Si Kaki Kecil

40 Menit

Jalan Kaki

Lewat Lumpur

Tanjakan

Turunan

Kalau hujan

Tak Sekolah

40 menit adalah waktu yang dibutuhkan anak anak kampung itu ke sekolah terdekat. Itupun kalau kalau tidak hujan. Kalau hujan? Tak sekolah. Bagaimana bisa sekolah kalau jalannya saja tidak ada. Bukan tidak ada sebetulnya, namun ketika hujan jalan berubah menjadi lumpur hisap. Sungguh. Saya pernah coba.

Ketika itu sekira pukul 3 sore saya sedang membaca “Anak Semua Bangsa” nya nabi kesusastraan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Kebetulan buku ke 2 dari tetralogi pulau buru. Setengah buku sudah berada pada sisi kiri tangan. Solihin namanya, murid kelas 3 atau 4 SD belum lagi saya ingat. Tetiba itu muncul di gendongan punggung.

“Lagi baca buku apa kak?” tanya lugu

“Ini, novel. Kamu mau baca ini?”

“Engga mau……….. Itu udah dibaca segitu?” sambil dibolak baliknya kertas buku itu. Kemudian agak lama matanya nanar di sampul buku yang sungguh sederhana.

“Iya udah segitu. Habis asik ceritanya asik.”

“Kok bisa sih kak baca segitu banyak? Berapa hari bacanya?” Matanya masih belum mau menatap mataku. Hanya melihat kebawah.

“Seminggu mungkin. Lupa juga. Mau baca buku lain yang tipis? Saya bawa buku beberapa”

“Engga mau” jawabnya singkat

“Kenapa ngga mau?”

“Aku ngga bisa baca kak”

Ya. Kelas 4 SD. Belum bisa baca. Tapi naik kelas. Bukan apa. Gurunya pun tak punya banyak pilihan sebetulnya. Karena memang itu satu satunya pilihan logis. Begini, kalau anak itu tak naik kelas, maka mulai besok si anak tak akan lagi muncul di sekolah. Buat apa pula saya sekolah kalau bakalnya tidak naik kelas. Toh saya memang ke sekolah hanya untuk bertemu teman teman. Kalau saya tinggal kelas, bagaimana pula saya bisa main sama teman saya yang naik kelas. Orangtuanya pun setuju. Sebagian orang tua memang berkeberatan menyekolahkan anaknya. Bukan apa memang. Selain si anak yang minta uang jajan saban berangkat karena sekolah memang jauh, di rumah jadi tak ada teman. Padahal, keuangan orang tua juga tak banyak. Memang sekolah gratis, tapi uang jajan si murid memangnya kena subsidi pemerintah? Orang tua juga yang tanggung.

Dalam kesempatan lain, saya sempat bertanya pada guru SD daerah terpencil. Memang hanya tiga aspek yang dituju oleh guru ketika si murid lulus SD: membaca dan menulis, berhitung, serta dasar agama yang kuat. Ya. Tak heran memang kalau lulusan sekolah dasar disana sangat kurang wawasan umum. Sampai suatu saat kami bercanda “Di SD anu gambar presidennya masih Gus Dur”. Salahkan saja pemerintah karena tidak memberi subsidi uang jajan kepada si murid.

Sore. Pukul 16. Matahari sedang tanggung, tidak lagi panas tapi masih menyala terang. Sungguh sinar matahari sore di kota dan di pelosok berbeda.

Ketika itu kami sudah selesai main. Mainan yang diada adakan sebetulnya. Tali seadanya, kerupuk maka berlombalah makan kerupuk. Tepung terigu dan koin lima ratusan, maka berlombalah kami mengumpulkan koin dari tepung terigu. Yang sudah diacak acak tentunya agar sulit ditemukan. Dengan mulut, bukan dengan tangan. Kejadiannya sudah lama betul maka saya tidak bisa ingat dengan jelas siapa juara dari masing masing kategori. Rasanya yang paling besar.

Dipanggillah satu satu ke depan. Kira kira semuanya anak SD. Dari kelas satu sampai kelas enam. Satu anak kemudian menyusul lainnya. Kami tanya pertanyaan yang sama: “Cita-cita kamu apa?”

“Saya ingin menjadi Ustad”

“Saya ingin menjadi Ustad”

“Saya ingin menjadi Ustadzah” memang yang satu ini perempuan.

“Saya ingin menjadi Ustad”

Jawaban yang sama kembali muncul berulang kali. Hanya ada dua jawaban berbeda : “Saya ingin menjadi dokter” dan “Saya ingin menjadi guru”.

Saya sadar, mereka memang belum banyak tau atau bahkan belum tau sama sekali dengan dunia luar. Yang mereka tau hanyalah apa yang ada pada kampung mereka. Mereka tidak banyak tau tentang profesi. Oleh karena satu dan lain hal tidak ada satupun dari mereka yang menginginkan jadi petani, maka hanya ada 3 jawaban : ustad/ustadzah, dokter, guru. Mereka tau dokter pun karena memang dokter umum beberapa kali berkunjung ke kampung mereka. Ya berkunjung karena bahkan puskesmas pun jauh sekali dari kampung mereka. Jangankan dokter.

Pada kesempatan lain, ketika saya sedang duduk santai dengan mereka menikmati lembah, saya yang ditanya balik oleh mereka dengan pertanyaan yang sama:

“Kakak cita-citanya mau jadi apa?” Saya mati kutu. Bukan karena jawaban saya ingin jadi ustad juga. Selain sudah begini besar makin bingung dengan cita cita, memang agak sulit mendeskripsikan profesi terkait agar mereka paham. Sekenanya, saya jawab:

“Insinyur” Sebuah kata yang sudah saya dengar sejak kecil, dan sangat umum. Rupanya bukanlah kata yang umum untuk mereka. Demikianlah saya mengambil analogi untuk mempermudah pemahaman mereka.

Cita-cita. Menurut saya adalah hal yang cukup fundamental untuk anak. Selain bahan untuk berkomunikasi dengan yang lebih tua, cita-cita merupakan bahan untuk si anak tetap semangat belajar. Namun, mereka belumlah mempunyai cita-cita yang beragam. Bukan. Bukanlah cita-cita untuk menjadi ustad yang salah, melainkan mengindikasikan kekurangan informasi. Setiap anak perlu untuk diberikan wawasan tentang dunia luar, atau dunia luar yang akan memberikan wawasan untuk mereka. Yang belakangan ini kadang tidak baik. Dunia luar dapat berbuat semena mena, karena mereka tidak tau apa apa. Jadi buruh dengan upah minim misalnya. Jadi preman karena tidak punya keahlian dan mata pencaharian misalnya. Dapat saja mereka ke kota besar lalu menjadi preman agar tetap hidup. Jangan. Jangan salahkan mereka. Mereka bukan kriminal pada dasarnya, mereka adalah korban. Korban dari ketidakpedulian mereka yang telah terdidik dan mendapatkan pendidikan yang layak untuk membagikan sebagian ilmunya kepada mereka. Bukan. Ini bukan salah pemerintah yang tidak memberikan subsidi uang jajan untuk si murid agar mereka dapat nyaman pergi ke sekolah yang 40 menit jauhnya. Ini adalah tanggung jawab kaum terdidik untuk mendidik mereka yang belum terdidik.

Saya ngantuk. Saya lanjut kemudian. Bisa diedit kan?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.