Abis boker, keknya enak nih garap skripsi

Relax, you’ll graduate, you’ll get a job, you’ll become an adult, you’ll find someone who loves you. You have an entire life. It takes time.

Setiap kali kita bertemu dengan para mahasiswa korban perang yang notabene usianya sudah uzur, atau biasa mahasiswa abadi sudah menjadi sebuah tradisi kalau satu sama lainnya akan menanyakan hal-hal seperti

“Kapan sidang?
“Kapan ke gedung sudarto?”
“Kapan nyobain toga bosque? Wkwkwk”

Yap, Akupun melakukannya hampir setiap kali bertemu teman entah dikosan, kampus atau saat sebelahan di wc umumpun terkadang aku bertanya

“Abis boker, keknya enak nih garap skripsi”

Begitulah keadaanya, yang namanya waktu memang sangatlah berharga dan tak ternilai. Mereka yang menunggu datangnya waktu yang tepat adalah mereka yang sebenarnya menunggu sebuah jawaban dari semua pertanyaan dari kekhawatirannya setiap harinya.

Lulus kuliah saat berumur muda memang memberikan lebih banyak opsi dalam mencoba, entah bekerja ataupun melanjutkan study semua hal bisa kita coba.

Akan tetapi, apakah patokan dasar dari semua hal ini hanyalah sebuah kelulusan?

Mencoba dan mencoba bukanlah hal yang aneh, karena itu memang sudah seharusnya kita lakukan setiap hari, kita berlomba dengan waktu, bukan dengan hanya sebuah kelulusan. Jika kita berbicara tentang manfaat dari “mencoba” jelas jawabannya adalah sebuah kalimat bernama “pengalaman” . Hal inilah yang membedakan seorang petani padi yang sudah bertani selama 15 tahun dengan seorang sarjana pertanian dengan pengalaman bertani hanya 1,5 tahun.

Pertanyaannya, mana yang lebih berpengalaman dengan waktu?

Petani tua itu mungkin hanya menanam padi di satu lahan mereka, setahun hanya dua kali, jika kita hitung dia hanya memiliki pengalaman dalam bercocok tanam sebanyak 30 kali masa tanam selama hidupnya. Sedangkan seorang sarjana yang baru lulus itu, sudah membidangi 4 tempat lahan berbeda, dengan 5 komoditas yang berbeda dan melakukan percobaan sebanyak 3 kali disetiap masa tanamnya. Jika kita hitung, ia sudah memiliki pengalaman sebanyak 90 kali masa tanam hanya dalam kurun waktu 1,5 tahun.

Seperti halnya beberapa bulan yang lalu, Pak Agus menceritakan kisah hidupnya yang sudah lebih dari 15 tahun dia habiskan hanya untuk berjualan angkringan. 15 tahun berjualan angkringan di ujung jalan dekat perempatan itu, lalu apakah Pak Agus sudah menyia-nyiakan waktunya selama 15 tahun?

Apakah dia tidak pernah berpikir untuk mencoba hal lain? Jawaban nya, tidak.

Semua hal yang dia lakukan, dia menikmatinya meskipun hanya sekedar berjualan angkringan. Baginya, ini adalah sebuah hal dasar untuk membantu para pelajar mencari sumber gizi terbaik saat sedang belajar, pelarian para pekerja kantoran yang mungkin sedang bingung akan THRnya dan beberapa tukang becak yang sudah tidak dianggap di zaman ini. Momen-momen dimana semua waktumu kamu gunakan dengan semestinya, karena waktu tidak pernah berjalan mundur. Seperti kata seorang gila yang bernama Kurt Cobain.

Because, time you enjoy wasting, It’s not wasting time.

Begitulah, nikmati waktumu.

MACJ.

Like what you read? Give Mohammad Arkham Chadiar Jantra a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.