buruh. Buruh tani dan buruh angkut kayu. Satu-dua orang membuka warung. Warung kelontong atau warung bensin (Pom bensin terdekat berjarak satu jam lima belas menit perjalanan — paling cepat). Beberapa yang mempunyai kendaraan dan handal dalam mengemudi, menjadi tukang ojeg. Namun semuanya sama: pendapatan sangat jauh dibawah UMR. Jauh sekali. Oleh karenanya, pemuda banyak yang pergi merantau untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik. Tanpa keahlian khusus tentunya.

Yang menarik adalah, kemauan untuk berubah dari masyarakat yang tinggi. Kemauan untuk berubah menjadi lebih baik. Beberapa infrastruktur mereka lakukan secara swadaya. Suatu saat, kampung tersebut mendapatkan bantuan dana dari pemerintah untuk membuat jalan. Anggaran yang diberikan memang tidak banyak. Namun mereka berinisiatif: tak usah memakai tukang, dan meterial yang bisa didapatkan di sekitar wilayah mereka tak usah dibeli. Kebetulan letak kampung tak jauh dari kali. Dari kali dapat diambil batu untuk dijadikan batu split. Dengan demikian diharapkan dengan dana yang sedikit itu, dapat dibangun jalan yang lebih panjang dari rencana awal. Mereka tidak berpangku tangan, mereka berusaha untuk membuat perubahan. Padahal, jika mereka tidak bekerja pada hari itu, maka mereka tidak akan mendapatkan upah. Artinya, pada hari itu mereka akan kekurangan makanan atau bahkan tidak makan sama sekali (kecuali diberi). Untuk itu, mereka membuat shift. Siapa bekerja pada hari apa. Bergantian. Setiap orang secara bergantian turun ke sungai untuk mengambil batu yang cukup besar. Mereka ambil lalu dipukul secara berulang hingga pecah menjadi batu yang lebih kecil. Kemudian mereka letakan batu batu itu di sepanjang jalan. Mereka perbaiki sendiri. Tidak mulus memang. Jalan dipenuhi batu-batu yang saling susun. Tapi setidaknya jalan sudah bisa dilalui setelah hujan (karena sebelumnya ketika hujan jalan menjadi licin sehingga sangat sulit atau bahkan tidak mungkin dilalui). Mereka berusaha, tidak berpangku tangan.

Di kampung yang lain yang lebih baik kondisinya, kami menemukan jembatan yang sudah cukup berbahaya. Pondasi jembatan telah retak serta struktur baja telah berkarat sehingga terdapat lubang. Kami berencana untuk memperbaiki jembatan tersebut. Kebetulan kami bekerja sama dengan TNI-AD. Jembatan memang tidak terlampau panjang, kira-kira 15 meter. Namun, dengan kalkulasi sederhana, anggaran yang kami punya jauh dibawah anggaran yang seharusnya dibutuhkan untuk perbaikan jembatan. Dan rupa-rupanya pihak TNI-AD hanya dapat menyediakan tenaga untuk waktu 6 hari. Dengan inisiatif, perangkat desa berjanji untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya warga. Benar saja, pada 6 hari eksekusi, warga dari 3 kampung berkumpul. Pria dan wanita. Bahu membahu untuk mengerjakan perbaikan jembatan. Tanpa dibayar. Tidak ada status sosial. Kepala desa, kepala dusun, warga biasa bahu membahu. Berkotor kotor. Mengangkat 8 buah struktur baja yang masing masingnya memiliki berat 400kg. Hal yang sama terjadi pada pembangunan madrasah dan fasilitas MCK. Mereka tidak berpangku tangan.

Saya banyak belajar dari pengalaman tersebut. Tidak ada egoisme untuk mengatakan pelajaran dapat diambil dari dua sisi. Kami yang memiliki kehidupan yang lebih beruntung belajar dari mereka yang memiliki kehidupan yang tidak seberuntung kami. Begitu pula sebaliknya.

Saya menulis karena saya gelisah. Gelisah oleh karena perilaku media yang saya pikir terlampau membentuk pola pikir masyarakat menuju pola pikir yang pasif dan destruktif. Saya berharap, media sangat besar pengaruhnya terhadap pola pikir serta opini masyarakat.

Bandung, 20 November 2016.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.